SURABAYA, beritalima.com | Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan penguatan dakwah dan ketahanan mental masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan bunuh diri. Menurutnya, pemerintah memerlukan kolaborasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur dan berbagai organisasi keagamaan untuk menjawab persoalan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Khofifah saat menghadiri Pengukuhan Pengurus, Komisi, Badan, dan Lembaga MUI Jawa Timur Masa Khidmat 2025–2030 di Aula Grahadi, Surabaya, Minggu (12/7/2026).
Acara tersebut dihadiri Ketua MUI Pusat KH Anwar Iskandar, Ketua MUI Jawa Timur Prof. Abdul Halim Subahar, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Dr. Andy Karyono, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Timur, serta seluruh pengurus MUI Jawa Timur yang dikukuhkan. Dalam kesempatan itu, Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama turut dilantik sebagai Wakil Sekretaris MUI Jawa Timur masa khidmat 2025–2030.
Dalam sambutannya, Khofifah mengatakan persoalan kesehatan mental menjadi salah satu tantangan sosial yang membutuhkan perhatian bersama. Ia mengungkapkan, pada periode tertentu Jawa Timur pernah menghadapi tingginya angka kasus bunuh diri yang menunjukkan pentingnya penguatan ketahanan mental di tengah masyarakat.
Menurut Khofifah, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan layanan kesehatan. Peran keluarga, tokoh agama, ulama, dan organisasi keagamaan juga sangat diperlukan untuk memberikan pendampingan moral dan spiritual kepada masyarakat.
“Pemerintah tidak sanggup mengatasi semua persoalan masyarakat sendirian. Karena itu, kami membutuhkan kolaborasi dengan organisasi kemasyarakatan dan MUI agar penguatan ketahanan mental dan pembinaan moral dapat berjalan lebih optimal,” ujar Khofifah.
Ia menambahkan, dakwah yang dilakukan MUI diharapkan tidak hanya berfokus pada penyampaian ajaran agama, tetapi juga mampu memberikan pendampingan kepada masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, termasuk tantangan kesehatan mental, keharmonisan keluarga, dan pembinaan generasi muda.
Sementara itu, Ketua MUI Jawa Timur Prof. Abdul Halim Subahar menyatakan kepengurusan MUI Jawa Timur periode 2025–2030 berkomitmen memperkuat konsolidasi organisasi serta meningkatkan sinergi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam memberikan pelayanan kepada umat.
Menurutnya, MUI Jawa Timur akan mengoptimalkan peran ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim untuk menghadirkan dakwah yang menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah berbagai tantangan sosial.
Pengukuhan Pengurus MUI Jawa Timur Masa Khidmat 2025–2030 diharapkan menjadi momentum mempererat kolaborasi antara pemerintah, ulama, dan organisasi keagamaan dalam memperkuat ketahanan mental masyarakat, membangun ketahanan keluarga, serta meningkatkan kualitas kehidupan sosial dan keagamaan di Jawa Timur.(Yul)








