Gempa Ganda di Venezuela Jadi Pelajaran bagi Indonesia, Pakar Universitas Pertamina Jelaskan Potensinya

  • Whatsapp

JAKARTA |berita lima.com – Fenomena gempa ganda (seismic doublet) yang mengguncang Venezuela menjadi perhatian dunia karena tergolong sangat langka. Dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 terjadi hanya dalam selang 39 detik, memicu kerusakan besar dan korban jiwa.

Pakar kebumian sekaligus dosen Teknik Geofisika Universitas Pertamina, Iktri Madrinovella, M.Si., menjelaskan bahwa seismic doublet merupakan dua gempa besar yang terjadi hampir bersamaan dalam waktu sangat singkat. Menurutnya, fenomena tersebut dapat memperparah dampak bencana karena masyarakat harus menghadapi dua guncangan kuat dalam waktu berdekatan.

“Pada kasus di Venezuela, gempa pertama diduga memicu pergerakan patahan aktif di sekitarnya sehingga terjadi gempa kedua yang lebih besar hanya 39 detik kemudian. Rangkaian guncangan ini dapat meningkatkan tingkat kerusakan dibandingkan satu gempa besar,” ujar Iktri.

Ia menjelaskan, wilayah utara Venezuela berada di pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan yang didominasi sesar geser (strike-slip).

Pergerakan kedua lempeng menyebabkan akumulasi tekanan yang sewaktu-waktu dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.

Menurut Iktri, fenomena serupa juga berpotensi terjadi di Indonesia yang sama-sama berada di kawasan tektonik aktif. Ia mencontohkan rangkaian gempa Mentawai-Bengkulu pada 2007 dan gempa Lombok pada 2018 sebagai bukti bahwa satu gempa besar dapat memicu aktivitas tektonik di wilayah sekitarnya.

“Potensi rangkaian gempa juga terdapat pada sejumlah jalur patahan aktif di Indonesia, termasuk Sesar Sumatera dan Palu-Koro. Karena itu, mitigasi harus dilakukan secara menyeluruh melalui pemetaan wilayah rawan, pembangunan infrastruktur tahan gempa, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat,” katanya.

Iktri menambahkan, pemetaan kerentanan seismik menjadi salah satu langkah penting dalam mengurangi risiko bencana. Melalui penelitian kolaboratif di kawasan pesisir Teluk Palu menggunakan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR), tim peneliti menemukan sejumlah wilayah dengan tingkat kerentanan seismik yang tinggi.

Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan tata ruang, pembangunan infrastruktur, serta penerapan standar bangunan tahan gempa guna meminimalkan risiko kerusakan di masa mendatang.

Sementara itu, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., menegaskan bahwa peristiwa di Venezuela menjadi pengingat pentingnya investasi pada riset kebencanaan.
“Sebagai perguruan tinggi yang memiliki keunggulan di bidang energi dan kebumian, Universitas Pertamina berkomitmen memperkuat riset, inovasi, serta kolaborasi lintas disiplin untuk mendukung mitigasi bencana di Indonesia. Pembelajaran dari berbagai peristiwa global menjadi dasar dalam menghasilkan rekomendasi berbasis bukti guna meningkatkan ketangguhan masyarakat terhadap risiko bencana,” ujar Djoko.

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com

Pos terkait