Jakarta, beritalima.com| – Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini kritik tajam terhadap tata kelola pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata yang dinilai masih terlalu berorientasi pada investasi, namun belum memberikan perlindungan yang memadai terhadap hak-hak masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Novita dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan Badan Pengelola Otorita Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta (1/7).
“Yang saya lihat, paparan pemerintah lebih banyak berbicara soal promosi investasi dan pendampingan investor. Tetapi saya tidak melihat strategi yang jelas mengenai perlindungan hak masyarakat maupun mitigasi konflik agraria yang kerap muncul dalam pembangunan KEK,” ujar politisi muda fraksi PDI Perjuangan itu.
Ia mengungkapkan telah menerima sejumlah aspirasi masyarakat terkait konflik lahan di kawasan pariwisata, termasuk dugaan maladministrasi dalam perubahan status kepemilikan tanah yang merugikan warga.
“Rakyat kecil tidak boleh menjadi korban akibat kegagalan sistem atau maladministrasi negara. Pemerintah harus hadir membela hak masyarakat, bukan hanya mengejar masuknya investasi,” tuturnya.
Selain menyoroti konflik agraria, Novita singgung belum meratanya pembangunan destinasi wisata nasional. Ia meminta Kemenpar mulai memberi perhatian kepada kawasan Jawa Timur Selatan, meliputi Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Magetan, dan Ngawi, yang dinilai memiliki potensi besar berbasis wisata alam namun belum masuk agenda pengembangan KEK.
“Pemerataan pembangunan pariwisata harus menjadi prioritas. Daerah-daerah yang memiliki potensi besar juga harus diberi kesempatan berkembang melalui skema KEK di masa mendatang,” sorotnya.
Tak hanya itu, Novita menilai lemahnya sinergi antar-kementerian dalam memanfaatkan momentum FIFA World Cup 2026 sebagai penggerak pariwisata nasional. Menurutnya, Kemenpar seharusnya berkolaborasi dengan TVRI dan kementerian terkait untuk mempromosikan destinasi wisata Indonesia selama siaran Piala Dunia yang disaksikan jutaan masyarakat.
“Kita sudah mengeluarkan anggaran besar, tetapi belum mampu memonetisasi momentum global seperti Piala Dunia. Saya tidak melihat promosi sport tourism maupun destinasi unggulan Indonesia dalam siaran yang menjangkau masyarakat luas,” terangnya.
Di sisi lain, perempuan asal Trenggalek itu juga mempertanyakan penurunan tajam kunjungan wisatawan di sejumlah kawasan otorita sepanjang 2025 yang berdampak pada turunnya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Jadi, pemerintah hanya menyajikan angka penurunan tanpa disertai analisis penyebab maupun strategi pemulihan.
“Kami membutuhkan root cause analysis yang jelas. Apakah penurunannya dipicu persoalan konflik lahan, infrastruktur, kualitas SDM, atau lemahnya tata kelola. Jangan hanya menyampaikan data tanpa solusi,” ungkapya.
Jurnalis: rendy/abri








