PALEMBANG, BeritaLima.Com
Seorang warga Palembang, Ida Rustina, melayangkan protes keras dan menuntut tanggung jawab medis terhadap pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. A.K. Gani, atau yang dikenal sebagai RS Benteng Palembang. Protes ini terkait kondisi putrinya, Halima Tusyadiah (15), yang mengalami penurunan kesadaran hingga kritis pasca menjalani operasi pembedahan bisul pada Sabtu (06/06/2026).
Keluarga menduga adanya kelalaian dalam prosedur pra-operasi, khususnya dugaan pengabaian pemeriksaan penunjang kesehatan oleh dokter bedah yang menangani, Dr. Heru Purwanto, Sp.B.
Kronologi Kejadian
Ida menceritakan kronologi kejadian kepada awak media pada Selasa sore (09/06/2026). Awalnya, Halima mengeluh sesak napas dan memiliki bisul yang telah pecah di bagian tubuh bawah. Melihat kondisi anaknya yang semakin tidak nyaman, Ida membawa Halima ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. A.K. Gani pada Sabtu malam. Saat tiba, pasien masih dalam keadaan sadar dan mampu berkomunikasi dengan baik.
“Saat masuk, anak saya masih bisa bicara, hanya mengeluh napasnya agak sesak. Di IGD, dia diperiksa tensi dan rekam jantung oleh Dr. Irwan, spesialis penyakit dalam. Karena pasien berusia sekitar 15 tahun (lahir tahun 2011), kasus ini kemudian dialihkan ke dokter bedah,” ujar Ida.
Dugaan Kelalaian Pemeriksaan Pra-Operasi
Puncak ketegangan terjadi saat keputusan operasi diambil. Menurut penuturan Ida, Dr. Heru Purwanto, Sp.B., memutuskan untuk melakukan operasi tanpa melakukan pemeriksaan penunjang komprehensif seperti cek gula darah, kolesterol, atau skrining riwayat diabetes.
Ida mengaku sempat mempertanyakan hal tersebut kepada dokter bedah. “Saya tanya ke Dokter Heru, ‘Apakah tidak perlu diperiksa lagi kesehatannya, seperti cek darah atau cek diabetes?’ Jawab dokter singkat, ‘Tidak perlu,’ dan langsung memutuskan untuk operasi besok pagi hari Minggu,” kata Ida dengan nada kesal.
Ida menekankan bahwa standar prosedur medis seharusnya memastikan kondisi pasien stabil sebelum tindakan invasif dilakukan, terutama mengingat Halima adalah anak tunggal mereka sehingga keluarga sangat berhati-hati. Selain aspek medis, Ida juga menyebutkan adanya perlakuan kurang menyenangkan dari sebagian perawat terkait aturan puasa bagi pasien, meski fokus utama keluhan tetap pada aspek keamanan prosedur operasi.
Kondisi Pasien Memburuk Drastis
Halima akhirnya menjalani operasi pada Minggu pagi (07/06/2026). Namun, alih-alih menunjukkan perbaikan, kondisi Halima justru menurun drastis pasca-tindakan. Pasien kehilangan kesadaran dan memerlukan bantuan alat ventilator serta berbagai selang medis.
“Setelah selesai operasi, dia tidak sadarkan diri. Ditambah lagi pakai bantuan alat mesin dan selang. Sampai sekarang kondisinya tidak memungkinkan. Kami melihat ini sebagai kelalaian karena kurangnya pemeriksaan awal,” tegas Ida.
Keluarga juga menyoroti ketidakjelasan informasi pasca-operasi. Ida mengklaim sempat melihat video di mana Halima terlihat sadar dan meminta minum serta makan beberapa saat setelah operasi. Namun, beberapa jam kemudian, kondisinya memburuk hingga terjadi perdarahan yang memerlukan penanganan intensif kembali.
“Jam 9 pagi selesai operasi. Sempat ada momen di mana anak saya terlihat sadar, subuh atau tengah malam, kondisinya drop lagi. Ada pendarahan. Kami bingung, kenapa bisa separah ini jika awalnya dianggap ‘sepele’ hanya operasi bisul,” jelasnya.
Respons Pihak Dokter dan Rumah Sakit
Hingga berita ini diturunkan, Halima masih berada dalam perawatan intensif dengan kondisi yang mengkhawatirkan. Pihak keluarga mendesak pihak RSUD dr. A.K. Gani dan Dr. Heru Purwanto untuk memberikan klarifikasi medis serta bertanggung jawab atas dugaan kelalaian prosedur tersebut.
Awak media dari BeritaLima.Com berupaya menemui Dr. Heru Purwanto di tempat praktiknya pada Selasa malam (09/06/2026) pukul 07.30 WIB untuk meminta klarifikasi. Namun, Dr. Heru menyatakan tidak dapat memberikan keterangan lebih lanjut secara pribadi.
“Kita operasi itu ada tim. Jadi, saya tidak ada hak untuk bicara sendiri,” tegas Dr. Heru Purwanto.
Dr. Heru menjelaskan bahwa pihak rumah sakit telah menggelar rapat internal dan menyepakati bahwa hanya satu orang juru bicara resmi yang berwenang menyampaikan informasi kepada publik. Langkah ini diambil demi menjaga akurasi data dan etika profesi, mengingat keputusan medis merupakan tanggung jawab institusi secara kolektif.
Akibat hal tersebut, awak media dialihkan untuk menemui Kepala RSUD dr. A.K. Gani sebagai pihak yang berwenang memberikan keterangan resmi. Hingga saat ini, konfirmasi lebih lanjut dari pihak manajemen rumah sakit masih menunggu tanggapan resmi.
Kasus ini menjadi sorotan publik mengenai pentingnya transparansi dan kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) medis, terutama dalam pemeriksaan pra-operasi untuk mencegah komplikasi yang tidak diinginkan. ( Tim)








