Jakarta, beritalima.com| – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) terus mendorong pemulihan ekraf pascabencana di Sumatera Barat, khususnya Kota Payakumbuh, salah satunya melalui program Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Anyam dan Sulam dalam Rangka Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab-Rekons).
“Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda Ekraf Peduli, sebagai wujud kepedulian dan komitmen Kementerian Ekraf dalam mendampingi para pelaku ekonomi kreatif untuk kembali pulih, memperkuat usaha, dan bangkit, melalui semangat ‘Pulih Bersama, Bangkit Berdaya’. Karena pendampingan yang berkelanjutan akan memastikan ekosistem kriya daerah semakin tangguh menghadapi tantangan,” ujar Wakil Menteri Ekraf Irene Umar (27/8).
Irene mengatakan, sektor kerajinan anyaman dan sulam merupakan warisan budaya sekaligus salah satu penopang ekonomi kerakyatan yang potensial di Payakumbuh. Dalam upaya memulihkan ekonomi kreatif di Sumatera Barat, produk sulam dan anyam perlu terus dikembangkan agar memiliki nilai tambah dan semakin berdaya saing, baik di pasar nasional maupun internasional.
Penguatan potensi lokal ini selaras dengan tren pertumbuhan ekraf nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Ekraf, subsektor kriya terus menunjukkan kinerja positif. Nilai ekspornya meningkat dari USD3,47 miliar pada Januari-April 2025 menjadi USD3,82 miliar pada periode sama 2026. Pada 2025, subsektor kriya juga berkontribusi 10,7% terhadap ekonomi kreatif, dengan pertumbuhan sebesar 2,36%.
“Ingat satu hal, cerita pada sebuah produk itu penting agar pembeli tahu alasan dan makna di balik barang yang mereka beli. Tanpa adanya cerita, orang hanya akan melihat barang dari keindahan bentuk dan harganya saja. Padahal buatan tangan manusia mengandung nilai sejarah dan doa yang tidak pernah bisa digantikan oleh mesin, ketika pembeli memahami cerita di baliknya, saya yakin produk lokal ini tidak hanya bernilai tinggi, tetapi juga mampu menembus pasar yang lebih luas,” ungkap Irene.
Program Kriyasi Anyam Kementerian Ekraf berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Payakumbuh untuk mempercepat pemulihan dan meningkatkan kapasitas pelaku usaha kriya yang terdampak bencana. Pendampingan dilakukan melalui pengembangan desain, peningkatan keterampilan produksi, serta pengembangan produk sesuai kebutuhan pasar.
Workshop ini diikuti 50 peserta, terdiri atas 25 perajin kriya anyam dan 25 perajin kriya sulam. Peserta mendapatkan pemaparan dan praktik langsung dari Rumpun Consulting untuk produk sulam serta Balai Besar Kerajinan dan Batik untuk produk anyam.
“Kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat bermanfaat bagi para pelaku kriya. Kami tidak hanya mendapatkan ilmu dan pendampingan, tetapi juga motivasi untuk terus berinovasi serta mengembangkan produk anyaman agar memiliki kualitas dan daya saing yang lebih baik. Semoga melalui kegiatan ini, produk kriya lokal dapat semakin maju dan memiliki peluang yang lebih besar untuk dikenal hingga ke pasar yang lebih luas,” cerita Peserta Program Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Anyam dan Sulam, Maipanis.
Jurnalis: abri/rendy








