BANYUWANGI,Beritalima.com – Ada saja tingkah lucu anak-anak saat memerankan drama kolosal tentang kehidupan petani dalam rangkaian karnaval budaya HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi.
Mengusung tema “Harmoni Hasil Bumi dan Budaya”, para siswa tidak hanya tampil dengan kostum menarik dan gerakan tari yang kompak. Mereka juga berani memainkan drama yang menggambarkan kehidupan petani, mulai dari aktivitas di sawah hingga perjuangan menghasilkan bahan pangan.
Aksi polos anak-anak justru menjadi daya tarik tersendiri. Ada yang bergaya layaknya petani sungguhan, ada yang membawa perlengkapan pertanian, hingga ekspresi wajah yang terkadang membuat penonton tertawa.

Meski terlihat lucu dan menggemaskan, penampilan tersebut menyimpan pesan yang cukup serius. Anak-anak ingin menyampaikan bahwa hasil bumi yang dinikmati masyarakat merupakan buah dari kerja keras para petani.
Di tengah pertunjukan, tingkah mereka yang spontan membuat suasana semakin meriah. Penonton yang menyaksikan dari pinggir jalan maupun di sekitar panggung kehormatan beberapa kali dibuat tertawa oleh ekspresi dan gaya anak-anak ketika memainkan perannya.
Seorang warga yang menyaksikan, Suban, mengaku terhibur melihat penampilan tersebut.
“Lucu-lucu, mereka kompak dan bersemangat. Walaupun masih anak-anak, ternyata bisa memainkan drama seperti itu. Yang melihat jadi ikut senang,” ujar Suban.
Menurutnya, kegiatan semacam itu sangat positif karena anak-anak tidak hanya diajak tampil, tetapi juga belajar mengenal kehidupan masyarakat desa, khususnya perjuangan para petani.
“Pesannya juga bagus. Mereka mengenalkan kepada kita semua bahwa petani itu punya peran penting. Jadi selain menghibur, ada pelajaran yang disampaikan,” tambahnya.

Kepala Desa: Bukan Sekadar Lucu, Ada Pesan untuk Generasi Muda
Kepala Desa Wringinagung, Kondang, mengapresiasi kreativitas para siswa yang mampu mengemas kehidupan petani menjadi sebuah pertunjukan yang menghibur sekaligus edukatif.
Menurutnya, tingkah lucu anak-anak justru menjadi bagian dari daya tarik pertunjukan. Namun di balik kelucuan tersebut terdapat pesan penting yang ingin ditanamkan kepada generasi muda.
“Kami sangat mengapresiasi kreativitas anak-anak. Mereka tampil dengan penuh semangat, kompak dan berani. Memang ada bagian-bagian yang membuat penonton tertawa, tetapi justru itu yang membuat pertunjukan menjadi hidup,” kata Kondang.
Ia menjelaskan, melalui drama kolosal tersebut anak-anak dikenalkan dengan kehidupan petani dan pentingnya menjaga ketahanan pangan.
“Tema kita adalah ‘Harmoni Hasil Bumi dan Budaya’. Jadi kami ingin anak-anak memahami bahwa hasil bumi yang kita nikmati hari ini ada perjuangan para petani di dalamnya. Jangan sampai generasi muda hanya menikmati hasilnya, tetapi tidak mengetahui bagaimana proses dan perjuangannya,” jelasnya.
Kondang berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pengalaman berharga bagi para siswa. Selain melatih keberanian tampil di depan umum, kegiatan itu juga mengajarkan kekompakan, gotong royong dan rasa menghargai pekerjaan orang lain.
“Yang paling penting adalah kebersamaan. Anak-anak belajar bekerja sama, orang tua ikut mendukung, guru membimbing dan masyarakat memberikan apresiasi. Ini yang ingin kita bangun dalam semangat kemerdekaan,” pungkasnya.

Drama kolosal kehidupan petani itu pun menjadi salah satu penampilan yang meninggalkan kesan bagi penonton. Kelucuan anak-anak berhasil mengundang tawa, sementara pesan tentang perjuangan petani membuat karnaval budaya Wringinagung semakin bermakna. (Rony//B5)







