Jakarta, beritalima.com|- Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian memaknai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) bukan sekadar seremoni, melainkan momentum menghidupkan kembali semangat kolektif menghadapi berbagai tekanan yang dirasakan masyarakat.
Namun di tengah pidato optimisme itu, publik masih menunggu sejauh mana negara benar-benar mampu menjawab problem mendasar di sektor pendidikan, ketimpangan akses, hingga ancaman disrupsi teknologi yang terus melebar.
Menurut Hetifah, tantangan bangsa saat ini tidak lagi berbentuk penjajahan fisik, melainkan pertarungan membangun sumber daya manusia unggul, kompetitif, namun tetap memiliki karakter kebangsaan yang kuat. Ia menilai pendidikan, literasi, inovasi, dan gotong royong menjadi kunci agar Indonesia tidak tertinggal dalam perubahan zaman yang berlangsung cepat dan agresif.
“Melalui pendidikan, literasi, inovasi, dan semangat gotong royong, kita harus mampu menciptakan generasi yang siap menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri bangsa,” ujar Hetifah di senayan, Jakarta (22/5).
Pernyataan tersebut muncul di tengah realitas pendidikan nasional yang masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Ketimpangan kualitas sekolah antardaerah, rendahnya literasi digital, hingga persoalan kesejahteraan tenaga pendidik masih menjadi keluhan yang terus berulang. Di sisi lain, arus teknologi kecerdasan buatan dan digitalisasi bergerak jauh lebih cepat dibanding kesiapan sistem pendidikan nasional.
Hetifah mengatakan momentum Harkitnas menjadi refleksi bagi Komisi X DPR RI untuk memperkuat kinerja dan kedekatan dengan masyarakat. Ia menegaskan kebijakan di bidang pendidikan, kebudayaan, olahraga, riset, dan literasi tidak boleh berhenti pada tataran slogan, tetapi harus memberi dampak nyata dan terukur bagi rakyat.
Karena itu, Komisi X DPR RI, jelasnya, terus mendorong penguatan dialog publik, penyerapan aspirasi masyarakat, serta pengawasan terhadap program-program pemerintah agar lebih tepat sasaran. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat fungsi pengawasan parlemen akan diuji dari keberanian mengkritisi program pemerintah yang tidak efektif, bukan sekadar menjadi mitra formal kekuasaan.
Dalam pesannya kepada para guru saat peringatan Harkitnas di IKN Kalimantan Timur, Hetifah meminta para pendidik mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kebangsaan.
“Di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat, para pendidik harus adaptif, serta menjaga karakter, etika, dan semangat cinta tanah air dengan memanfaatkan teknologi untuk hal-hal positif dan inovatif,” pesannya.
Jurnalis: rendy/abri








