Kisah Jud, Seniman Remaja di ARTJOG

  • Whatsapp
Kisah Jud, Seniman Remaja di ARTJOG (foto: istimewa)

Jakarta, beritalima.com| – Di sudut ruang ARTJOG KIDS 2026 di Jogya National Museum, sebuah nama terpajang sederhana, Kireina Jud Aisyah. Tidak ada sorotan lampu khusus, tidak ada pengumuman megah. Hanya sebuah karya yang berdiri sejajar dengan puluhan karya lain. Namun bagi seorang remaja berusia 15 tahun dan ibunya, momen itu adalah bagian dari perjalanan panjang penuh kesabaran.

Jud kembali lolos seleksi umum, bukan jalur khusus difabel. Karyanya dinilai sama dengan anak lain, tanpa embel-embel belas kasihan. Ketika ditanya apa paling ia sukai, jawabannya sederhana: membuat titik-titik dan garis. Jawaban yang mungkin terdengar remeh, tetapi justru di situlah letak kejujuran seorang anak yang berkarya tanpa beban.

Biyung Jud, sang ibu, tidak pernah menargetkan anaknya menjadi seniman besar. “Saya tidak punya target mencetak anak berprestasi. Saya hanya berusaha mencarikan wadah agar Jud dapat mengekspresikan diri,” ucapnya polos. Kalimat itu terdengar seperti manifesto kecil tentang bagaimana seharusnya orang tua memandang anak. Bukan sebagai proyek prestasi, melainkan manusia yang berhak tumbuh sesuai minatnya.

Sebagai wartawan netra, saya membaca informasi ini bukan hanya sebagai kabar seni. Ada lapisan sosial lebih dalam. Di negeri ini, anak-anak sering dipaksa menjadi mesin prestasi. Kursus, lomba, ranking, target. Semua seolah menjadi ukuran nilai seorang anak. Jud dan ibunya memilih jalan berbeda: kebebasan. Dan kebebasan itu, bagi saya, adalah bentuk dukungan paling manusiawi.

Pertanyaan yang muncul, berapa banyak anak kehilangan ruang untuk sekadar bermain dan bereksperimen? Berapa banyak dipaksa mengejar angka, sementara hak mereka berekreasi diabaikan? Di balik cerita Jud, saya melihat kritik terhadap sistem pendidikan kita yang masih menempatkan anak sebagai objek pencapaian, bukan subjek menentukan jalannya sendiri.

Biyung Jud menyebut, yang ia berikan bukan pengorbanan, melainkan hak anak. Pernyataan itu penting. Hak, bukan hadiah. Hak, bukan belas kasihan. Di sini saya melihat refleksi lebih luas. Apakah masyarakat kita sudah benar-benar memahami bahwa anak-anak berhak atas ruang kreatif, bukan sekadar ruang akademik?

ARTJOG Kids sendiri lahir sebagai program sejak 2022, memberi ruang bagi anak-anak usia 6–15 tahun untuk berkarya dan dipamerkan secara profesional. Bukan sekadar lomba, melainkan wadah pembelajaran seni sejak dini dengan semangat kesetaraan dan inklusi. Pada 2026, pameran berlangsung sejak 19 Juni hingga 30 Agustus,

Karya anak-anak dinilai melalui kurasi terbuka, tanpa kategori khusus, sehingga setiap karya berdiri sejajar. Di 2026, sebanyak 52 anak dan remaja lolos seleksi, termasuk Jud. Program ini membawa pesan, seni bisa menjadi medium inklusi sejak dini, sekaligus mengingatkan Masyarakat, suara anak adalah bagian penting dari percakapan budaya.

Cerita Jud mengingatkan saya, inklusi bukan soal memberi jalur khusus, melainkan membuka ruang yang sama. Ia lolos seleksi umum, berdiri sejajar dengan yang lain. Itulah makna kesetaraan. Dan di situlah kita belajar dukungan orang tua, komunitas, dan sistem sosial harus berorientasi pada akses, bukan belas kasihan.

Ada dimensi moral patut direnungkan. Jika seorang ibu tanpa latar belakang seni bisa mendampingi anaknya dengan sabar, mengapa negara sering gagal menyediakan ruang yang sama bagi jutaan anak lain? Jika keluarga kecil bisa memahami kebebasan adalah hak, mengapa kebijakan publik masih sering mengekang dengan standar seragam? Pertanyaan ini seharusnya menggugah kita semua.

Oleh: abdul hadi, wartawan netra beritalima

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait