PALEMBANG, BeritaLima.Com
Suasana upacara bendera di SMK Negeri 2 Palembang hari ini berlangsung dengan nuansa yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain mengenakan seragam batik jumputan atau pakaian adat nasional sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya, acara ini menjadi momen penting bagi Kepala Sekolah, H. Suparman, S.Pd., M.Si., untuk menyampaikan dua pesan kunci: apresiasi atas prestasi siswa dan peringatan keras terkait isu provokasi yang meresahkan.
Prestasi Gemilang di Tengah Ketegangan
Di awal sambutannya, H. Suparman menyoroti pencapaian membanggakan para siswanya. Salah satu siswa dari bidang robotik berhasil meraih peringkat keenam dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Nasional di Jakarta. Selain itu, dalam kompetisi daring, kontingen sekolah juga berhasil membawa pulang medali emas, tiga perak, dan dua perunggu, bersaing ketat dengan sekolah-sekolah unggulan dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Kalimantan, dan Banten.
Tak hanya di bidang akademik dan teknologi, SMK Negeri 2 Palembang juga menunjukkan dominasi di bidang seni. Dalam kejuaraan drumband kategori “Kamben”, sekolah ini berhasil meraih Juara 1, mengungguli kompetitor seperti SMK Negeri 6 Palembang.
Waspadai Provokator dan Isu Hoax
Meski disibukkan dengan prestasi, H. Suparman tidak menutup mata terhadap situasi keamanan terkini. Ia menegaskan bahwa insiden kerusuhan atau penyerangan yang melibatkan oknum pelajar beberapa waktu lalu didalangi oleh provokator yang memanfaatkan kemulusan hati siswa.
“Jangan sampai kita termakan isu. Anak-anak SMK Negeri kita ini baik-baik semua, tetapi terhasut oleh provokator yang bahkan kita tidak tahu siapa ketuanya atau aliansi apa namanya,” tegas Suparman.
Ia membantah keras narasi bahwa siswa SMK Negeri 2 akan menyerang siswa SMP atau sekolah lain. Menurutnya, narasi tersebut adalah hasutan murni. Pihak sekolah telah berkoordinasi dengan Polda Sumatera Selatan untuk mengidentifikasi dalang di balik kerusuhan tersebut. Berdasarkan hasil identifikasi, terduga pelaku utama bukanlah murni siswa aktif, melainkan bisa jadi melibatkan orang luar, alumni, pengangguran, atau individu dengan motif sakit hati yang menyusup dan menghasut siswa yang masih polos.
“Sekarang sudah ada gambar jelas dari CCTV. Kami koordinasikan dengan Polda, dan sekolah-sekolah yang siswanya terindikasi terlibat sudah didatangi untuk dihimbau agar tidak mengulangi perbuatan,” tambahnya.
Peringatan Keras: Masa Depan Taruhan
Menyikapi hal tersebut, Kepala Sekolah memberikan peringatan keras kepada seluruh siswa. Bagi mereka yang kedapatan nongkrong tanpa tujuan, bolos sekolah, atau terlibat dalam aksi anarkis, sanksi tegas akan diterapkan. Siswa yang bermasalah akan dikembalikan kepada orang tua dan dilaporkan ke kepolisian.
H. Suparman menekankan dampak jangka panjang dari tindakan kriminalitas remaja. “Jika sudah ada catatan kepolisian, masa depan kalian bisa hancur. Saat ingin mengikuti tes kedinasan atau pekerjaan lainnya, Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) menjadi syarat utama. Jika ada catatan buruk, peluang itu hilang,” ujarnya.
Sikap serupa juga ditegaskan oleh Kasubdit Sospol Dit Intelkam Polda Sumsel, AKBP Karminto, SH., MH. Ia menghimbau agar setelah upacara, siswa langsung pulang ke rumah masing-masing dan menghindari kegiatan nongkrong yang berpotensi memicu kenakalan remaja.
“Pihak kepolisian terus memantau dan mengidentifikasi aktor intelektual di balik kerusuhan. Kami meminta dukungan orang tua untuk mengawasi anak-anaknya. Fokuslah pada belajar dan mengejar cita-cita, jangan biarkan inovasi dan kreativitas kalian terkubur oleh kenakalan sesaat,” tutup AKBP Karminto.
Hingga saat ini, situasi di sekitar lingkungan sekolah terpantau kondusif berkat patroli gabungan dan himbauan intensif dari pihak sekolah maupun aparat keamanan. ( Nn)








