Oleh: [Ferry Hamid]
Agustus kembali datang. Bagi Arek Malang, bulan ini selalu memiliki getaran yang berbeda. Kepala singa yang melekat di dada bukan sekadar logo klub sepak bola. Ia adalah identitas, persaudaraan, harga diri, sekaligus simbol karakter petarung yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tetapi ulang tahun Arema kali ini semestinya tidak hanya dirayakan dengan konvoi, pesta, atau nostalgia tentang kejayaan masa lalu. Bertambahnya usia seharusnya juga menjadi momentum untuk bertanya: sudah sedewasa apakah Arema dalam memperlakukan sejarah, suporter, korban, dan masa depannya sendiri? Sebab ada luka yang belum selesai.
Ada nama-nama yang tidak boleh hilang dari ingatan.
Ada 135 nyawa yang menjadi bagian dari sejarah kelam sepak bola Indonesia pada 1 Oktober 2022 di Kanjuruhan. Waktu boleh berjalan, kompetisi boleh berganti, pemain datang dan pergi, tetapi tragedi itu tidak boleh diperlakukan sebagai halaman yang bisa ditutup begitu saja.
Bagi keluarga korban dan banyak Aremania, persoalannya bukan semata tentang santunan. Bukan pula sekadar tentang bagaimana pertandingan kembali digelar dan kompetisi terus berjalan.
Yang lebih mendasar adalah keadilan dan pertanggungjawaban.
Karena itu, seruan “Usut Tuntas” tidak seharusnya dianggap sekadar suara tribun. Ia adalah pengingat bahwa sepak bola memiliki dimensi kemanusiaan. Di balik sorak-sorai stadion ada keluarga, ada anak-anak, ada orang tua, ada masa depan yang terputus dalam satu malam.
Arema sebagai institusi besar tentu tidak mungkin melepaskan diri dari tanggung jawab moral untuk terus merawat ingatan tersebut.
Jangan Jadikan Sejarah Sekadar Ornamen
Arema bukan hanya sebelas pemain yang bertanding selama 90 menit. Arema adalah ekosistem yang terdiri dari klub, pemain, manajemen, suporter, komunitas, dan masyarakat yang selama puluhan tahun membangun identitas bersama.
Karena itu, persoalan Arema tidak berhenti pada hasil pertandingan.
Dualisme, tarik-menarik kepentingan, persoalan tata kelola, hingga minimnya transparansi yang dirasakan sebagian suporter adalah pekerjaan rumah yang tidak boleh disapu ke bawah karpet hanya karena klub sedang mengejar prestasi.
Klub sebesar Arema membutuhkan tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel.
Sebab semakin besar sebuah institusi, semakin besar pula tanggung jawab moralnya.
Arema tidak cukup hanya menjadi klub yang ditakuti lawan di lapangan. Arema juga harus menjadi institusi yang dipercaya oleh suporternya sendiri.
Prestasi memang penting. Trofi tentu membanggakan. Tetapi kejayaan tidak boleh digunakan untuk menutupi problem yang belum selesai.
Aremania Harus Dewasa dalam Bersikap
Di sisi lain, perubahan tidak mungkin hanya dibebankan kepada manajemen.
Aremania juga harus berani bertransformasi.
Suporter tidak boleh berhenti menjadi massa yang memenuhi tribun ketika pertandingan berlangsung. Suporter harus tumbuh menjadi kekuatan masyarakat sipil yang kritis, terorganisasi, bermartabat, dan mampu menyampaikan aspirasi secara konstruktif.
Karena itu, lahirnya wadah baru dan sinergi organisasi suporter harus ditempatkan sebagai energi positif untuk memperkuat posisi Aremania. Termasuk sinergi dengan Presidium Aremania Utas, harus diarahkan pada satu tujuan: membangun kekuatan suporter yang terstruktur tanpa kehilangan karakter egaliter dan persaudaraan.
Aremania boleh kritis. Bahkan harus kritis.
Tetapi kritik harus tetap memiliki basis argumentasi, data, dan etika.
Suporter yang kuat bukan yang paling keras berteriak, melainkan yang mampu menjaga marwah perjuangannya.
Arema Harus Mendengar Suara Tribun
Pesan berikutnya sederhana tetapi penting untuk manajemen Arema FC: berikan prestasi terbaik, tetapi jangan pernah kehilangan hubungan dengan akar rumput.
Aremania ingin melihat Singo Edan kembali menjadi kekuatan yang disegani dalam kompetisi.
Namun prestasi tidak lahir hanya dari kualitas pemain dan pelatih. Ada ekosistem yang menopangnya. Salah satunya adalah suporter.
Karena itu, persoalan harga tiket juga layak menjadi perhatian serius.
Jangan sampai sepak bola semakin menjauh dari kelompok suporter yang selama ini menjadi denyut kehidupan klub. Harga tiket harus mempertimbangkan kemampuan ekonomi Aremania, khususnya kelompok akar rumput.
Sebab hubungan klub dan suporter bukan hubungan antara penjual dan pembeli semata.
Ada ikatan emosional di dalamnya.
Tribun yang penuh bukan sekadar angka dalam laporan penjualan tiket. Ia adalah energi, identitas, dan atmosfer yang membuat sebuah pertandingan sepak bola memiliki jiwa.
Prestasi akan terasa berbeda ketika dirayakan bersama tribun yang hidup.
Arema Masa Depan
Sudah waktunya Arema memasuki fase baru. Kita ingin melihat Singo Edan yang modern tetapi tidak kehilangan akar. Profesional tetapi tidak kehilangan rasa. Berprestasi tetapi tidak melupakan kemanusiaan.
Kita ingin Arema disegani karena kualitas permainan di lapangan, sekaligus dihormati karena tata kelolanya.
Kita ingin manajemennya transparan.
Kita ingin suporternya kritis tetapi dewasa.
Kita ingin klub dan Aremania menjadi mitra yang saling menguatkan, bukan dua pihak yang terus-menerus berhadapan.
Dan yang paling penting, kita tidak ingin sejarah Kanjuruhan menjadi sekadar angka dalam buku sejarah sepak bola Indonesia.
Merawat ingatan adalah bentuk penghormatan. Memperjuangkan keadilan adalah bentuk kemanusiaan. Dan membangun Arema yang lebih baik adalah bentuk tanggung jawab kita kepada masa depan.
Maka ketika Agustus kembali datang, mari kita tidak sekadar bertanya berapa usia Arema.
Mari bertanya, sudah seberapa dewasa kita mencintai Arema?
Selamat ulang tahun, Arema.
Teruslah menjadi Singo Edan yang berani di lapangan, dewasa dalam tata kelola, dan manusiawi dalam memperlakukan seluruh keluarga besarnya.
Salam Satu Jiwa.
Penulis adalah : Ferry Hamid seorang Kolumnis Isu Sosial-Politik, Pemerhati Kebijakan Publik, dan Walikota LIRA Malang








