Ketika Orang Pintar Mulai Dianggap ‘Goblok’

  • Whatsapp
Ketika Orang Pintar Mulai Dianggap 'Goblok (foto: abri)

Jakarta, beritalima.com|- Sulit rasanya untuk terbiasa mendengar seorang Presiden menyalahkan, merendahkan, bahkan memaki orang lain di ruang publik. Yang kerap menjadi sasaran adalah mereka yang disebut sebagai kaum elit: para pakar, pengamat, jurnalis (wartawan), aktivis LSM, bahkan direksi BUMN.

Dalam acara HUT ke-28 Partai Amanat Nasional atau PAN (18/9), Presiden Prabowo Subianto kembali menyinggung para pakar dengan mengatakan: “terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya jadi goblok!”

Ucapan itu disambut sorakan dan teriakan nama Prabowo dari peserta acara. Mungkin maksudnya adalah menyampaikan pesan secara tegas, dibalut gaya humor khas Presiden. Tetapi bagi saya, cara seperti ini jauh dari meyakinkan. Sering kali justru terasa menyakitkan.

Seolah tidak ada cara lain. Tidak ada kalimat lain. Tidak ada narasi lain yang lebih elegan untuk menyampaikan ketidaksetujuan. Padahal “ketegasan tidak membutuhkan penghinaan.”

Pakar memang tidak selalu benar. Pengamat bisa keliru. Jurnalis/wartawan bisa kurang akurat. Aktivis bisa bias. Direksi BUMN pun bisa membuat keputusan keliru. Tetapi ketika mereka salah, bantahlah dengan data, argumentasi dan bukti.

Sebab, membantah pendapat adalah bagian dari demokrasi; merendahkan orang yang berbeda pendapat adalah persoalan lain.

Dan di sinilah saya melihat sesuatu yang lebih mengkhawatirkan: muncul kesan kekuasaan semakin fasih menolak suara yang tidak sejalan, sementara pihak berbeda kian mudah ditempatkan sebagai orang yang tidak mengerti, tidak patriotik, atau bahkan “goblok”.

Kalau pola seperti ini terus dinormalisasi, persoalannya bukan lagi satu kata. Ini tentang “budaya kekuasaan.” Hari ini yang ditertawakan pakar. Besok profesor. Lusa akademisi. Berikutnya jurnalis, aktivis, pengamat, atau siapa pun yang berani berkata: “Pak, menurut data, keputusan ini keliru.”

Al-Qur’an mengingatkan, Allah memberikan manusia “pendengaran, penglihatan dan hati* sebagai karunia untuk menerima dan menimbang” (QS. As-Sajdah: 9). Lalu QS. Al-Baqarah: 7 dan 18 menggambarkan kondisi manusia memiliki telinga dan mata, tetapi kehilangan kemampuan untuk benar-benar mendengar dan melihat kebenaran.

Ayat-ayat itu bukan untuk memberi label kepada siapa pun. Justru sebaliknya, ia adalah “peringatan bagi kita semua.”

Jangan sampai seorang pemimpin memiliki telinga tetapi hanya mau mendengar pujian. Memiliki mata tetapi hanya melihat apa yang ingin dilihat. Dan memiliki kekuasaan tetapi kehilangan ruang untuk mendengar suara yang berbeda.

Pemimpin tidak harus mengikuti semua pendapat pakar. Tetapi pemimpin yang kuat seharusnya cukup percaya diri untuk berkata: “Tunjukkan datanya. Kalau saya salah, saya siap memperbaiki.” Itulah intellectual humility.

Sebab orang-orang yang selalu berkata “iya, Pak” mungkin membuat kekuasaan terasa nyaman. Tetapi orang yang berani berkata “tidak, Pak”, justru bisa menjadi rem terakhir sebelum sebuah keputusan berubah menjadi kesalahan besar.

Karena itu, persoalannya bukan siapa yang pintar dan siapa yang goblok. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Ketika kebenaran datang dalam bentuk yang tidak kita sukai, apakah kita masih mau mendengarnya?

Sebab Allah sudah memberi kita telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, dan hati untuk menimbang. Yang sering menjadi masalah bukan kurangnya kemampuan untuk mengetahui kebenaran, tetapi kesediaan untuk menerimanya.

“Dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; sedikit sekali kamu bersyukur” (QS. As-Sajdah: 9).

oleh: airvin hardani, pemerhati pasar modal dan kebangsaan.

beritalima.com

Pos terkait