BANYUWANGI,Beritalima.com – Ada saja tingkah unik warga saat menikmati kemeriahan Kirab Budaya Sound Horeg di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Jika biasanya seorang danser atau penari mendapatkan saweran berupa uang maupun makanan ringan, kali ini ada yang benar-benar di luar dugaan.
Momen tak biasa itu terjadi saat peserta nomor urut 04, Erwe Papat, dari Dusun Krajan, tampil dalam rangkaian Kirab Budaya Sound Horeg.
Saat para danser tengah tampil diiringi alunan musik dan dentuman sound system, seorang penonton tiba-tiba memberikan seekor anak kambing sebagai bentuk saweran.
Sontak saja, suasana di sekitar lokasi berubah menjadi gelak tawa. Penonton yang sebelumnya menikmati penampilan para danser mendadak dibuat penasaran sekaligus terhibur melihat saweran yang tidak biasa tersebut.
Bukan lembaran uang yang disodorkan, bukan pula snack atau bingkisan seperti yang lazim diberikan kepada danser.
Kali ini, seekor anak kambing naik kelas menjadi saweran. Seorang danser pun menerima pemberian tersebut dengan suasana penuh canda. Momen spontan itu menjadi salah satu pemandangan yang paling mudah diingat dari penampilan peserta nomor 04.
Seorang penonton, Warik, mengaku terhibur melihat kejadian tersebut.
“Ini unik dan bikin ketawa. Biasanya kalau danser disawer uang atau snack, ini malah dikasih anak kambing. Jarang-jarang ada seperti ini,” ujar Warik sambil ketawa.
Menurutnya, kejadian tersebut justru membuat suasana kirab semakin cair. Tidak ada kesan formal, semuanya berlangsung spontan dan menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat yang berada di sekitar lokasi.

Di balik saweran kambing tersebut ternyata ada cerita sederhana. Sutaji, pemilik anak kambing yang diberikan kepada seorang danser, mengatakan dirinya memang sengaja ingin memberikan sesuatu yang berbeda untuk memeriahkan kirab budaya.
Ia tidak bermaksud membuat suasana menjadi heboh. Baginya, yang terpenting adalah bisa ikut memberikan warna dan membuat orang lain tersenyum.
“Saya hanya ingin menghibur di kesempatan kirab budaya ini. Yang penting bahagia,” kata Sutaji.
Menurut Sutaji, memberikan anak kambing sebagai saweran merupakan spontanitas yang muncul dalam suasana kemeriahan acara. Ia justru senang ketika pemberiannya mampu membuat penonton tertawa dan menikmati momen tersebut.
“Kalau orang-orang bisa senang dan tertawa, saya juga ikut bahagia. Tidak perlu yang macam-macam, yang penting suasananya meriah,” imbuhnya.
Sutaji pun tidak menyangka saweran sederhana itu justru menjadi salah satu momen yang paling menarik perhatian penonton.
Peserta nomor urut 04, Erwe Papat, merupakan grup sound horeg dari Dusun Krajan. Penampilan mereka memang tidak mengusung drama kolosal seperti sejumlah peserta lainnya.
Namun, kesederhanaan tersebut tidak mengurangi semangat mereka dalam mengikuti kirab.
Erwe Papat tampil dengan tujuan utama ikut merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia melalui kegiatan Kirab Budaya Desa Tampo.
Di tengah 18 peserta yang mengikuti kirab, setiap grup memiliki gaya dan kreativitas masing-masing. Ada yang mengangkat cerita sejarah dan legenda tanah Jawa melalui drama kolosal, ada yang mengandalkan kostum serta tata cahaya, dan ada pula yang tampil sederhana namun justru melahirkan kejadian spontan yang sulit dilupakan.
Tidak perlu drama kolosal yang megah. Tidak perlu konsep yang rumit. Satu danser, satu anak kambing, dan spontanitas seorang warga ternyata cukup membuat penonton tertawa.
Kirab Budaya Sound Horeg Desa Tampo akhirnya bukan hanya menyisakan cerita tentang dentuman musik dan kemeriahan 18 peserta.

Di antara berbagai pertunjukan yang disiapkan, ada satu kejadian sederhana yang justru menjadi bahan perbincangan penonton: saweran seekor anak kambing kepada danser.
Sebuah saweran yang awalnya mungkin terlihat sederhana, tetapi berubah menjadi hiburan spontan bagi banyak orang.
Tidak selalu harus mewah untuk dikenang. Terkadang, seekor anak kambing yang diberikan dengan senyum dan niat menghibur justru mampu menciptakan tawa paling lepas di tengah gemuruh sound horeg. (Rony//B5)







