Jaranan Agung Wilis Cluring, Warisan Budaya yang Tak Lekang Zaman

  • Whatsapp
Foto: Musik dan gerak tari membuat suasana pertunjukan semakin hidup, hingga penonton berbondong-bondong mendekat ke arena. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Denting gamelan, hentakan kaki penari dan gerak kuda kepang langsung menyedot perhatian warga Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, Minggu (9/8/2026). Di tengah hajatan warga, Jaranan Agung Wilis asal Desa Cluring tampil membawa jejak panjang tradisi jaranan yang berkembang di wilayah Cluring dan sekitarnya.

Tak hanya menampilkan atraksi kuda kepang, Jaranan Agung Wilis juga dikenal dengan kreasi campursari yang dipadukan dengan tari tradisional.

Bacaan Lainnya

Musik dan gerak tari membuat suasana pertunjukan semakin hidup, hingga penonton berbondong-bondong mendekat ke arena. Kesenian ini pun kerap diundang masyarakat untuk memeriahkan berbagai hajatan warga.

Memasuki bagian akhir, pertunjukan semakin meriah dengan sajian kolosal yang menjadi ciri khas Agung Wilis. Barong Prejeng Agung Wilis, Barong Kucing Hijau atau Keblak-keblak, hingga unsur Kebo-Keboan menjadi tontonan yang dinanti. Rangkaian tersebut menjadikan Agung Wilis bukan sekedar hiburan, tetapi juga bagian dari upaya nguri-uri seni dan budaya Banyuwangi.

Mbah Sony, salah satu penggiat seni, mengatakan keberadaan kesenian jaranan seperti Agung Wilis patut terus mendapat dukungan masyarakat.

Menurutnya, kesenian tradisional tidak semestinya hanya dipandang sebagai tontonan ketika ada hajatan. Di balik setiap pertunjukan terdapat proses panjang, mulai dari latihan penari, penabuh gamelan, perawatan properti, hingga regenerasi para pelaku seni.

“Jaranan ini bukan hanya tontonan. Ini bagian dari perjalanan kesenian masyarakat yang sudah lama hidup dan berkembang. Sejak zaman kolonial pun masyarakat sudah mengenal berbagai bentuk kesenian tradisional. Karena itu jangan sampai kesenian seperti ini hilang begitu saja,” ujar Mbah Sony.

Ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, ikut nguri-uri atau melestarikan kesenian daerah. Sebab, menurutnya, perkembangan zaman tidak harus membuat kesenian tradisional ditinggalkan.

Justru kreativitas seperti yang dilakukan Jaranan Agung Wilis, dengan memadukan unsur jaranan, campursari dan pertunjukan kolosal, dapat menjadi salah satu cara agar kesenian tradisional tetap diminati.

“Kalau tidak ada yang meneruskan, suatu saat hanya tinggal cerita. Maka anak-anak muda harus dikenalkan, diajak belajar, dan diberi ruang untuk tampil. Tradisi boleh berkembang mengikuti zaman, tetapi akar budayanya jangan sampai hilang,” pesannya.

Kehadiran Jaranan Agung Wilis di Desa Benculuk hari itu akhirnya bukan hanya menghadirkan keramaian sebuah hajatan. Lebih dari itu, pertunjukan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya hiburan modern, kesenian tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Dari gerak kuda kepang hingga kemunculan barong dan sajian kolosal, Agung Wilis menunjukkan bahwa tradisi akan tetap hidup selama masih ada masyarakat yang mau menonton, seniman yang mau berkarya, dan generasi muda yang bersedia nguri-uri warisan budaya. (Rony//B5)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait