BANYUWANGI,Beritalima.com – Dentuman sound horeg selama ini lekat dengan musik keras dan kemeriahan di tengah kerumunan warga. Namun, pemandangan berbeda tersaji dalam Kirab Budaya Sound Horeg Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi.
Sebanyak 18 peserta yang mengikuti kirab tidak hanya mempertontonkan kekuatan sound system. Mereka membawa konsep yang jauh lebih berwarna, mulai dari cerita sejarah, legenda tanah Jawa, kostum kolosal, properti, aransemen musik hingga tata cahaya yang dipadukan menjadi sebuah pertunjukan berjalan.
Kirab digelar pada Sabtu (08/08/2026), dimulai sekitar pukul 16.00 WIB. Sejak rombongan bergerak, masyarakat tampak antusias menyaksikan peserta yang tampil dengan berbagai konsep. Cuaca yang bersahabat tanpa hujan membuat seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, kondusif dan dapat berjalan hingga selesai.
Yang menarik, sejumlah peserta memilih mengangkat cerita yang sudah dikenal dalam sejarah dan legenda masyarakat Jawa. Salah satunya adalah kisah Bandung Bondowoso dan legenda Candi Sewu, termasuk cerita tentang pembangunan candi yang dalam legenda dikisahkan dilakukan hanya dalam waktu satu malam.
Cerita tersebut tidak hanya dibacakan. Para peserta berusaha menghidupkan melalui karakter tokoh, kostum, gerakan pemain, properti serta musik yang disusun mengikuti suasana adegan.
Ketika adegan mulai memasuki bagian tertentu, dentuman sound system pun menjadi bagian dari pertunjukan. Musik yang menggema berpadu dengan lighting, membuat suasana yang sebelumnya hanya berada dalam cerita seolah hadir di hadapan penonton.
Tidak hanya kisah Bandung Bondowoso dan Candi Sewu, cerita tentang asal-usul Warok Ponorogo juga menjadi salah satu warna dalam pertunjukan. Karakter para tokoh ditampilkan dengan kostum dan gaya kolosal, menciptakan pemandangan yang berbeda dari karnaval pada umumnya.
Jalanan Desa Tampo seakan berubah menjadi panggung budaya terbuka. Bedanya, panggung kali ini bergerak bersama iring-iringan sound horeg.
Kepala Desa Tampo, Hasim Ashari, mengapresiasi kreativitas seluruh peserta yang telah mempersiapkan penampilan masing-masing.
Menurut Hasim, keberadaan sound horeg dalam kegiatan tersebut jangan hanya dilihat dari sisi suara atau kemeriahannya. Di balik setiap peserta terdapat proses persiapan, kreativitas dan upaya menghadirkan tontonan yang berbeda untuk masyarakat.
“Ini bukan hanya soal sound-nya. Teman-teman peserta juga menampilkan kreativitas, mulai dari kostum, cerita, musik sampai pertunjukan. Semua berusaha memberikan yang terbaik,” ujar Hasim.
Hasim berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati hiburan sekaligus mengenal kembali berbagai cerita dan budaya yang berkembang di tanah Jawa.
“Yang penting kegiatan berjalan lancar, masyarakat bahagia dan semuanya tetap menjaga ketertiban serta keselamatan,” tambahnya.
Menurutnya, keberhasilan acara bukan hanya diukur dari kemeriahan, tetapi juga dari bagaimana seluruh peserta dan penonton dapat menikmati kegiatan dengan aman dan nyaman.
Sementara itu, salah satu panitia, Sulis, mengatakan konsep yang dihadirkan dalam kirab memang sengaja dibuat tidak monoton.
Menurut Sulis, panitia memberikan ruang kepada peserta untuk menampilkan kreativitas masing-masing. Karena itu, setiap sound tidak hanya datang membawa perangkat audio, tetapi juga membawa konsep pertunjukan.
“Kami ingin peserta tidak hanya menampilkan sound, tetapi juga punya cerita. Ada sejarah, ada legenda, ada budaya yang dikemas dengan kreasi masa sekarang,” kata Sulis.
Ia menjelaskan, persiapan setiap peserta tentu membutuhkan waktu dan biaya. Kostum, properti, pemain, musik hingga tata cahaya menjadi bagian yang harus dipersiapkan sebelum tampil di hadapan masyarakat.
“Yang terlihat masyarakat mungkin hanya beberapa menit saat tampil. Tetapi di belakang itu ada persiapan yang panjang. Kami sangat mengapresiasi peserta yang sudah memberikan penampilan terbaiknya,” ujarnya.
Bagi Sulis, menggabungkan sound system dengan cerita budaya merupakan salah satu cara agar generasi sekarang tetap tertarik dengan kisah-kisah lama.
“Kalau cerita sejarah dan legenda hanya disampaikan dengan cara biasa, mungkin anak-anak muda kurang tertarik. Tetapi kalau dikemas dengan musik, kostum dan pertunjukan seperti ini, ceritanya menjadi lebih hidup,” tambahnya.

Ketika Jalan Desa Menjadi Panggung Budaya
Kehadiran 18 sound dalam kirab tersebut akhirnya melahirkan sebuah pemandangan yang berbeda.
Di satu sisi, suara sound horeg menggema dan menjadi magnet kerumunan. Namun di sisi lain, para pemain tampil membawa karakter dan cerita yang memiliki akar budaya.
Bandung Bondowoso, Candi Sewu hingga Warok Ponorogo tidak lagi hanya menjadi nama yang tersimpan dalam buku atau cerita turun-temurun. Di Desa Tampo, kisah-kisah tersebut kembali dimainkan melalui bahasa visual dan musik yang lebih dekat dengan selera masyarakat masa kini.
Inilah yang membuat Kirab Budaya Sound Horeg Desa Tampo memiliki warna tersendiri.
Sound-nya menggema, kostumnya berbicara, musiknya membangun suasana, sementara cerita sejarah menjadi ruh dari pertunjukan.
Dan selama beberapa jam, jalanan Desa Tampo bukan sekedar jalur kirab. Ia berubah menjadi panggung kolosal tempat legenda tanah Jawa kembali hidup di tengah masyarakat. (Rony//B5)







