Gunungan Hasil Bumi Jadi Rebutan Warga di KHC Kaliploso, Terung hingga Buah-Buahan Ludes dalam Sekejap

  • Whatsapp
Foto: Begitu gunungan dipersilakan untuk diperebutkan, warga langsung bergerak mendekat. Dalam hitungan singkat, hasil bumi yang tersusun rapi mulai diambil satu per satu. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Kemeriahan Kaliploso Horti Carnival (KHC) di Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, belum benar-benar berakhir meski seluruh rangkaian acara telah ditutup.

Sesaat setelah acara selesai, perhatian warga justru tertuju pada sejumlah gunungan hasil bumi yang sejak awal menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Bacaan Lainnya

Begitu gunungan dipersilakan untuk diperebutkan, warga langsung bergerak mendekat. Dalam hitungan singkat, hasil bumi yang tersusun rapi mulai diambil satu per satu.

Terung, jagung hingga berbagai jenis buah-buahan yang menghiasi gunungan pun ludes. Tangan-tangan warga dengan cepat melepaskan hasil bumi dari susunannya.

Suasana seketika berubah riuh. Sebagian warga tersenyum membawa hasil bumi yang berhasil mereka dapatkan, sementara anak-anak ikut menyaksikan keramaian tersebut.

Namun, di balik aksi rebutan yang terlihat meriah itu, gunungan bukan sekadar tumpukan hasil pertanian yang sengaja dibuat untuk diperebutkan.

Gunungan memiliki filosofi yang erat dengan kehidupan masyarakat agraris. Hasil bumi yang disusun menjulang ke atas menggambarkan kemakmuran, rasa syukur dan harapan atas keberlimpahan hasil panen.

Foto: Warga mulai mengambil satu persatu hasil bumi yang di tempatkan di gunungan. (Doc, Rony Subhan)

Gunungan: Simbol Syukur atas Hasil Bumi

Salah seorang warga, Aris, menjelaskan bahwa gunungan dalam tradisi masyarakat Jawa memiliki makna yang cukup dalam.

Menurutnya, bentuk gunungan yang mengarah ke atas dapat dimaknai sebagai gambaran perjalanan manusia untuk selalu mengingat Tuhan sekaligus memiliki cita-cita dan harapan yang tinggi.

Sementara hasil bumi yang memenuhi gunungan menggambarkan kekayaan alam dan sumber kehidupan masyarakat.

“Gunungan itu bukan hanya untuk dipandang. Di dalamnya ada filosofi. Hasil bumi yang dikumpulkan menjadi satu menggambarkan rasa syukur atas rezeki dan hasil yang diberikan alam kepada masyarakat,” jelas Aris.

Ketika hasil bumi kemudian dibagikan dan diperebutkan masyarakat, hal tersebut juga dapat dimaknai sebagai simbol berbagi rezeki.

“Ketika gunungan dibagikan, hasilnya kembali kepada masyarakat. Jadi ada semangat berbagi dan kebersamaan di situ,” imbuhnya.

Foto: Hasil bumi dibagikan kepada warga. (Doc, Rony Subhan)

Hasil Panen Disusun, Syukur Kemudian Dibagikan

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Pendopo Semar Nusantara, Uny Saputra, mengatakan gunungan hasil panen memiliki hubungan kuat dengan kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

Menurut Uny, hasil bumi yang digunakan untuk membuat gunungan menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya melihat pertanian dari sisi ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan dan budaya.

“Gunungan hasil panen itu merupakan simbol rasa syukur. Apa yang ditanam, dirawat dan kemudian dipanen, semuanya menjadi sumber kehidupan. Hasil tersebut kemudian divisualisasikan dalam bentuk gunungan,” terang Uny.

Menurutnya, semakin beragam hasil bumi yang ditampilkan, semakin kuat pula pesan tentang keberagaman potensi pertanian masyarakat.

Terung, jagung, buah-buahan dan berbagai hasil pertanian lainnya bukan sekadar hiasan. Masing-masing merupakan gambaran dari kerja keras petani yang selama ini menjadi salah satu penopang kehidupan masyarakat.

Uny juga menilai pembagian hasil gunungan kepada warga memiliki pesan sosial.

“Ketika gunungan itu kemudian diperebutkan atau dibagikan kepada masyarakat, filosofi yang bisa kita lihat adalah bagaimana rezeki dan hasil bumi itu jangan hanya dinikmati sendiri. Ada nilai berbagi, ada kebersamaan dan ada rasa syukur,” ujarnya.

Menurutnya, tradisi semacam ini penting untuk terus dikenalkan kepada generasi muda. Apalagi KHC Kaliploso memiliki kaitan erat dengan hortikultura dan kehidupan petani.

Dengan demikian, gunungan menjadi semacam jembatan antara budaya dan pertanian. Hasil panen yang selama ini tumbuh di ladang kemudian diangkat menjadi bagian dari pertunjukan budaya.

Di penghujung KHC, ketika gunungan akhirnya habis diperebutkan, yang tersisa bukan sekadar lapak kosong tanpa hasil bumi.

Ada pesan yang ingin ditinggalkan: hasil bumi adalah berkah, dan berkah akan terasa lebih bermakna ketika disyukuri serta dibagikan bersama.

KHC Kaliploso pun menutup kemeriahannya dengan sebuah tradisi sederhana namun penuh makna—gunungan hasil bumi, simbol syukur petani yang akhirnya kembali ke tangan masyarakat. (Rony//B5)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait