Aksi Performer 5 Pemuda Curi Perhatian di Tengah Dentuman Sound Horeg Tampo

  • Whatsapp
Foto: Lima orang menjadi pusat perhatian penonton, mereka undang sound horeg hanya berlima. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Di balik kemeriahan Kirab Budaya Sound Horeg Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, tersimpan cerita menarik tentang bagaimana para pemuda mengumpulkan biaya untuk bisa tampil.

Menghadirkan satu unit sound horeg bukan perkara murah. Biaya yang harus dikeluarkan bisa mencapai puluhan juta rupiah, terlebih ketika penampilan tidak hanya mengandalkan perangkat sound, tetapi juga membutuhkan kostum, properti, pemain, aransemen musik hingga tata cahaya.

Bacaan Lainnya

Di tengah kondisi tersebut, setiap kelompok memiliki cara masing-masing untuk membiayai penampilannya.

Ada kelompok yang memilih sistem iuran. Misalnya, sebuah grup beranggotakan sekitar 50 hingga 100 orang memiliki target biaya mencapai Rp50 juta. Agar tidak terlalu membebani satu orang, kebutuhan tersebut kemudian dibagi kepada seluruh anggota.

Iuran dilakukan secara berkala, bahkan ada yang menerapkan sistem sebulan sekali selama satu tahun. Dengan cara tersebut, biaya yang cukup besar terasa lebih ringan karena ditanggung bersama.

Model patungan itu sekaligus memperlihatkan bahwa di balik sebuah sound horeg terdapat semangat gotong royong para anggotanya.

Namun, ada pemandangan berbeda dalam kirab Desa Tampo. Jika sebagian kelompok datang dengan puluhan anggota dan mengandalkan konsep drama kolosal, kostum serta ciri khas joget sound horeg, ada satu grup yang justru tampil dengan komposisi sangat sederhana hanya lima orang.

Kelima orang tersebut disewa secara khusus untuk menjadi bagian dari penampilan grup sound horeg. Meski jumlahnya sedikit, kehadiran mereka justru mampu mencuri perhatian penonton.

Gerakan dan penampilan mereka menjadi magnet tersendiri. Ketika sound mulai dimainkan, kelima performer tersebut tampil mengikuti irama dan membangun suasana di depan penonton.

Konsep tersebut menjadi pembeda dibanding kelompok lain yang menampilkan drama kolosal dengan banyak pemain.

Di satu sisi, ada rombongan yang membawa karakter Bandung Bondowoso, Candi Sewu hingga kisah Warok Ponorogo. Di sisi lain, ada kelompok yang memilih kekuatan performa dan aksi panggung sebagai identitas mereka.

Bagi penonton, perbedaan konsep tersebut justru membuat kirab menjadi semakin berwarna.

Andi, salah seorang pengunjung, mengaku cukup kagum melihat bagaimana para peserta mampu mengeluarkan biaya besar demi menghadirkan hiburan kepada masyarakat.

“Kalau melihat seperti ini, pasti iurannya lumayan banyak. Tetapi saya salut, apalagi anak-anaknya masih muda-muda,” ujar Andi.

Menurutnya, hal yang menarik bukan hanya sound yang digunakan, tetapi semangat para pemuda untuk berkumpul, patungan dan menghasilkan sebuah pertunjukan.

Ia melihat kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak muda untuk menyalurkan kreativitas sekaligus membangun kekompakan.

“Kalau dikerjakan sendiri mungkin berat. Tetapi kalau bersama-sama, akhirnya bisa tampil seperti ini. Yang penting mereka kompak dan kegiatannya positif,” tambahnya. (Rony//B5)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait