Jual Mobil Demi Sound Horeg, Petani Banyuwangi Pilih Kejar Kebahagiaan di Kirab Budaya Desa Tampo

  • Whatsapp
Foto: Heri yang rela karena ingin tampil sampai jual mobil. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Bagi sebagian orang, mobil merupakan aset berharga yang menjadi simbol keberhasilan hidup. Namun, bagi Hari, seorang petani asal Dusun Simbar 2, Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, kebahagiaan memiliki makna yang berbeda. Demi mewujudkan impiannya tampil di Kirab Budaya Desa Tampo 2026, ia rela menjual mobil pribadinya untuk membeli seperangkat sound horeg.

Keputusan itu sempat membuat banyak orang terkejut. Tidak sedikit tetangga maupun kerabat yang mempertanyakan alasan seorang petani menjual mobil hanya demi membeli sound system. Namun, Hari mengaku telah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Menurutnya, kebahagiaan tidak selalu diukur dari barang yang dimiliki, melainkan dari kepuasan menjalani hobi yang dicintai.

Bacaan Lainnya

Foto: Heri sedang membenahi sound barunya yang diangkut truk. (Doc,Rony Subhan)

Hasil penjualan mobil itu kemudian ditambah dengan tabungan yang selama ini ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Uang tersebut digunakan untuk berburu perangkat audio berkekuatan besar di Brewok Audio, Blitar, toko sound system yang cukup dikenal di kalangan pecinta sound horeg dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Tak tanggung-tanggung, Hari membeli delapan unit subwoofer, 6 unit speaker (kruwek), dua unit power amplifier, satu mixer serta dua buah sub box baru. Seluruh perangkat itu dibeli pada Juli 2026 dengan satu tujuan, yakni bisa ikut memeriahkan Kirab Budaya Desa Tampo yang digelar pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

Sayangnya, harapan tampil sesuai urutan peserta tidak berjalan mulus. Hari mendaftarkan kelompoknya setelah proses pengundian nomor peserta selesai sehingga namanya tidak masuk dalam daftar nomor urut kirab. Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan semangatnya. Baginya, yang terpenting adalah bisa menjadi bagian dari kemeriahan pesta budaya masyarakat desanya.

Foto: Tim Hari persiapan cek sound. (Doc, Rony Subhan)

Persiapan pun dilakukan dengan penuh keseriusan. Sejak Kamis malam, Hari bersama anggota tim mulai merakit dan memasang seluruh perangkat sound baru di atas truk. Mereka bekerja hingga dini hari untuk memastikan semua instalasi, kabel, power, dan susunan speaker benar-benar siap digunakan saat cek sound maupun pelaksanaan kirab.

Malam sebelum kirab menjadi momen yang paling ditunggu. Seluruh kelompok sound horeg dijadwalkan melakukan cek sound untuk menguji performa perangkat masing-masing. Bagi Hari, dentuman pertama dari sound barunya menjadi bukti bahwa perjuangan menjual mobil demi mengejar impian akhirnya terwujud.

Kirab Budaya Desa Tampo tahun ini dipastikan berlangsung meriah. Sebanyak 18 unit sound horeg akan memadati jalur kirab sepanjang kurang lebih empat kilometer. Ribuan warga diperkirakan memadati tepi jalan untuk menyaksikan iring-iringan peserta dengan berbagai kreasi seni, budaya, serta dentuman sound berdaya tinggi yang menjadi ciri khas perayaan tersebut.

Di balik kontroversi sound horeg yang sering menuai pro dan kontra karena kebisingannya, bagi Hari kegiatan ini justru menjadi ajang mempererat persaudaraan. Ia mengaku banyak bertemu teman baru, bekerja sama dalam satu tim, dan merasakan kebersamaan yang sulit dinilai dengan materi.

“Yang penting saya dan keluarga bisa bahagia, itu sudah saya syukuri. Bahagia itu tidak bisa diukur dengan harta. Makanya saya membeli sound system di Brewok Audio Blitar,” ujar Hari.

Foto: Hari saat membeli satu set sound horeg di Brewok audio kita Belitar. (Doc, Hasil kroping video)

Kisah petani asal Simbar 2 itu pun menjadi gambaran bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengejar kebahagiaan. Bagi Hari, suara dentuman sound horeg di kirab budaya bukan sekedar hiburan, melainkan impian yang akhirnya berhasil diwujudkan dengan penuh pengorbanan. (Rony//B5)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait