Batu Karang dan Deru Waktu

  • Whatsapp
Batu Karang dan Deru Waktu (foto: abri)

Batu Karang dan Deru Waktu

 

Delapan puluh satu tahun Indonesia mengeja merdeka di atas peta dunia,

dan kita masih bernapas di sini,

menapakkan kaki di tanah sendiri dengan kesadaran utuh,

bukan sebagai tamu yang asing, melainkan pewaris sah yang menjaga warisan para pendahulu.

 

Namun hari-hari sering kali datang dengan taringnya yang tajam,

menguji sabar hingga ke batas tipis kerapuhan,

ketika asa berbenturan dengan kenyataan yang tidak selalu ramah,

dan sunyi malam terasa begitu panjang tanpa jawaban pasti.

 

Kita lelah, tentu saja,

sebagai manusia yang darahnya mengalirkan rasa,

ada kalanya ingin menyerah pada angin dan membiarkan diri hanyut,

namun sesuatu di dalam batin terus menolak untuk padam.

 

Itulah sisa api pahlawan yang dititipkan pada sumbu jiwa kita,

mengingatkan bahwa perjuangan belum benar-benar usai,

hanya saja medan perangnya telah bergeser ke dalam ruang-ruang kepala,

melawan rasa ingin menyerah dan rasa sepi yang mendera.

 

Maka lepaskan segala cemas yang mencengkeram erat,

biar tuhan yang atur labirin takdir yang membentang di depan sana,

tugas kita hari ini hanyalah terus bertempur menjaga kewarasan dan asa,

lalu menutup malam dengan syukur yang menyejukkan dada.

 

Sebab di bumi pertiwi ini, kita adalah bagian dari detak jantung zaman,

berjalan pulang dengan kepala tegak dan hati yang merdeka,

menemukan rumah yang tenang di dalam keikhlasan yang sempurna.

Catatan: Puisi ini dibuat oleh wartawan netra beritalima, abdul hadi, sebagai renungan esensi kemerdekaan Indonesia yang ke-81 melalui kacamata perjuangan mental sehari-hari, di mana keteguhan batin dan kepasrahan kepada Tuhan menjadi jangkar utama kehidupan

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait