Di Tengah Dentuman Sound Horeg, Sapu Lidi Justru Jadi Dagangan Unik di Kirab Budaya Desa Tampo

  • Whatsapp
Foto: Pedagang sapu lidi menjajakan dagangan disebuah acara kirab budaya sound horeq. (Doc,Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Dentuman sound system biasanya identik dengan kemeriahan, kerumunan massa, kostum unik, dan para pelaku UMKM yang menjajakan makanan maupun berbagai pernak-pernik. Namun, ada pemandangan berbeda dalam Karnaval Budaya Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (8/8/2026).

Di antara gemuruh 18 sound horeg yang memeriahkan kirab dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI itu, seorang warga bernama Ading justru memilih berjualan barang yang mungkin tidak banyak terpikirkan orang akan laku di tengah pesta sound horeg: sapu lidi.

Bacaan Lainnya

Sapu-sapu yang dibawa Ading bukan produk pabrikan. Sapu tersebut merupakan hasil buatan sendiri, sehingga memiliki cerita tersendiri di balik setiap ikatannya.

Ading tampak menawarkan sapu lidi kepada warga yang datang menikmati kemeriahan kirab. Kehadirannya menjadi warna unik di tengah hiruk-pikuk pesta rakyat yang biasanya didominasi pedagang makanan, minuman, mainan anak, hingga berbagai produk UMKM kekinian.

“Di acara seperti ini ternyata bukan hanya makanan yang bisa dijual. Sapu lidi pun bisa menjadi peluang,” cerita Ading.

Namun, ada cerita lain di balik dagangan tersebut. Ading ternyata bukan pemilik usaha. Ia merupakan pekerja dari seorang pengusaha bernama Abidin, yang berprofesi sebagai seorang pengacara.

Foto: Ading sedang menawarkan sapu lidi kepada warga yang sedang melintas saat kirab sound horeg

Ading membantu menjajakan sapu lidi buatan usaha tersebut. Baginya, setiap keramaian adalah peluang untuk mencari rezeki. Tidak harus mengikuti tren dagangan yang sedang ramai, selama ada barang yang dibutuhkan masyarakat dan bisa menghasilkan pendapatan.

Pemandangan Ading menjajakan sapu lidi di tengah parade sound horeg pun menjadi gambaran menarik tentang wajah UMKM di tengah pesta rakyat.

Ketika sebagian pedagang sibuk mengejar pembeli dengan makanan dan minuman, Ading justru datang dengan barang sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sapu lidi mungkin terlihat sepele, tetapi di tangan pelaku usaha, barang sederhana itu dapat berubah menjadi sumber penghasilan.

Karnaval Desa Tampo sendiri berlangsung meriah. Sebanyak 18 peserta sound horeg mengikuti kirab yang dimulai sekitar pukul 16.00 WIB. Rombongan dilepas langsung oleh Kepala Desa Tampo, Hasim Ashari.

Sebelum peserta bergerak, Hasim berpesan agar seluruh rangkaian acara berlangsung lancar. Ia berharap masyarakat bisa menikmati kemeriahan HUT ke-81 RI dengan bahagia, namun tetap menjaga keselamatan.

“Harapan saya acara kirab ini berjalan lancar, semuanya bahagia dan selamat,” pesan Hasim.

Kemajuan kirab semakin terasa ketika deretan sound system mulai bergerak. Salah satu yang mencuri perhatian adalah peserta nomor urut 5 yang membawa konsep kostum BEC atau Banyuwangi Ethno Carnival. Sentuhan budaya dan kreativitas modern berpadu dengan dentuman sound system yang mengiringi perjalanan rombongan.

Salah satu sound yang ikut menghidupkan suasana adalah BLEDEX, klub sound lokal yang cukup dikenal di kalangan pecinta sound system Banyuwangi.

Namun, di balik kemeriahan itu, keberadaan Ading menjadi pengingat bahwa sebuah acara rakyat memiliki sisi lain yang tak kalah penting: perputaran ekonomi masyarakat.

Desa Tampo sendiri terdiri dari tiga dusun, yakni Krajan, Sumbar 1, dan Sumbar 2. Warga dari berbagai wilayah tersebut ikut meramaikan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Keramaian seperti ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk membuka lapak dan menawarkan berbagai produk. Tidak peduli apakah dagangannya makanan, minuman, aksesori, atau bahkan sapu lidi.

Bagi Ading dan pemilik usaha tempatnya bekerja, keramaian bukan sekadar tontonan. Di balik suara musik yang menggelegar, terdapat peluang untuk mendapatkan penghasilan.

Sapu lidi yang dibawa Ading akhirnya menjadi cerita kecil di tengah pesta besar Desa Tampo. Sebuah kisah sederhana tentang bagaimana UMKM tidak selalu harus tampil dengan produk modern dan mahal. Barang sederhana yang dibuat dengan tangan pun bisa ikut mengambil bagian dalam roda ekonomi sebuah pesta rakyat.

Dan mungkin, justru karena kesederhanaannya itulah, lapak sapu lidi Ading menjadi salah satu cerita unik yang lahir dari Karnaval Budaya Desa Tampo tahun ini: di tengah 18 sound horeg yang berlomba mengguncang suasana, ada sapu lidi yang diam-diam ikut mencari rezeki. (Rony//B5)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait