Jakarta, beritalima.com| – Perlintasan sebidang dari lintasan kereta api (KA) kerap menimbulkan masalah serius seperti kecelakaan, sehingga pihak KAI terapkan pendekatan “safety at scale” (keamanan menyeluruh atau skala besar). “Semakin tinggi intensitas perjalanan, semakin besar kebutuhan terhadap disiplin operasi, pengelolaan risiko, kesiapan SDM, teknologi, infrastruktur, dan kolaborasi di sepanjang jaringan,” ujar Anne Purba, VP Corporate Communication KAI.
KAI menetapkan 190 titik prioritas peningkatan keselamatan perlintasan sebidang pada 2026 di sembilan Daop dan empat Divre. Program tersebut mencakup gardu, rambu, alat keselamatan dan komunikasi, SDM penjaga perlintasan tersertifikasi, serta tahapan pemasangan pintu perlintasan.
Dari pemetaan 1.214 titik perlintasan sebidang, terdapat 43 lokasi dengan kategori risiko tinggi, 630 risiko sedang, 538 risiko rendah, serta tiga kategori sangat rendah. “Pemetaan risiko membuat penanganan dapat disusun berdasarkan kondisi lapangan. Karakter lalu lintas jalan, status perlintasan, lingkungan, dan intensitas perjalanan kereta berbeda pada setiap lokasi,” kata Anne
Hal ini terus dilakukan karena pengguna KA terus meningkat. Sepanjang Januari–Juli 2026 saja, KAI Group melayani 307,86 juta pelanggan, naik 8,32%. KAI Commuter melayani 242,93 juta pelanggan, sementara KA Jarak Jauh dan Lokal yang dikelola KAI mencapai 35,26 juta pelanggan.
“Semakin tinggi intensitas perjalanan, semakin besar kebutuhan terhadap disiplin operasi, pengelolaan risiko, kesiapan SDM, teknologi, infrastruktur, dan kolaborasi di sepanjang jaringan,” ujar Anne.
KAI bersama stakeholders juga telah merealisasikan penutupan 172 lokasi perlintasan sebidang yang masuk target program. Pada sisi korporasi, RJPP 2026 menempatkan penguatan Train Safety & Security System, intelligent rail service and inspection, digitalisasi sistem pengelolaan infrastruktur, serta modernisasi sarana sebagai bagian dari tema Strengthening Operational and Organizational Foundations.
Menurut Anne, keselamatan juga membutuhkan partisipasi publik karena ruang di sekitar rel berinteraksi langsung dengan aktivitas masyarakat. “Teknologi dan fasilitas memberikan lapisan perlindungan. Disiplin pengguna jalan, kepatuhan terhadap rambu dan koordinasi antarinstansi melengkapi lapisan tersebut,” terang Anne.
Jurnalis: andaka/abri








