Jaranan Buto Tamanagung, Ketika Seni Tradisi Tetap Hidup di Tengah Derasnya Teknologi

  • Whatsapp
Foto: HUT RI ke 81 di Desa Tamanagung menampilkan pekerjaan seni lokal warga Tamanagung Seni Jaranan Buto. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Derasnya perkembangan teknologi ternyata tak mampu menggeser kecintaan warga Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, terhadap kesenian tradisional. Di tengah generasi muda yang semakin akrab dengan dunia digital, seni Jaranan Buto justru tetap mendapat tempat di hati masyarakat.

Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi salah satu ruang bagi warga Tamanagung untuk kembali menunjukkan bahwa kesenian tradisional bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi warisan budaya yang masih bisa hidup dan berkembang mengikuti zaman.

Bacaan Lainnya

Dalam rangkaian perayaan kemerdekaan, berbagai kegiatan digelar masyarakat, mulai dari perlombaan hingga pertunjukan seni. Salah satu yang menjadi perhatian adalah penampilan Jaranan Buto, kesenian yang dimainkan langsung oleh para pelaku seni dari Desa Tamanagung.

Suasana pun berubah ketika pagelaran musik tradisional mulai dimainkan. Para penari tampil dengan karakter Buto yang kuat, gerakan energik, serta ekspresi penuh penghayatan. Pertunjukan tersebut bukan hanya menjadi hiburan bagi warga, tetapi sekaligus menjadi panggung bagi para pekerja seni lokal untuk menunjukkan kreativitasnya.

Kepala Desa Tamanagung, Suharto, mengatakan keberadaan para pelaku seni di tengah perkembangan teknologi merupakan sesuatu yang patut diapresiasi. Menurutnya, teknologi memang telah mengubah cara masyarakat menikmati hiburan, namun bukan berarti seni tradisional harus kehilangan ruang.

“Sekarang zamannya teknologi. Anak-anak muda lebih mudah melihat berbagai hiburan melalui handphone. Tetapi seni tradisional seperti Jaranan ini masih bisa bertahan karena masyarakat dan para pelaku seninya terus merawat dan menampilkannya,” ujar Suharto.

Ia menilai keberadaan pekerja seni di desa memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya. Mereka bukan hanya tampil ketika ada pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pewarisan budaya kepada generasi berikutnya.

Menurut Suharto, peringatan HUT Kemerdekaan tidak harus selalu dimaknai dengan perlombaan semata. Semangat kemerdekaan juga dapat diwujudkan melalui upaya menjaga kebudayaan yang diwariskan para leluhur.

“Dalam rangkaian Agustusan ini kami mengadakan berbagai perlombaan dan pertunjukan. Salah satunya Jaranan Buto. Kami ingin memberikan ruang kepada pekerja seni untuk tampil sekaligus mengenalkan kesenian ini kepada generasi muda,” tambahnya.

Jaranan Buto memiliki daya tarik tersendiri. Karakter Buto yang digambarkan melalui riasan, kostum, gerak tubuh dan ekspresi para penari membuat pertunjukan terlihat gagah, keras dan penuh energi.

Namun di balik penampilannya yang menyeramkan, Jaranan Buto dapat dimaknai sebagai gambaran tentang pertarungan manusia dalam menghadapi berbagai kekuatan dan tantangan kehidupan.

Sosok Buto dapat menjadi simbol kekuatan, keberanian dan hawa nafsu manusia. Sementara gerakan para penari yang dinamis menggambarkan perjalanan kehidupan yang tidak selalu mudah. Ada pergulatan antara keberanian dan ketakutan, antara keinginan dan pengendalian diri.

Pesan yang dapat dipetik adalah bahwa manusia harus mampu mengendalikan kekuatan dalam dirinya agar tidak berubah menjadi sesuatu yang merugikan. Keberanian bukan berarti bebas melakukan apa saja, tetapi keberanian untuk mengendalikan diri, menjaga keseimbangan dan menghadapi persoalan kehidupan.

Bagi masyarakat Tamanagung, pertunjukan Jaranan Buto juga menjadi simbol bahwa tradisi tidak harus berhadapan dengan kemajuan zaman. Keduanya justru bisa berjalan berdampingan.

Teknologi dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan seni tradisional kepada khalayak yang lebih luas. Sementara panggung-panggung desa menjadi ruang nyata bagi para seniman untuk terus berkarya dan menjaga denyut kesenian lokal.

Dari halaman desa hingga panggung perayaan kemerdekaan, Jaranan Buto Tamanagung seolah ingin menyampaikan satu pesan sederhana: selama masih ada masyarakat yang mau mencintai dan seniman yang mau berkarya, kesenian tradisional tidak akan mati dimakan zaman.

HUT ke-81 Kemerdekaan RI akhirnya bukan hanya menjadi perayaan tentang perjalanan bangsa, tetapi juga menjadi momentum untuk merawat identitas budaya yang tumbuh dari desa—agar tetap hidup, dikenal dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. (Rny//B5)

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait