KHC Kaliploso Makin Spektakuler, Tradisi Kirim Leluhur Dikemas Jadi Festival Budaya

  • Whatsapp
Foto: KHC (Kaliploso Horti Carnival) kembali digelar spektakuler bertepatan dengan rangkaian Hari Jadi Desa Kaliploso, dengan mengangkat tema “Kirim Leluhur”. (Doc,Mbah Adam)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Lapangan Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, berubah menjadi panggung besar kebudayaan dan kreativitas masyarakat. Gelaran KHC (Kaliploso Horti Carnival) kembali digelar spektakuler bertepatan dengan rangkaian Hari Jadi Desa Kaliploso, dengan mengangkat tema “Kirim Leluhur”.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, tanggal 4 hingga 6, tersebut bukan sekadar pertunjukan hiburan. Di balik kemeriahan karnaval, pentas seni dan geliat para pelaku UMKM, terselip pesan kuat tentang bagaimana masyarakat menjaga tradisi, mengenalkan budaya kepada generasi muda sekaligus menggerakkan roda perekonomian desa.

Bacaan Lainnya

Tradisi Kirim Leluhur menjadi benang merah dalam pelaksanaan KHC tahun ini. Sebuah tradisi Jawa yang sarat makna, mulai dari mendoakan para leluhur, bersedekah, hingga membangun kebersamaan melalui gotong royong.

Semangat tersebut terlihat dari keterlibatan masyarakat Desa Kaliploso. Pemerintah desa bersama warga bahu-membahu menyiapkan seluruh rangkaian kegiatan. Bagi masyarakat, perayaan hari jadi desa bukan hanya milik pemerintah desa, melainkan menjadi ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kekayaan budaya yang dimiliki.

Menariknya, tema KHC Kaliploso selalu berubah setiap tahun. Perubahan tema tersebut menjadi cara tersendiri bagi masyarakat untuk terus menggali berbagai potensi desa dan menghadirkannya dalam sebuah pertunjukan yang dapat dinikmati masyarakat luas.

Pada KHC tahun ini, salah satu pertunjukan yang mencuri perhatian adalah tari kolosal kisah Rahma dan Shinta. Pertunjukan tersebut juga melibatkan para pelajar mulai tingkat TK hingga SD.

Yang membuatnya semakin menarik, cerita tersebut dikemas dengan aransemen musik gamelan Osing khas Banyuwangi, sehingga pertunjukan anak-anak itu tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi media pembelajaran budaya bagi generasi penerus.

Foto: Kepala Desa Kaliploso, Rudi Hartono membuka acara tahunan KHC Kaliploso di lapangan Desa, Tema Kirim Leluhur. (Doc,Mbah Adam)

Kepala Desa Kaliploso, Rudi Hartono, mengatakan KHC tahun ini sengaja mengusung tema Kirim Leluhur sekaligus membawa semangat gerakan kebudayaan dan ekonomi kreatif.

Menurutnya, KHC menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan banyak unsur masyarakat, mulai dari pelaku seni, pedagang, petani hingga seluruh warga desa.

“Dengan tema hari ini sebenarnya kita mengenalkan tradisi yang sudah lama ada, dan kali ini kita perkenalkan lagi kepada generasi. Pemerintah menjadi fasilitator untuk menguak potensi desa serta budaya tradisi yang ada agar menjadi riset kolaborasi dan edukasi yang baik,” kata Rudi.

Ia berharap tradisi, adat istiadat dan kebudayaan yang diwariskan para leluhur tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Namun, dapat dikenal, dipahami dan dirawat oleh generasi sekarang.

“Kita punya budaya, kita punya tradisi serta adat istiadat yang baik. Kita berharap generasi sekarang mengenal dan kemudian menguri-uri dengan baik,” imbuhnya.

Rudi juga berharap seluruh rangkaian KHC memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kaliploso.

“Kami berharap manfaat acara hari ini, mudah-mudahan apa yang kita lakukan terbaik hari ini bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya.

Foto: KHC Kaliploso mengusung tema Kirim Leluhur. (Doc, Rony Subhan)

Petani Tak Hanya Menjadi Produsen, Tetapi Juga Menjadi Bagian dari Panggung Kreativitas

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Hukum dan Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi, Alief Rahman Kartiono, yang mewakili Bupati Banyuwangi saat mendatangi kegiatan menjelaskan bahwa KHC Kaliploso memang dirancang dengan konsep yang terus berkembang. Setiap tahun tema yang diangkat berbeda, sehingga masyarakat selalu mendapatkan pengalaman dan cerita baru.

Menurutnya, Kaliploso memiliki posisi penting dalam sektor hortikultura Banyuwangi. Karena itu, keberadaan KHC tidak hanya dipandang sebagai festival budaya, tetapi juga bagian dari strategi untuk memperkenalkan dan memasarkan hasil pertanian masyarakat.

“Kaliploso adalah jantung hortikultura Banyuwangi. Pemerintah daerah tidak mau kita hanya menjadi produsen saja. Petani harus menjadi artis, makanya lahirlah kegiatan KHC,” jelas Aif.

Ia menegaskan, KHC bukan sekedar pagelaran untuk menghadirkan keramaian. Di dalamnya terdapat strategi untuk mengangkat potensi hortikultura agar semakin dikenal masyarakat.

“Ini bukan hanya pagelaran, tetapi sekaligus menjadi strategi, khususnya strategi pemasaran hortikultura,” tambahnya.

Konsep tersebut membuat KHC Kaliploso memiliki wajah yang berbeda. Budaya menjadi pintu masuk, sementara hortikultura, ekonomi kreatif dan UMKM menjadi bagian yang ikut bergerak di dalamnya.

Masyarakat tidak hanya datang sebagai penonton. Mereka menjadi bagian dari pertunjukan sekaligus pelaku ekonomi yang merasakan langsung geliat kegiatan desa.

Desa Kaliploso sendiri terdiri dari dua dusun, yakni Dusun Kalirejo dan Dusun Plosorejo. Dua wilayah tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat desa yang dikenal memiliki potensi hortikultura.

Foto: Spektakuler KHC Kaliploso lapangan Desa dipenuhi warga. Tamu kehormatan foto bareng Kepala Desa Kaliploso Rudi Hartono. (Doc, Rony Subhan)

Melalui KHC, potensi tersebut kemudian dikemas dalam sebuah perayaan yang memadukan tradisi leluhur, seni budaya, kreativitas generasi muda, pertanian dan ekonomi masyarakat.

Di tengah perkembangan zaman, Kirim Leluhur yang diangkat dalam KHC tahun ini seolah menjadi pengingat bahwa kemajuan desa tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya.

Justru dari tradisi dan kekayaan lokal itulah, Kaliploso mencoba membangun identitasnya sendiri: desa yang menjaga warisan leluhur, menghidupkan budaya, sekaligus menjadikan hortikultura sebagai kekuatan ekonomi masyarakat. (Rony//B5)

beritalima.com

Pos terkait