Kirab Budaya di Kemas Dentuman Sound Horeg, Tontonan Mahal yang Tidak Terlihat dari Durasi

  • Whatsapp
Foto: Drama kolosal pertunjukan yang hanya berlangsung beberapa menit di kirab budaya sound horeg Desa Tampo, Kabupaten Banyuwangi. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Bagi sebagian orang, pertunjukan yang hanya berlangsung beberapa menit mungkin terlihat sederhana. Namun bagi mereka yang memahami proses produksinya, drama kolosal tersebut membutuhkan persiapan yang tidak sedikit.

Hal itu pula yang dirasakan Ernawati, salah seorang pengunjung yang menyaksikan langsung penampilan salah satu peserta kirab. Sabtu (08/08/2026).

Bacaan Lainnya

Ia mengaku cukup terkesima melihat bagaimana cerita sejarah bisa dikemas menjadi pertunjukan singkat namun memiliki tampilan yang begitu kuat.

“Ini betul-betul istimewa. Walaupun pagelarannya pendek, tetapi memakai operasional dana yang tidak sedikit,” ujar Ernawati.

Menurutnya, penampilan seperti itu tidak bisa dinilai hanya dari durasi pertunjukan. Ada biaya untuk kostum, properti, musik, sound system, tata cahaya, hingga persiapan para pemain.

“Ini tontonan yang tidak murah. Mungkin ada sebagian orang yang menganggapnya murahan, tetapi sebenarnya untuk membuat seperti ini membutuhkan biaya puluhan juta, kalau dibandingkan dengan karnaval biasa,” imbuhnya.

Pernyataan Ernawati menjadi sisi lain dari kemeriahan sound horeg. Di balik beberapa menit penampilan di hadapan masyarakat, terdapat proses kreatif dan biaya produksi yang cukup besar.

Foto: Ditampilkan oleh peserta kirab pertunjukan kolosal drama pendek yang memukau penonton dikirab sound horeg desa Tampo, kabupaten Banyuwangi. (Doc, Rony Subhan)

Sementara itu, Kepala Desa Tampo, Hasim Ashari, menilai drama kolosal yang ditampilkan di bagian akhir rangkaian kirab menjadi salah satu bagian yang paling berkesan.

Menurut Hasim, pertunjukan tersebut merupakan ujung dari rangkaian acara yang memperlihatkan bagaimana para peserta berusaha menyuguhkan karya terbaik mereka.

“Ini bagian paling ujung dari acara. Drama kolosal pendek yang ditampilkan sangat berkesan. Untuk membuat pertunjukan seperti ini tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” kata Hasim.

Hasim juga mengapresiasi seluruh peserta yang telah mempersiapkan penampilan masing-masing.

Dari 18 peserta, masing-masing membawa konsep dan kreativitas berbeda. Ada yang menonjolkan sejarah, legenda, budaya, karakter tokoh, kostum hingga kekuatan tata suara dan pencahayaan.

“Semua peserta menampilkan yang terbaik. Mereka tidak hanya membawa sound, tetapi juga membawa karya dan kreativitas masing-masing,” ujar Hasim.

Bagi pemerintah Desa Tampo, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari semangat memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. (Rony//B5)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait