BANYUWANGI,Beritalima.com – Semarak memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, berlangsung meriah. Bukan sekedar karnaval, kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai sekaligus melestarikan seni dan budaya Indonesia dalam bingkai kebhinekaan.
Mengusung tema “Harmoni Hasil Bumi dan Budaya”, karnaval yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB itu melibatkan lima sekolah dasar (SD) dan satu Sekolah Luar Biasa (SLB). Para siswa tampil mengenakan beragam kostum dan membawa konsep pertunjukan yang menggambarkan kekayaan budaya serta kehidupan masyarakat Indonesia.
Yang menarik, kemeriahan tidak hanya datang dari para siswa. Para orang tua yang tergabung dalam paguyuban wali murid turut turun tangan mendukung penampilan anak-anak mereka. Kekompakan antara siswa, guru dan orang tua terlihat sejak persiapan hingga pertunjukan berlangsung.
Rute karnaval dimulai dari depan Kantor Desa Wringinagung dan menempuh perjalanan sekitar empat kilometer hingga kawasan depan Kantor Bintang Tenggara. Sepanjang perjalanan, warga berjubel di tepi jalan menyaksikan kreativitas peserta.

Kepala Desa Wringinagung, Kondang, mengatakan karnaval anak-anak tersebut merupakan salah satu agenda yang selalu digelar pemerintah desa dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI.
“Setiap memperingati ulang tahun kemerdekaan, kami selalu berusaha mengadakan kegiatan yang melibatkan masyarakat. Salah satunya karnaval desa untuk anak-anak sekolah,” ujar Kondang.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya untuk hiburan atau memeriahkan suasana kemerdekaan. Lebih dari itu, anak-anak diajak mengenal akar budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia sejak usia dini.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya tahu tentang kemerdekaan, tetapi juga memahami bahwa Indonesia ini memiliki banyak budaya, tradisi dan kehidupan masyarakat yang berbeda-beda. Semua itu harus dihargai dan dijaga dalam kebhinekaan,” jelasnya.
Kondang menambahkan, tema “Harmoni Hasil Bumi dan Budaya” sengaja dipilih karena pertanian merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat desa. Melalui karnaval, anak-anak diharapkan memahami bahwa hasil bumi tidak hadir begitu saja, tetapi melalui perjuangan dan kerja keras para petani.
“Harapannya anak-anak bisa menghargai jerih payah petani, mencintai hasil bumi daerahnya, sekaligus mencintai budaya sendiri. Kalau sejak kecil sudah dikenalkan, insyaallah mereka akan menjadi generasi yang ikut menjaga budaya dan ketahanan pangan,” katanya.

Drama Dewi Sri, Gambarkan Jerih Payah Petani
Kreativitas peserta semakin terlihat ketika mereka tampil di panggung kehormatan di depan balai desa. Masing-masing peserta menyuguhkan konsep terbaiknya dengan kostum warna-warni, tarian hingga drama kolosal yang tetap mengacu pada tema besar kegiatan.
Salah satu pertunjukan yang mencuri perhatian adalah drama yang mengangkat kisah Dewi Sri, simbol yang lekat dengan kehidupan pertanian. Anak-anak menggambarkan bagaimana perjuangan masyarakat, khususnya petani, dalam menghasilkan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan.
Pertunjukan tersebut seolah mengingatkan penonton bahwa di balik nasi yang tersaji di meja makan, terdapat proses panjang dan jerih payah para petani yang harus dihargai.
Kekompakan para siswa saat menari dan memainkan drama pun menuai pujian dari masyarakat.
“Sungguh menarik. Anak-anak ini tampil kompak, tariannya juga sudah seperti orang dewasa. Kreativitas mereka luar biasa,” ujar seorang pengunjung, Yanto.
Sementara itu, salah seorang wali murid, Rima, mengatakan persiapan pertunjukan melibatkan kekompakan para orang tua melalui paguyuban wali murid.
“Mulai kelas satu sampai kelas enam ikut. Dibagi menjadi lima tema. Pokoknya tentang ketahanan pangan dan ini juga menunjukkan kekompakan paguyuban wali murid,” ungkapnya.
Menurut Rima, keterlibatan orang tua menjadi bagian penting karena anak-anak tidak bisa berdiri sendiri. Dukungan orang tua, guru dan masyarakat menjadi kekuatan tersendiri sehingga penampilan mereka dapat dipersiapkan secara maksimal.

Ribuan Penonton Terpukau
Kemeriahan semakin terasa ketika seluruh peserta tiba di panggung kehormatan. Ribuan penonton memadati sepanjang jalur hingga lokasi pertunjukan. Sorak dan tepuk tangan terdengar setiap kali peserta menampilkan aksi terbaiknya.
Di panggung kehormatan yang berada di depan balai desa, seluruh peserta tampil di hadapan Kepala Desa Wringinagung beserta perangkat desa, BPD dan panitia penyelenggara.
Setiap penampilan memiliki warna berbeda, namun memiliki benang merah yang sama: mengenalkan hasil bumi, budaya dan kehidupan masyarakat kepada generasi penerus.
Karnaval tersebut akhirnya bukan sekadar tontonan dalam rangka HUT RI ke-81. Lebih dari itu, menjadi panggung bagi anak-anak untuk belajar tentang keberagaman, kerja keras, kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya Indonesia.
Semangat kemerdekaan pun terasa semakin hidup ketika generasi muda tampil membawa pesan bahwa kebhinekaan bukan sekadar slogan, tetapi sesuatu yang harus dikenalkan, dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui “Harmoni Hasil Bumi dan Budaya”, Desa Wringinagung menunjukkan bahwa kemeriahan kemerdekaan dapat menjadi sarana pendidikan budaya sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat. (Rony//B5)







