SIDOARJO, beritalima.com | Tak banyak anggota DPRD provinsi Jawa Timur yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, terutama jika hal tersebut dilakukan dengan meninjau langsung ke lokasi untuk mengetahui kondisi sesungguhnya di lapangan, agar tahu bagaimana cara mengatasi problematika tersebut.
Dr dr Benjamin Kristianto MKes MARS bahkan rela berpanas-panasan ria naik motor bersama perangkat desa agar bisa melewati pematang sawah dan menyaksikan sendiri hamparan sawah berhektar-hektar yang menanti uluran tangan sang dewa penyelamat.
Setelah mendapat keluhan kekeringan dan tanaman mati karena tidak ada air yang mengaliri sawah mereka, dr Benjamin menemukan solusi bagaimana mengatasi keruwetan tersebut.
“Jadi di desa Bogem Pinggir ini daerah pertanian luar biasa banyaknya. Saya lihat itu kendala mereka adalah pengairan ke sawah-sawah itu. Sebenarnya saat saya pakai sepeda motor, saya melihat ada sungai besar yang berpotensi untuk disalurkan airnya ke ratusan hektar sawah milik warga Bogem Pinggir,” terang anggota komisi E DPRD provinsi Jawa Timur ini.
dr Benjamin menuturkan, posisi sungai jauh dibawah, sementara ratusan hektar sawah milik warga Bogem Pinggir berada diatas ketinggian lebih dari 10 meteran.
Yang menyulitkan tentu saja arah air, karena air lebih mudah mengalir kebawah daripada keatas. Untuk menarik air sungai tersebut dibutuhkan inovasi agar bisa mengalir ke ratusan hektar sawah.
“Butuh suatu pompa untuk mengangkat air-air itu, lalu masuk kearea persawahan. Karena jalan tinggi sedangkan sungai di bawah, jadi perlu pompa untuk menaikkan kurang lebih saya lihat sekitar 10 meter jaraknya, tegak lurusnya dibutuhkan pipa-pipa yang besar sepanjang pematang sawah, kemudian pipa-pipa ini dibagian yang melewati sawah, harus di lubangi agar airnya bisa mencur kesawah-sawah,” jelas politisi partai Gerindra ini.
Untuk itu, dr Benjamin meminta perangkat desa membuat proposal disertai dokumen yang lengkap untuk diberikan kepada pemerintah provinsi Jawa Timur. Dari proposal tersebut, dr Benjamin berjanji akan mengawal dan memperjuangkan agar perangkat desa mendapatkan bantuan dari Pemprov Jatim, dan dinas pertanian.
“Kalau masih kurang, nanti saya tambahi. Yang penting kebutuhan para petani terpenuhi untuk bisa menggarap sawahnya dan mendapatkan penghasilan yang memadai untuk meningkatkan kesejahteraan warganya. Tanahnya jangan dijual ya, jangan tergiur untuk dijadikan perumahan. Karena Jawa Timur ini komoditas hasil pertaniannya, terbesar di Indonesia. Yang terpenting, para petani hidup makmur sejahtera,” pungkasnya.(Yul)








