BANYUWANGI,Beritalima.com – Suasana gelaran Kaliploso Horti Carnival (KHC) mendadak berubah menjadi panggung cerita ketika drama kolosal Rahma dan Shinta dimainkan di tengah rangkaian kegiatan KHC di Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Banyuwangi.
Bukan sekedar tarian biasa. Para penari tampil dengan penuh penghayatan, seolah benar-benar masuk ke dalam karakter yang mereka perankan. Gerak tubuh, ekspresi wajah hingga setiap langkah mengikuti irama musik yang mengalun, membuat kisah yang dibawakan terasa hidup di hadapan penonton.
Alunan gamelan yang mengiringi pertunjukan semakin memperkuat suasana. Ketika musik bertempo lembut, gerakan para penari terlihat anggun dan penuh makna. Sebaliknya, saat irama mulai meninggi, ekspresi dan gerakan penari ikut berubah, membawa penonton masuk lebih jauh ke dalam alur cerita.
Lapangan Desa Kaliploso pun seakan berubah menjadi panggung teater terbuka. Penonton yang sejak awal memadati lokasi tampak terpaku menyaksikan setiap adegan. Bahkan peserta KHC yang berada di sekitar lokasi ikut menikmati pertunjukan tersebut.
Sesekali terdengar tepuk tangan ketika para penari berhasil menampilkan adegan yang dianggap paling kuat. Tidak sedikit pula warga yang mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon seluler.
Menariknya, drama kolosal ini melibatkan generasi muda. Mereka tidak hanya belajar menari, tetapi juga belajar bagaimana menyampaikan sebuah cerita melalui gerak, ekspresi dan musik.
Salah seorang warga, Dori, mengaku terpesona melihat pertunjukan tersebut. Menurutnya, penampilan para penari terasa berbeda karena mereka benar-benar menjiwai peran yang dimainkan.
“Saya melihatnya seperti bukan sedang menonton tarian, tetapi seperti melihat sebuah cerita yang benar-benar hidup. Mereka menjiwai peran, gerakannya juga mengikuti musik. Penonton akhirnya ikut terbawa suasana,” kata Dori.
Ia menilai pertunjukan semacam itu penting karena memberikan ruang bagi generasi muda untuk belajar sekaligus tampil di hadapan masyarakat.
“Kalau anak-anak diberi ruang seperti ini, mereka bisa belajar mencintai seni. Tidak hanya melihat dari media sosial atau televisi, tetapi ikut menjadi bagian dari pertunjukan,” imbuhnya.

KHC Berkiblat pada Tradisi Jawa
Sementara itu, Kepala Desa Kaliploso Rudi Hartono menjelaskan bahwa pertunjukan Rahma dan Shinta merupakan bagian dari konsep KHC tahun ini yang sengaja mengambil nuansa adat dan tradisi Jawa.
Menurut Rudi, konsep tersebut memang dibuat berbeda dari karakter budaya Banyuwangi yang selama ini identik dengan tradisi Osing. KHC kali ini tidak memberikan sentuhan adat Osing dalam konsep utamanya, melainkan memilih menggali sisi tradisi Jawa yang juga hidup dan berkembang di tengah masyarakat Kaliploso.
“Kita memang mengambil konsep yang berkiblat pada adat Jawa. Tahun ini kita tidak memberikan sentuhan adat Osing Banyuwangi karena kita ingin menggali sisi budaya Jawa yang juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita,” jelas Rudi.
Menurutnya, keberagaman budaya yang ada di masyarakat merupakan kekayaan yang tidak harus selalu ditampilkan dengan konsep yang sama.
KHC menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal berbagai akar budaya, termasuk tradisi Jawa yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Jadi kita ingin menunjukkan bahwa budaya itu luas. Ada tradisi yang berkembang di Banyuwangi, ada juga tradisi Jawa yang hidup di masyarakat. Kita mencoba mengangkatnya dalam sebuah konsep pertunjukan agar generasi muda juga mengenalnya,” ujarnya.
Pilihan tersebut sekaligus menjadi pembeda KHC Kaliploso tahun ini. Jika pada sejumlah festival budaya Banyuwangi masyarakat kerap disuguhi identitas Osing, KHC justru menghadirkan warna Jawa melalui cerita, gerak tari, musik dan filosofi yang menyertainya.
Drama kolosal Rahma dan Shinta akhirnya menjadi salah satu gambaran bagaimana KHC mencoba menjadikan seni sebagai bahasa untuk mempertemukan masa lalu dan masa kini.
Di atas panggung terbuka itu, anak-anak muda menari, memainkan karakter dan menghidupkan cerita. Sementara di hadapan mereka, masyarakat menyaksikan dengan penuh perhatian.
KHC Kaliploso pun tak hanya menjadi pesta rakyat, tetapi juga menjadi panggung tempat tradisi, seni dan generasi muda bertemu dalam satu cerita. (Rony//B5)







