Hadapi Dampak Karhutla, Kemenkes Terjunkan 848 Tenaga Kesehatan

  • Whatsapp
Hadapi Dampak Karhutla, Kemenkes Terjunkan 848 Tenaga Kesehatan (foto: kemenkes)

Jakarta, beritalima.com| – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperkuat respons kesehatan dalam menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, dengan kerahkan sebanyak 848 tenaga kesehatan (nakes) ke berbagai daerah terdampak asap.

Saat memberi keterangan pers (28/8), Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono menyampaikan, Karhutla berdampak pada tujuh provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Total penduduk terdampak mencapai 10.674.201 orang. Dari jumlah tersebut, tercatat 123 orang mengalami luka berat atau menjalani rawat inap, serta 2 orang mengalami luka ringan atau menjalani rawat jalan. Hingga laporan tersebut diperbarui, tidak tercatat korban meninggal maupun pengungsi.

“Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama akibat paparan asap dan partikulat. Karena itu, kita perlu memastikan masyarakat terlindungi dan pelayanan kesehatan tetap siap,” ujar Prof. Dante.

Dampak kesehatan yang paling banyak ditemukan berkaitan dengan gangguan saluran pernapasan. Data Kemenkes menunjukkan terdapat 4.082 kasus ISPA pada 27 Agustus 2026, total kumulatif mencapai 13.449 kasus. Kasus tersebut dilaporkan dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak Karhutla.

Asap Karhutla menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, antara lain ISPA, batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), serta iritasi mata dan kulit. Paparan asap juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, terutama pada kelompok rentan. “Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan,” ujar Prof. Dante.

Pontianak (Kalbar), tercatat memiliki nilai ISPU 328 atau kategori berbahaya. Sementara Kabupaten Tebo di Jambi memiliki nilai 287, Barito Selatan Kalimantan Tengah 274, Katingan 258, dan Kabupaten Pali Sumatera Selatan 255 yang seluruhnya berada dalam kategori sangat tidak sehat.

Hadapi ancaman tersebut, pemerintah daerah bersama Kemenkes telah mobilisasi nakes. Hingga 27 Agustus pukul 15.00 WIB, tercatat 848 nakes dikerahkan ke tujuh provinsi terdampak Karhutla. Nakes terdiri dari dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, analis, tenaga farmasi, epidemiolog, sanitarian, hingga tenaga pendukung lainnya.

Dukungan logistik kesehatan juga terus diperkuat. Dari pemerintah daerah, telah dimobilisasi 394.385 masker, 56 unit oksigen konsentrator, 1.000 pasang handscoon, 103 tabung Oxycan, 40 dus PMT, 36 face shield, dan 8 APD.

“Sementara itu, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes telah mendistribusikan 432.000 masker, 169 unit oksigen konsentrator, 40.000 pasang handscoon, 4.900 APD, serta tiga unit air purifier ke sejumlah wilayah terdampak,” papar Prof. Dante.

Kemenkes juga memastikan kesiapan pelayanan melalui penyiapan 1.691 Puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 Labkesmas, serta kesiapsiagaan Public Safety Center (PSC) 119 dan Tenaga Cadangan Kesehatan di kabupaten/kota.

Di Provinsi Riau, dampak kesehatan akibat Karhutla hingga 27 Agustus meluas ke 12 kabupaten/kota. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi Riau, tercatat sekitar 3.293 kasus ISPA, dengan kasus tertinggi berada di Kota Pekanbaru sekitar 900 kasus, disusul Kabupaten Pelalawan sekitar 600 kasus dan Kabupaten Kampar.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Zulkifli mengatakan, “untuk tindakan preventif, kami sudah membagikan sekitar 69.000 masker di 12 kabupaten/kota, khususnya di Pelalawan kami sudah dropping 28.000 masker. Kami juga memberikan dukungan makanan tambahan bagi kelompok rentan, seperti ibu hamil, bayi, dan balita. Kami mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan, untuk meminimalkan aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker apabila harus keluar.”

Jurnalis: rusman/abri

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait