Jakarta | beritalima.com – Lemahnya regulasi pengendalian pangan tidak sehat merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap meningkatnya beban ekonomi dan kesehatan akibat penyakit tidak menular. Indonesia menghadapi tantangan serius terkait meningkatnya tren prevalensi penyakit tidak menular (PTM). Salah satunya produk pangan tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) mendominasi lingkungan pangan di sekitar kehidupan masyarakat. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan akses terhadap opsi pangan sehat.
Berdasarkan realitas tersebut, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) berkolaborasi dengan Pannafoto Institute menyelenggarakan Pameran Lensa Pangan: Memotret Realita Lingkungan Pangan Sehat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 11-13 September 2026. Pameran ini menampilkan karya dari delapan orang peserta terpilih yang telah diseleksi secara berjenjang dari total 45 orang pendaftar.
Di sela sesi pameran tersebut, CISDI menyelenggarakan sebuah dialog publik. Bertajuk Dialog Terbuka: Realitas Lingkungan Pangan Sehat, diskusi membahas tentang persoalan-persoalan publik dalam pengendalian pangan tidak sehat di Indonesia.
Chief of Policy, Advocacy, and Campaign CISDI Fachrial Kautsar dalam sambutannya menyoroti temuan studi CISDI bersama CHeNECE Universitas Airlangga yang menunjukkan 9 dari 10 produk pangan kemasan di Indonesia memiliki kandungan gula, garam, atau lemak berlebih. Temuan ini sejalan dengan studi UNICEF (2025) yang mengungkap 85% dari 20 merek makanan dan minuman terkemuka mempromosikan setidaknya satu produk yang tidak layak dipasarkan kepada anak berdasarkan Nutrient Profile Model WHO Asia Tenggara.
“Serangkaian temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat masih berada dalam lingkungan pangan yang didominasi produk dengan kandungan gula, garam, dan lemak berlebih, sehingga diperlukan kebijakan untuk menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat,” ujar Fachrial.
Melalui photovoice, CISDI dan Pannafoto Institute mengajak masyarakat mendokumentasikan realitas lingkungan pangan di tingkat akar rumput sekaligus mendorong perubahan kebijakan. Photovoice juga membuka ruang bagi publik untuk memahami dan mengenal lebih dekat isu lingkungan pangan tidak sehat dari kacamata yang lebih populer.
“Pameran photovoice ini merupakan rangkaian akhir dari keseluruhan proses yang telah berjalan sebelumnya. Para peserta terpilih telah mengikuti rangkaian pelatihan storytelling melalui medium fotografi dan videografi, serta materi terkait pengendalian pangan tidak sehat. Hasil karya yang ditampilkan hari ini merupakan refleksi personal peserta atas realitas lingkungan pangan tidak sehat yang dijumpai di Indonesia, khususnya di kawasan urban seperti Jabodetabek,” ungkap Yoppy Pieter dari Pannafoto Institute.
Jurnalis: dedy








