Di Balik KHC Kaliploso, Gagasan Rudi Hartono Mengangkat Martabat Petani Hortikultura

  • Whatsapp
Foto: Rudi Hartono Kepala Desa Kaliploso, sosok dibalik parade kostum, tarian kolosal dan berbagai pertunjukan yang setiap tahun tampil dengan konsep berbeda. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Kemegahan Kaliploso Horti Carnival (KHC) di Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, tak lahir begitu saja. Di balik parade kostum, tarian kolosal dan berbagai pertunjukan yang setiap tahun tampil dengan konsep berbeda, ada sosok Kepala Desa Kaliploso Rudi Hartono, yang menjadi salah satu pencetus sekaligus penggagas KHC.

Bagi Rudi, KHC bukan hanya karnaval untuk menghibur masyarakat. Setiap konsep dirancang membawa cerita dan pesan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Kaliploso.

Bacaan Lainnya

Tahun ini, KHC mengusung tema “Kirim Leluhur”, yang mengangkat perjalanan kehidupan petani, mulai dari musim tanam hingga panen raya. Tradisi gotong royong serta bersedekah, berpesta, berdoa dan bersyukur atas hasil bumi kemudian dituangkan dalam sebuah tarian kolosal.

“Konsepnya menggambarkan tatanan petani, mulai musim tanam sampai panen raya. Saat panen, petani bersedekah, berpesta, berdoa dan bersyukur kepada Tuhan. Semua itu kami tuangkan dalam tarian kolosal,” ujar Rudi.

Menurut Rudi, konsep tersebut tidak dibuat dalam waktu singkat. Persiapannya telah dibicarakan bersama berbagai elemen masyarakat sejak sekitar satu tahun sebelumnya. Setiap tahun konsepnya terus diperbarui agar KHC memiliki cerita dan daya tarik yang berbeda.

Foto: KHC 2026 Konsepnya “Kirim Leluhur” menggambarkan tatanan petani, mulai musim tanam sampai panen raya. Saat panen, petani bersedekah, berpesta, berdoa dan bersyukur kepada Tuhan. (Doc, Rony Subhan)

Nama Kaliploso Horti Carnival tetap dipertahankan.

Ada alasan kuat di balik kata Horti. Rudi menyebut mayoritas petani Kaliploso bergerak di sektor hortikultura. Cabai, tomat, buah naga, jeruk hingga berbagai jenis sayuran menjadi bagian dari potensi hasil bumi desa.

Melalui KHC, Rudi ingin memperkenalkan sekaligus menanamkan gagasan agar petani tidak hanya berhenti sebagai penghasil komoditas, tetapi mampu berkembang menjadi pengusaha hasil bumi.

“Petani kami dorong bukan hanya menanam, tetapi bagaimana bisa menjadi pengusaha, berbisnis hasil bumi hortikultura. Potensinya banyak, seperti cabai, tomat, buah naga, jeruk dan sayuran,” ungkapnya.

Gagasan tentang kehidupan dan perjuangan itu kemudian diperkuat sejak opening KHC yang mengambil kisah Ramayana.

Pertunjukan diawali dengan keharmonisan Rama dan Shinta, sebelum keduanya dipisahkan oleh Rahwono yang datang membawa angkara murka. Rama kemudian dibantu Anoman untuk menghadapi Rahwono. Setelah pertarungan, kebenaran akhirnya menang dan Shinta kembali kepada Rama.

Kisah tersebut disajikan secara ringkas melalui tarian kolosal, menjadi pembuka sebelum penonton dibawa masuk ke cerita utama KHC.

Bagi Rudi, seni dalam KHC bukan sekedar tontonan. Ada pesan tentang perjuangan, kesetiaan, keseimbangan kehidupan dan kemenangan kebenaran yang ingin disampaikan kepada masyarakat.

Foto: KHC: sebuah panggung yang mempertemukan seni, tradisi dan potensi pertanian Kaliploso. (Doc, Rony Subhan)

Sementara tema “Kirim Leluhur” menjadi pengingat bahwa di balik kemeriahan panen dan hasil bumi, terdapat perjalanan panjang, doa, tradisi dan rasa syukur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Itulah yang ingin dirawat Rudi melalui KHC: sebuah panggung yang mempertemukan seni, tradisi dan potensi pertanian Kaliploso.

Sebab bagi dia, ketika petani dan hasil bumi menjadi bagian dari cerita besar sebuah karnaval, maka yang diangkat bukan hanya kemeriahan desanya, tetapi juga martabat dan masa depan petani Kaliploso. (Rony//B5)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait