Jakarta, beritalima.com|- Siapa yang mengira, kalau sebagian besar kebutuhan daging sapi di Jakarta dan sekitarnya secara rutin diangkut dari Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui kapal Pelni.
Sebagai perusahaan pelayaran nasional (BUMN), Pelni telah menjalani misi angkutan khusus kapal ternak sapi dari 2015 hingga kini.
Untuk lebih jelasnya, berikut petikan wawancara tertulis beritalima (BL) dengan Sekretaris Perusahaan Pelni Ditto Pappilanda (DP):
BL. Apa yang melatarbelakangi Pelni sediakan angkutan khusus kapal ternak?
DP. Penugasan Angkutan ternak dengan kapal khusus ternak didasari atas kebutuhan daging di DKI Jakarta mencapai 600-800 ekor per hari, dimana sebanyak 95% kebutuhan tersebut dipasok dari daerah penghasil ternak seperti NTT, NTB, Jawa, Bali dan Sulawesi.
Untuk mengakomodir kebutuhan tersebut, peternak melakukan pengiriman secara konvensional menggunakan kapal konvensional dimana sarana & prasarana kapal tidak memadai yang dapat berakibat pada susutnya bobot sapi dan bahkan terkadang ada yang mati dalam pengiriman. Hal ini secara bisnis merugikan peternak karena kondisi ternak yang diangkut tidak dapat dijual dengan harga maksimal.
Atas hal tersebut, pada 2015 Perusahaan menerima penugasan dari Pemerintah untuk mengoperasikan kapal khusus muatan ternak (Sapi).
Pengoperasian kapal tersebut menghadirkan solusi kepada para pengguna jasa berupa angkutan khusus ternak yang layak demi menjaga mutu hewan ternak yang diangkut serta biaya pengangkutan yang lebih murah.
BL. Bagaimana mekanisme pengangkutannya, kerjasama dengan Pemda setempat misalnya?
DP. Tidak terdapat mekanisme kerja sama secara khusus antara PELNI dengan pemerintah daerah terkait pengoperasian Kapal Ternak, mengingat layanan tersebut merupakan penugasan Pemerintah yang diberikan kepada PELNI melalui Kementerian Perhubungan. Dalam pelaksanaannya, PELNI bertindak sebagai operator menjalankan penugasan sesuai ketentuan dan regulasi yang telah ditetapkan.
Adapun penetapan kuota serta alokasi hewan ternak dan proses karantina atas hewan ternak yang diangkut pada setiap pelayaran dilakukan oleh Dinas Peternakan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. PELNI selanjutnya mengangkut berdasarkan kuota dan manifest yang telah ditetapkan guna memastikan proses distribusi ternak berjalan tertib, aman dan sesuai dengan kapasitas kapal.
BL. Ada berapa kapal yang disediakan Pelni utk misi ini?
DP. Hingga saat ini PELNI menerima penugasan dari Kementerian Perhubungan untuk mengoperasikan satu unit Kapal Ternak, yaitu KM Camara Nusantara 1 dengan rute Kupang – Wini – Tg. Priok. Kapal tersebut memiliki kapasitas angkut hingga 550 ekor ternak dalam setiap pelayaran.
Sebagai BUMN yang berperan mendukung konektivitas dan distribusi logistik nasional, PELNI siap mengoperasikan kapal ternak tambahan apabila kembali mendapatkan penugasan dari Pemerintah.
Sejak awal penugasan, Perusahaan telah berhasil mengangkut sebanyak 71.407 hewan ternak (sapi) dari NTT menuju Jakarta. Untuk 2026 sendiri, Perusahaan mencatat hingga Mei 2026 telah membawa sebanyak 1.353 hewan ternak.
BL. Dengan kebijakan pemerintahan sekarang menitikberatkan program ketahanan pangan, apakah kapal ternak juga mengangkut kebutuhan alat dan produk pangan tertentu?
DP. Kapal Ternak pada dasarnya difokuskan untuk mengangkut ternak hidup guna mendukung distribusi komoditas peternakan antarwilayah.
Adapun untuk mengangkut kebutuhan alat dan produk pangan tertentu dilakukan dengan Kapal Tol Laut atau layanan kargo PELNI, termasuk menggunakan dry container atau reefer container sesuai karakteristik muatannya.
Berbagai komoditas yang diangkut antara lain beras, minyak goreng, gula, telur, air mineral, daging sapi, daging ayam, ikan segar, benih, pupuk, serta pakan ternak.
Melalui layanan tersebut, PELNI turut mendukung kelancaran distribusi logistik nasional dan memperkuat program ketahanan pangan di berbagai wilayah Indonesia, khususnya daerah 3TP (terpencil, tertinggal, terluar dan perbatasan).
Jurnalis: abriyanto








