BONDOWOSO, beritalima.com – Upaya memperkuat kemandirian ekonomi pesantren terus digencarkan di Kabupaten Bondowoso. Hal itu ditandai dengan pengukuhan Pengurus Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBITREN) Kabupaten Bondowoso dalam rangkaian Festival Muharram 1448 Hijriah x Road to Fesyar SAMARA (Semarak Ekonomi Syariah Sekarkijang).
Kegiatan yang merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Bank Indonesia Jember, dan sejumlah pemangku kepentingan tersebut menjadi momentum penting untuk memperluas pengembangan ekonomi syariah sekaligus memperkuat peran pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat.
Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid menegaskan bahwa pesantren memiliki posisi strategis dalam pembangunan daerah, tidak hanya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, tetapi juga sebagai pusat penguatan ekonomi umat.
Menurutnya, kehadiran HEBITREN diharapkan mampu menjadi wadah sinergi antar pesantren dalam mengembangkan usaha produktif, memperluas jaringan bisnis, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis ekonomi syariah.
“Ini bukan sekadar perayaan Tahun Baru Islam, melainkan ikhtiar bersama untuk memperkuat ekonomi masyarakat yang mandiri, inklusif, dan berkeadilan,” ujar Abdul Hamid Wahid.
Festival Muharram yang dipadukan dengan Road to Fesyar SAMARA juga menghadirkan berbagai program penguatan ekonomi syariah. Di antaranya penyerahan mock-up business matching pembiayaan syariah, penyerahan sertifikat halal kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta sertifikasi halal bagi Rumah Potong Hewan (RPH).
Program-program tersebut menjadi langkah nyata dalam memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha, sekaligus meningkatkan legalitas dan daya saing produk lokal agar mampu menembus pasar yang lebih luas.
Bupati menambahkan, pengembangan ekonomi syariah harus didukung oleh tiga pilar utama, yakni kemudahan akses pembiayaan, pendampingan usaha yang berkelanjutan, dan kepastian legalitas usaha. Dengan dukungan tersebut, UMKM di Bondowoso diharapkan semakin tumbuh dan mampu bersaing di tengah perkembangan ekonomi yang semakin dinamis.
Sementara itu, Ketua HEBITREN Jawa Timur KH Faiz AHZ menyampaikan bahwa pengukuhan HEBITREN Bondowoso merupakan langkah strategis dalam membangun kemandirian ekonomi pesantren sekaligus memperkuat peran pesantren sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
“Pengukuhan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi pesantren dan umat. Pesantren harus mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Melalui HEBITREN, kami berharap terbangun jaringan usaha yang kuat antar pesantren dan lahir pelaku-pelaku usaha syariah yang memberikan manfaat luas bagi kesejahteraan umat,” tegasnya.
Selain fokus pada penguatan ekonomi, Festival Muharram 1448 Hijriah juga menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah melalui kegiatan Tabligh Akbar yang dihadiri berbagai elemen masyarakat. Semangat hijrah yang menjadi makna Tahun Baru Islam diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi, kolaborasi, dan peluang usaha baru yang bermanfaat bagi kemajuan Bondowoso.
Melalui Festival Muharram dan pengukuhan HEBITREN, Bondowoso kembali menegaskan komitmennya dalam mengembangkan ekonomi syariah sebagai salah satu pilar pembangunan daerah sekaligus memperkuat kontribusi pesantren dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. (*/rois)








