SURABAYA, beritalima.com | Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Ir. Herum Fajarwati MM, mengatakan, inflasi di Jawa Timur pada Mei 2026 year-on-year sebesar 3,49 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,83. Inflasi bulanan sebesar 0,28 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,43 persen.
“Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan adalah makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,57 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,75 persen, transportasi 0,41 persen, penyediaan makanan dan minuman atau restoran 0,23 persen, dan pendidikan 0,14 persen,” paparnya, Selasa (02/06/2026).
Disebutkan, inflasi tertinggi di Jawa Timur terjadi di Kabupaten Sumenep, yakni sebesar 5,12 persen, sedangkan inflasi terendah tercatat di Kabupaten Tulungagung, sebesar 2,84 persen.
Menurutnya, perkembangan inflasi tahunan Jawa Timur menunjukkan tren fluktuatif. Setelah mencapai 4,88 persen pada Februari 2026, inflasi turun menjadi 2,85 persen pada April 2026, dan kembali meningkat menjadi 3,49 persen pada Mei 2026.
Untuk ekspor – impor, lanjut Herum, nilai ekspor Jawa Timur selama periode Januari–April 2026 mencapai USD 8,52 miliar, meningkat 2,57 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan nilai impor Jawa Timur tercatat USD 10,39 miliar, naik 7,31 persen dibanding Januari–April 2025.
Sektor migas, ekspor pada Januari–April 2026 sebesar USD 0,15 miliar, sementara impor sebesar USD 1,65 miliar. Sedangkan sektor nonmigas, ekspor mencapai USD 8,38 miliar, dan Impor sebesar USD 8,74 miliar.
Negara tujuan ekspor nonmigas yang memberikan surplus terbesar bagi Jawa Timur selama Januari–April 2026 adalah Amerika Serikat sebesar USD 733,61 juta, Jepang USD 506,39 juta, dan Malaysia USD 314,80 juta.
Sementara negara penyumbang defisit nonmigas terbesar adalah Tiongkok, USD 1,224 miliar, kemudian Brasil USD 369,75 juta, dan Argentina USD 261,77 juta. (Gan)
Teks Foto: Plt. Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Ir. Herum Fajarwati MM.








