Banjarbaru, beritalima.com| – Polri gunakan cara alternatif gadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut di Pengayuan, Banjarbaru,Kalimantan Selatan (Kalsel), yakni dengan pemanfaatan teknologi drone guna mendeteksi dan mendinginkan bara yang masih tersimpan di bawah permukaan tanah.
Yakni melakukan kombinasi drone thermal, sistem pipa undercooling, serta cairan pemadam berbahan dasar Methyl Ester Sulfonate (MES) yang dikembangkan Bidlabfor Polda Kalsel. Teknologi tersebut diterapkan salah satunya di kawasan Pengayuan, Banjarbaru, sehingga bisa mengetahui lahan gambut baik diatas dan di bawah permukaan meski api padam.
Khusus di kawasan Pengayuan, sedikitnya 350 personel gabungan dari Polri, TNI, BPBD, Dinas Perkebunan dan Peternakan, pihak perusahaan, serta unsur pendukung diterjunkan. Personel bekerja dalam tiga shift untuk memastikan proses pemadaman, pembasahan, pendinginan, dan pemantauan berlangsung secara berkelanjutan.
Pengayuan menjadi salah satu contoh penerapan kekuatan personel dipadukan dengan teknologi penanganan karhutla di lahan gambut. Kondisi gambut membuat api tidak selalu terlihat di permukaan karena panas dapat menjalar dan bara dapat bertahan di lapisan bawah tanah. Ujicoba ini disaksikan langsung Kapolda Kalsel Irjen Pol. Rosyanto Yudha Hermawan bersama Gubernur Kalimantan Selatan dan unsur Forkopimda di kawasan Pengayuan (2/9).
Untuk mengatasi kondisi tersebut, sistem pipa undercooling digunakan dengan menancapkan pipa hingga sekitar dua meter ke dalam lapisan gambut. Cairan pemadam kemudian diinjeksi langsung ke bagian bawah permukaan yang masih menyimpan panas.
Di saat yang sama, personel tetap melakukan pemadaman dan pembasahan dari permukaan menggunakan metode konvensional. Dengan pola tersebut, penanganan dilakukan dari dua arah, yakni memadamkan api dari atas sekaligus mendinginkan sumber panas dari bawah.
Deteksi titik panas dilakukan menggunakan drone thermal milik Ditintelkam Polda Kalsel. Pemantauan dilakukan sebelum dan sesudah proses penanganan untuk mengetahui kondisi temperatur di lokasi.
Pada salah satu titik pengujian, pemantauan awal mendeteksi suhu tanah gambut mencapai sekitar 120 derajat Celsius. Tim kemudian melakukan pembasahan permukaan dan menginjeksikan cairan melalui sistem pipa undercooling selama kurang lebih satu menit.
Setelah proses penanganan, lokasi kembali dipantau menggunakan drone thermal. Hasil pemantauan menunjukkan suhu pada titik yang ditangani turun ke kisaran 30 derajat Celsius dan titik panas yang sebelumnya terdeteksi tidak lagi terlihat pada pemantauan berikutnya.
Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, “kita tidak hanya melihat apakah api di permukaan sudah padam. Kita juga perlu mengetahui apakah masih ada panas yang tersimpan di bawah tanah. Drone thermal membantu menemukan titik panas, kemudian sistem undercooling digunakan untuk melakukan pendinginan dari bawah.”
Menurutnya, penerapan teknologi tersebut tidak menggantikan metode pemadaman yang selama ini digunakan. Sebaliknya, teknologi menjadi tambahan kemampuan bagi petugas, khususnya dalam menghadapi karakteristik lahan gambut.
Cairan yang digunakan dalam sistem undercooling merupakan formula berbahan dasar MES hasil pengembangan Bidlabfor Polda Kalsel. Dalam penerapannya, sekitar 100 liter formula dapat dicampurkan dengan 12.000 liter air dalam satu kolam bioflok portable.
Kolam tersebut digunakan untuk mendekatkan sumber air ke lokasi penanganan sekaligus mendukung pembasahan permukaan dan proses injeksi melalui pipa undercooling. Polda Kalsel juga menyiapkan kolam bioflok portable berkapasitas 12.000 liter untuk mendukung kebutuhan operasi di lapangan.
Jurnalis: abri/dedy








