Jakarta | beritalima.com – Kegiatan rutin tahunan jelang Kemerdekaan RI, tahun 2026 ini yang ke – 81 banyak kegiatan kegiatan mulai dari diskusi sampai jalan setapak sepanjang 2 km lebih, dari Gedung Joang 45, ke Tugu Proklamasi sampai ke Museum Naskah Proklamasi Jalan Imam Bonjol 51, Menteng, Jakarta Pusat.
Di Rumah Bung Hatta, Proklamator RI, Jalan Diponegoro 57, Menteng selalu rutin open house bagi siapa saja yang melintas terutama bagi yang melaksanakan jalan setapak bisa mampir sejenak dari Tugu Proklamasi menghilangkan dahaga sambil menikmati kuliner asli Indonesia sebelum melanjutkan ke Museum Naskah Proklamasi.
Open house tersebut didukung oleh kelompok kuliner dan jajanan tradisional terlihat beberapa makanan dan minuman yang beraneka ragam, juga jajanan tradisional tanpa pengawet yang diolah oleh Dea Yulianti, yang juga pemiliki Alarice Spatula yang melayani pesanan Tumpeng, Catering, Snack Box, Snack Platter, Mooncake 3D, dan melayani pembuatan Birthday Cake.
Lebih lanjut dalam kegiatan rutin jelang Kemerdekaan RI, diterangkan Gemala Rabi’ah Hatta, putri proklamator Bung Hatta mengatakan ada berbagai kegiatan di Taman Proklamasi, mulai dari atraksi, ada yang menjadi Soekarno – Hatta, ada deklarasi, anak pramuka bernyanyi bersama.
Lebih jauh diungkapkan Gemala, kendati kemerdekaan telah melintasi generasi silent (Gen Silent) sampai Gen Beta, Indonesia yang sudah memasuki Kemerdekaan yang ke – 81 menurutnya masih belum berkembang. Angka kemiskinan masih tinggi dibanding Scandinavian dan New Zealand terbilang kecil gapnya.
Ironisnya dikatakan Gemala, era sekarang lebih parah daripada yang lalu lalu makipun pembangunan ada tapi kejujuran makin merosot.
“Tapi kejujuran makin merosot dan ini yang sangat mengkhawatirkan, jadi agama yang diajarkan itu sekedar seremonial. Padahal seharusnya kalau mereka disumpah dengan kitab-kitab suci. Itu mereka harusnya sangat takut dengan perbuatan yang kotor di mata Tuhan,” terangnya.
Lebih tegasnya menurut Gemala, harusnya meniru seperti Negara-Negara yang berani membabat para koruptor. Apalagi Tiongkok, terbilang sangat luar biasa, tidak pandang bulu, langsung ditembak.
“Jadi saya kepingin Indonesia itu tidak usah pakai hukuman mati ditembak tapi asal diminta untuk jangan tidak jujur, harusnya mereka menjadi jujur karena jujur itu menjadi yang paling dominan jangan sampai beragama tapi tidak berperilaku jujur, agama cuma numpang lewat saja,” tandasnya.
Juga diungkapkan Meutia Farida Hatta Swasono, senada seperti yang ungkapkan Gemala, masih belum berkembang. Namun yang diungkapkan Meutia Hatta belum semua tercapai.
“Kembalilah kepada pendiri negara yang memerdekakan Indonesia, satu alur mencapai Indonesia merdeka, bersatu, berdaulat menuju masyarakat adil dan makmur,” tandasnya.
Menurutnya satu nafas, satu alur, satu cita cita ke depan sampai tercapai masyarakat adil dan makmur tidak boleh terpecah pecah.
“Kita punya satu Negara Indonesia, kita ini suku bangsanya banyak, bahasa bahasanya banyak, adat istiadatnya banyak tapi kita satu bangsa Indonesia. Nilai budaya Pancasila dan norma budayanya Undang-Undang Dasar 1945, itu saja,” pungkas Meutia Hatta.
Namun pesan dari Meutia Hatta di akhir kata, agar (kita) bangsa Indonesia bersatu padu membangun negeri yang tercinta ini.
Jurnalis: dedy








