ForBAM Kecam Pernyataan Buya Ar-Razi Soal Aceh

  • Whatsapp

ACEH, Beritalima.com | Sekretaris Forum Bersama Acèh Meusaboh (ForBAM), Amiruddin, mengecam pernyataan Buya Ar-Razi yang beredar melalui sebuah video di media sosial dan dinilai telah menyinggung perasaan masyarakat Aceh.

Menurut Amiruddin, pernyataan yang menyebut akan menjadi musuh rakyat Aceh apabila masyarakat Aceh meminta kemerdekaan merupakan ucapan yang tidak tepat dan berpotensi memicu polemik di tengah masyarakat.

Ia menegaskan bahwa setiap bangsa atau kelompok masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan menentukan nasibnya sendiri sesuai dengan prinsip-prinsip yang diakui dalam berbagai instrumen internasional.

“Kalau ada masyarakat yang menyampaikan aspirasi atau pandangan politik tertentu, tidak seharusnya disikapi dengan permusuhan. Perbedaan pendapat harus diselesaikan melalui dialog dan saling menghormati,” kata Amiruddin dalam keterangannya, Jum’at (19/6/2026).

Amiruddin meminta Buya Ar-Razi untuk menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Aceh atas pernyataan yang dinilai menyinggung harga diri dan sejarah panjang perjuangan rakyat Aceh.

Menurutnya, masyarakat Aceh selama ini tidak pernah memiliki persoalan pribadi maupun melakukan penghinaan terhadap Buya Ar-Razi. Karena itu, ia berharap semua pihak dapat lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan yang berkaitan dengan Aceh.

Aceh memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, setiap pihak perlu memahami latar belakang sejarah Aceh sebelum memberikan komentar atau penilaian mengenai daerah tersebut.

Amiruddin mengingatkan bahwa Aceh pernah mengalami masa perang panjang melawan kolonial Belanda yang dimulai pada tahun 1873 ketika pasukan Belanda menyerang Kesultanan Aceh dan menduduki istana sultan.

Dalam catatan sejarah, serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan sejumlah fasilitas penting dan memicu perlawanan besar-besaran dari rakyat Aceh yang dipimpin para ulama serta tokoh pejuang setempat.
Perlawanan rakyat Aceh dilakukan melalui strategi gerilya yang menyulitkan pasukan Belanda.

Di sisi lain, Belanda menerapkan strategi concentration stelsel atau pemusatan kekuatan dalam benteng-benteng pertahanan untuk menghadapi perlawanan rakyat.
Namun strategi tersebut dinilai tidak efektif karena bersifat pasif dan membuat pasukan Belanda kerap menjadi sasaran serangan mendadak. Perang yang berlangsung dalam waktu lama mengakibatkan kerugian besar bagi Belanda, baik dari sisi personel maupun keuangan.

Atas dasar sejarah perjuangan tersebut, Amiruddin meminta seluruh pihak untuk menghormati Aceh dan masyarakatnya. Ia juga mengajak semua elemen bangsa menjaga persatuan serta menghindari pernyataan yang dapat menimbulkan kesalahpahaman dan konflik di tengah masyarakat.”(**)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com

Pos terkait