Dentuman Sound Horeg Bawa Berkah untuk Pemulung, Sampah Plastik Jadi Rupiah

  • Whatsapp
Foto: Kayat memanfaatkan momen keramaian tersebut dengan mengais botol dan gelas plastik bekas minuman yang ditinggalkan para penonton. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Dentuman musik sound horeg dan kemeriahan pawai budaya Desa Bulurejo, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, ternyata tak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Di balik ramainya ribuan warga yang datang menyaksikan karnaval, terselip cerita tentang rezeki yang mengalir kepada mereka yang sehari-hari menggantungkan hidup dari barang bekas.

Salah satunya Kayat, warga Karangrejo, Kecamatan Cluring. Bersama sang istri, Kayat memanfaatkan momen keramaian tersebut dengan mengais botol dan gelas plastik bekas minuman yang ditinggalkan para penonton.

Bacaan Lainnya

Bagi sebagian orang, sampah plastik mungkin dianggap tidak bernilai. Namun bagi Kayat, botol-botol bekas yang berserakan di sepanjang lokasi karnaval justru menjadi sumber rezeki.

“Alhamdulillah, Mas, dapat banyak. Sampai enam karung,” ungkap Kayat.

Sejak pawai budaya berlangsung, Kayat dan istrinya menyusuri jalur yang dilewati peserta. Mereka memungut satu per satu botol plastik bekas minuman, kemudian memasukkannya ke dalam karung yang mereka bawa.

Pekerjaan itu dilakukan dengan sabar. Tak peduli harus berjalan cukup jauh atau berulang kali membungkuk mengambil botol yang tercecer, keduanya tetap tekun mengumpulkan barang yang masih memiliki nilai jual tersebut.

Enam karung plastik yang berhasil dikumpulkan menjadi rezeki nomplok bagi keluarga Kayat. Hasilnya memang tidak serta-merta membuat kehidupan berubah, tetapi cukup berarti untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau ada acara ramai seperti ini, lumayan Mas. Banyak botol bekas. Daripada dibuang, saya ambil, nanti dijual,” katanya.

Cerita Kayat menjadi sisi lain dari kemeriahan karnaval. Ketika sebagian masyarakat menikmati musik, menyaksikan kreasi peserta dan bersuka ria, ada pula warga yang memanfaatkan keramaian itu sebagai peluang untuk mencari penghasilan.

Foto: Pawai budaya sound horeg desa Bulurejo. (Doc, Rony Subhan)

Sound Horeg, Antara Hiburan dan Dampak Ekonomi

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Pendopo Semar Nusantara, Uny Saputra, melihat fenomena sound horeg tidak bisa hanya dipandang dari satu sisi.

Menurutnya, sound horeg memang memiliki dua sisi yang perlu diperhatikan. Di satu sisi, penggunaan sound dengan suara besar dapat menjadi hiburan dan daya tarik dalam sebuah kegiatan. Namun di sisi lain, penggunaannya juga harus memperhatikan kenyamanan masyarakat, ketertiban serta aturan yang berlaku.

“Sound horeg itu ada baik dan buruknya. Baiknya, ketika digunakan dalam kegiatan yang tertib, bisa menjadi hiburan, menghidupkan suasana dan menarik masyarakat untuk datang. Tetapi tetap harus memperhatikan batas-batas yang ada, jangan sampai mengganggu warga,” jelas Uny.

Menurut Uny, dari sisi ekonomi, ramainya sebuah karnaval juga dapat menciptakan efek berantai bagi masyarakat. Ketika ribuan orang berkumpul, bukan hanya penyelenggara dan peserta yang mendapatkan manfaat.

Pedagang makanan dan minuman mendapatkan pembeli, pelaku UMKM memperoleh kesempatan menjajakan dagangan, jasa parkir ikut bergerak, hingga pemulung seperti Kayat mendapatkan tambahan penghasilan dari botol-botol plastik bekas yang ditinggalkan penonton.

“Yang menarik, ada pedagang yang mendapatkan omzet, ada UMKM yang dagangannya laku, dan ada pemulung yang mendapatkan rezeki dari botol plastik bekas. Jadi kalau kegiatannya dikelola dengan baik dan tertib, ada perputaran ekonomi masyarakat yang ikut bergerak,” ujar Uny.

Namun ia mengingatkan, manfaat tersebut sebaiknya berjalan beriringan dengan kesadaran menjaga kebersihan.

“Jangan sampai setelah masyarakat mendapatkan hiburan, lingkungan justru menjadi korban. Sampah harus tetap dikelola. Kalau masyarakat sadar membuang sampah pada tempatnya, pemulung juga terbantu dan lingkungan tetap bersih,” tambahnya.

Kisah Kayat akhirnya menjadi gambaran sederhana bahwa sebuah pesta rakyat memiliki banyak cerita. Di tengah gemuruh musik dan kemeriahan karnaval, ada warga yang datang bukan untuk sekadar menonton, melainkan bekerja mencari rezeki.

Bagi Kayat, enam karung botol plastik bukan sekadar tumpukan sampah. Itu adalah rezeki yang ditemukan di tengah kemeriahan pawai budaya.

Dan dari jalanan yang dipenuhi suara musik, kreativitas warga serta lautan penonton itu, berkah ternyata bisa datang dalam bentuk yang sederhana—sebotol demi sebotol, hingga terkumpul enam karung. (Rony//B5)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait