GRESIK, beritalima.com – Pemerintah Kabupaten Gresik terus memperkuat sektor pertanian tembakau melalui pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun 2026.
Program yang digulirkan tidak hanya menyasar bantuan sarana dan prasarana, tetapi juga peningkatan kapasitas sumber daya manusia petani dari hulu hingga hilir.

Tahun ini, sebanyak 39 kelompok tani menerima bantuan pupuk untuk lahan tembakau seluas 120 hektare. Bantuan tersebut terdiri dari 36 ribu kilogram pupuk ZA, 12 ribu kilogram pupuk ZK, dan 12 ribu kilogram pupuk SP-36 guna menjaga produktivitas tanaman tembakau di Kabupaten Gresik.

Tak hanya itu, Dinas Pertanian Kabupaten Gresik juga melibatkan 100 petani tembakau dalam pelatihan pengembangan pola kemitraan.
Sebanyak 40 peserta dari perwakilan kelompok tani mengikuti pelatihan kewirausahaan, sementara 35 peserta dari 30 kelompok tani mendapatkan pelatihan penguatan kelembagaan petani. Pelatihan budidaya dan pembibitan tembakau di Gresik Utara dan Selatan, pelatihan pascapanen, serta penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) juga dilaksanakan di enam lokasi berbeda.
Pada aspek infrastruktur, Pemkab Gresik membangun empat unit sumur untuk Gapoktan Jombangdelik dan Gapoktan Brangkal di Kecamatan Balongpanggang. Selain itu, satu unit gudang penyimpanan milik Gapoktan Kedungsumber di Desa Kedungsumber, Kecamatan Balongpanggang, direhabilitasi guna mendukung kualitas penyimpanan hasil panen.
Dukungan pada sektor pascapanen juga diperkuat melalui penyaluran empat unit alat perajang tembakau kepada empat kelompok tani.
Sebanyak 1.600 unit alat jemur turut disalurkan kepada empat kelompok tani dengan alokasi masing-masing 400 unit. Sementara mekanisasi pertanian diperkuat melalui bantuan dua unit handtraktor dan satu unit kendaraan roda tiga untuk menunjang distribusi sarana produksi dan hasil panen.
Salah satu penerima manfaat program DBHCHT adalah petani tembakau di Desa Gelam, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean. Kepala Desa Gelam, Abdus Salam, menyebut program tersebut memberikan dampak nyata bagi petani di wilayahnya.
“Bantuan yang diberikan sangat membantu petani kami, baik melalui peningkatan pengetahuan maupun penyediaan sarana pendukung usaha tani. Petani menjadi lebih percaya diri karena mendapatkan perhatian dan pendampingan. Kami berharap program seperti ini terus berlanjut agar pertanian tembakau di Bawean semakin berkembang dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat,” katanya saat menunjukkan sumur bor bantuan DBHCHT di tengah area pertanian tembakau di Kecamatan Tambak (10/7/2026).
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gresik, Eko Anindito Putro, mengatakan seluruh program DBHCHT dirancang untuk memberikan dampak berkelanjutan bagi petani tembakau, mulai dari peningkatan kapasitas hingga penguatan akses pasar.
“DBHCHT ini adalah program yang bagus. Sehingga dari hulu-hilirnya kita persiapkan. Mudah-mudahan dengan adanya pelatihan, bantuan alat, sarana-prasarana, infrastruktur, sampai dengan pasca-panennya ada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan karena kita mitrakan dengan produsen atau pabrikan di sekitar Gresik,” ujarnya.
Menurut Eko, keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh hasil panen yang melimpah, tetapi juga kemampuan petani dalam mengakses teknologi, membangun kerja sama usaha, serta mengelola hasil panen agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Melalui program DBHCHT 2026, Pemkab Gresik menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem pertanian tembakau yang berkelanjutan.
Penguatan kapasitas petani, dukungan infrastruktur, hingga pengembangan kemitraan diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani tembakau di Kabupaten Gresik.(Adv/Ron)







