BANYUWANGI,Beritalima.com – Di balik meriahnya Pawai Budaya Puja Seri 1 di Kecamatan Gambiran, ada sosok Kepala Desa Purwodadi, Suyanto, yang memilih satu prinsip sederhana dalam mengambil keputusan: mendengarkan apa yang diinginkan warganya.
Tahun ini, suara warga kembali menghendaki agar kemeriahan sound horeg tetap hadir dalam rangkaian Pawai Budaya. Suyanto pun tidak mengambil keputusan sendiri. Setelah melalui pembicaraan dan mendapat persetujuan masyarakat, sound horeg kembali menjadi bagian dari pesta rakyat di Desa Purwodadi.

Bagi warga, Suyanto bukan sekedar kepala desa yang berada di belakang meja. Sosok yang akrab disapa Pak Yanto itu dikenal sebagai pemimpin yang mau turun mendengar langsung aspirasi masyarakat dan memahami apa yang menjadi keinginan warganya.
“Saya hanya menjalankan apa yang menjadi kesepakatan dan keinginan masyarakat. Kalau warga menghendaki kegiatan ini dilaksanakan, tentu kita dukung, tetapi tetap harus ada aturan dan kesepakatan yang kita jaga bersama,” ujar Suyanto.
Menurutnya, kemeriahan sound horeg bukan semata-mata persoalan suara musik. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari ekspresi masyarakat dalam menyambut dan memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Karena itu, sejak awal pihak desa bersama panitia berupaya agar kegiatan dapat berlangsung meriah sekaligus tetap memperhatikan kenyamanan masyarakat.
“Yang penting bagaimana kita bisa bergembira bersama. Jangan sampai kegembiraan kita justru mengganggu orang lain. Jadi ketertiban, keamanan, kebersihan dan saling menghormati harus tetap menjadi kesepakatan bersama,” tambahnya.
Sementara itu, kemeriahan Pawai Budaya Puja Seri 1 benar-benar terasa ketika 22 peserta mulai melintasi jalur sepanjang kurang lebih 4 kilometer yang menghubungkan Desa Purwodadi dan Desa Jajaq.
Seluruh peserta tampil dengan konsep masing-masing. Tidak hanya mengandalkan kemegahan sound horeg, kreativitas busana dan penampilan juga menjadi daya tarik utama.
Ada peserta yang mengangkat nuansa adat Jawa, lengkap dengan busana tradisional dan ornamen khas. Namun ada pula yang tampil dengan konsep lebih modern dan glamor, bahkan penampilannya sekilas mengingatkan pada kemeriahan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC).
Perpaduan tradisional dan modern tersebut membuat pawai semakin berwarna. Setiap peserta seolah berlomba menunjukkan kreativitas terbaiknya di hadapan ribuan pasang mata yang memadati sepanjang jalur.
Bagi Suyanto, keberhasilan acara bukan hanya ketika peserta mampu tampil spektakuler, tetapi ketika masyarakat bisa menikmati seluruh rangkaian kegiatan dengan rasa senang dan tanpa meninggalkan rasa aman serta nyaman.
“Kita ingin masyarakat bergembira, peserta juga puas, tetapi semuanya tetap berjalan tertib. Inilah pesta rakyat. Kita rayakan bersama, kita jaga bersama, dan hasilnya juga bisa dinikmati bersama,” pungkasnya.

Pawai Budaya Puja Seri 1 akhirnya bukan sekadar parade 22 peserta di jalan desa. Ia menjadi gambaran bagaimana tradisi, kreativitas anak muda, hiburan dan suara masyarakat berpadu dalam satu perayaan kemerdekaan.
Ditengah dentuman sound horeg serta gemerlap kostum peserta, ada satu hal yang menjadi pesan penting dari Desa Purwodadi: kemeriahan akan terasa lebih indah ketika lahir dari kesepakatan dan dinikmati bersama. (Rony//B5)







