Jakarta, beritalima.com|- Udara pagi di Setu, Cilangkap (Jakarta Timur) terasa sedikit lembab, menyisakan sisa embun yang tadi sempat menempel di dedaunan depan rumah. Dari arah Masjid Jami Al-Hitmah Hidayah, samar-samar saya masih bisa mendengar sisa-sisa gaung pengumuman kegiatan warga.
Suara kendaraan melintas di jalanan depan rumah terdengar tidak terlalu padat hari ini, mungkin karena peringatan ulang tahun Jakarta ke-499. Saya menyesap kopi hitam saya, merasakan hangatnya menjalar di tenggorokan, sementara jemari saya meraba permukaan meja kayu yang sedikit kasar.
Duduk di sini, di teras, membuat saya berpikir tentang apa arti “usia” bagi sebuah kota sebesar Jakarta. Banyak orang bicara soal megahnya gedung, soal sejarah yang tertulis di buku-buku, atau tentang tugu emas yang katanya jadi ikon itu.
Tapi bagi saya penyandang diabiktas netra, Jakarta bukan soal apa terlihat oleh mata. Jakarta adalah tentang bagaimana trotoar yang saya pijak memberikan rasa aman—atau justru sebaliknya, ancaman—ketika kami melangkah dengan tongkat putih saya.
Tadi malam, saya sempat ngobrol dengan tim di PT Sinergi Hadi Sejahtera. Kami sedang mendiskusikan beberapa proyek kecil yang sedang berjalan. Salah satu teman saya bilang, “Abdul, Jakarta ini makin hari makin canggih.”
Saya hanya tersenyum. Bagi kami yang sehari-hari bergelut dengan tantangan aksesibilitas, kecanggihan itu tidak diukur dari seberapa banyak layar iklan digital yang terpasang di sudut jalan. Kecanggihan bagi saya adalah ketika kebijakan “inklusif” yang sering disebut-sebut itu tidak hanya jadi jargon dalam pidato perayaan.
Kita sering mendengar frasa “kota yang memanusiakan”. Kedengarannya manis sekali. Tapi, apakah kota ini sudah memanusiakan orang-orang yang jalannya tidak selurus jalan tol? Apakah kota ini benar-benar menjadi “ruang bersama” jika saya masih harus berdebar setiap kali mendengar deru motor yang naik ke trotoar?
Saya teringat filosofi “Jaya Raya” pada lambang kota kita. Saya memaknainya sebagai sebuah doa, tapi juga sebuah tuntutan. Menjadi jaya bukan berarti membiarkan mereka yang tertatih tersingkir dari derap langkah pembangunan.
Di kantor, kami selalu berpegang pada prinsip *Nothing About Us Without Us*. Apa pun yang direncanakan untuk warga, harus melibatkan warga itu sendiri, termasuk kami yang disabilitas. Karena hanya kami yang tahu, di titik mana kota ini masih terasa sempit untuk bernapas.
Jakarta usia 499 tahun. Angka yang fantastis. Di luar sana, mungkin kembang api sedang disiapkan, atau perayaan besar sedang dipersiapkan dengan segala keramaiannya. Saya memilih tetap di sini, di Setu, mendengarkan desah angin yang pelan menyentuh wajah.
Saya bertanya-tanya, apakah saat kita menginjak usia 500 tahun nanti, Jakarta akan menjadi tempat di mana saya tidak lagi merasa perlu “berjuang” hanya untuk sekadar melangkah ke toko sebelah? Apakah kota ini akan menjadi rumah yang benar-benar mengenal penghuninya, bukan sekadar ruang singgah bagi para pencari mimpi yang lelah?
Mungkin jawabannya tidak akan datang dari pidato atau perayaan hari ini. Jawabannya ada pada seberapa sering kita mau duduk bersama, mendengarkan keluh kesah yang paling jujur dari sudut-sudut kota yang mungkin belum terjamah pembangunan.
Anda sendiri, setelah hampir 500 tahun kota ini berdiri, bagian mana dari Jakarta yang paling membuat Anda merasa benar-benar diterima?
Oleh: abdul hadi, wartawan beritalima disabilitas netra








