Kostum Tradisional Modern Bergaya Banyuwangi Carnival Warnai Pawai Budaya Wringinagung

  • Whatsapp
Foto: Pawai budaya semakin semarak dengan hadirnya peserta yang tampil menggunakan kostum tradisional modern. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Kemeriahan Pawai Budaya dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, semakin semarak dengan hadirnya peserta yang tampil menggunakan kostum tradisional modern.

Salah satu kelompok peserta tampil berbeda. Sejumlah anggotanya mengenakan busana yang sekilas mengingatkan pada kemegahan kostum Banyuwangi Ethno Carnival. Perpaduan unsur tradisional dan sentuhan modern membuat penampilan mereka terlihat mencolok ketika berjalan di tengah rombongan pawai.

Bacaan Lainnya

Kostum yang dikenakan bukan sekadar pakaian biasa. Busana dibuat dengan konsep yang menonjolkan karakter budaya, dipadukan dengan ornamen dan aksesori berukuran cukup besar sehingga memberikan kesan megah.

Pada bagian kepala, beberapa peserta menggunakan hiasan atau mahkota dengan bentuk artistik. Sementara bagian badan dihiasi ornamen yang memberikan kesan berlapis dan berwarna-warni. Detail aksesori pada bahu, dada hingga bagian bawah busana membuat penampilan peserta terlihat semakin atraktif.

Potongan busana juga dibuat lebih modern sehingga tetap memberikan ruang bagi peserta untuk bergerak dan berjalan mengikuti irama musik. Perpaduan antara unsur tradisional, kreativitas warga dan sentuhan modern itulah yang membuat kelompok ini menjadi salah satu perhatian warga yang menyaksikan pawai.

Tak sedikit penonton yang mengabadikan momen tersebut menggunakan kamera telepon genggam. Bagi masyarakat, penampilan seperti itu menjadi bukti bahwa pawai budaya di tingkat desa mampu menjadi ruang bagi warga untuk menuangkan kreativitas.

Di balik kostum yang terlihat megah tersebut tentu ada proses panjang. Mulai dari menentukan konsep, mencari bahan, membuat desain, merangkai ornamen hingga mempersiapkan peserta agar tampil kompak. Semua membutuhkan waktu, tenaga, pikiran dan biaya.

Foto: Perpaduan unsur tradisional dan sentuhan modern membuat penampilan mereka terlihat mencolok ketika berjalan di tengah rombongan pawai. (Doc, Rony Subhan)

Uny Saputra, tokoh masyarakat yang juga ketua Perkumpulan Pendopo Semar Nusantara menilai kemeriahan pawai budaya tersebut merupakan gambaran kuatnya semangat masyarakat dalam memperingati Hari Kemerdekaan.

Menurutnya, masyarakat rela mengeluarkan banyak tenaga, pikiran bahkan biaya yang tidak sedikit demi menghadirkan penampilan terbaik dalam perayaan HUT Kemerdekaan.

“Ini semangat Agustusan. Untuk membuat acara seperti ini tentu tidak mudah. Ada capeknya, ada pikiran yang dikeluarkan, tenaga juga, bahkan biaya yang tidak sedikit. Tetapi semua itu dilakukan karena semangat untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan,” ujar Uny.

Ia melihat apa yang dilakukan warga bukan hanya mengejar kemeriahan. Lebih dari itu, persiapan pawai menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarmasyarakat.

“Yang paling penting adalah kekompakannya. Warga Wringinagung ini bisa bersama-sama, saling membantu dan saling mendukung. Itu yang harus kita pertahankan,” imbuhnya.

Menurut Uny, kreativitas warga dalam membuat kostum dan berbagai pertunjukan menunjukkan bahwa masyarakat memiliki potensi besar. Dengan keterlibatan bersama, kegiatan peringatan kemerdekaan dapat menjadi hiburan sekaligus sarana melestarikan budaya.

Foto: Forpimka duduk bersama. Kondang memakai baju adat Jawa. (Doc, Rony Subhan)

Sementara itu, menjelang berakhirnya rangkaian peserta pawai, Kepala Desa Wringinagung, Kondang, kembali menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga ketertiban.

Ia mengapresiasi seluruh peserta yang sejak awal hingga mendekati akhir pawai mampu menjaga suasana tetap aman dan tertib.

“Saya melihat hampir semua peserta sudah berjalan dengan baik. Kekompakan ini harus kita jaga sampai acara selesai. Jangan karena ingin meriah kemudian mengabaikan ketertiban,” kata Kondang.

Menurutnya, setiap kelompok peserta telah mengeluarkan biaya, tenaga dan pikiran untuk mempersiapkan penampilan. Karena itu, seluruh pengorbanan tersebut harus menjadi bagian dari kebahagiaan bersama, bukan justru menimbulkan persoalan.

“Saya berterima kasih kepada semua peserta. Mereka sudah mengeluarkan dana, tenaga dan pikiran. Ini bentuk kecintaan masyarakat dalam memeriahkan kemerdekaan. Mari kita jaga bersama agar semuanya tetap aman, tertib dan nyaman,” pesannya.

Kondang juga mengapresiasi masyarakat yang ikut menyaksikan pawai dengan tetap menjaga ketertiban di sepanjang jalur.

Baginya, kemeriahan HUT ke-81 Kemerdekaan RI bukan hanya diukur dari megahnya sound system, meriahnya kostum maupun banyaknya penonton. Kekompakan, kreativitas, gotong royong dan kemampuan menjaga ketertiban justru menjadi nilai utama dalam perayaan kemerdekaan.

Pawai budaya Wringinagung pun menjadi gambaran bagaimana semangat Agustusan mampu menyatukan warga. Kostum tradisional modern, tarian, musik dan berbagai kreativitas berpadu menjadi satu pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperlihatkan semangat masyarakat desa dalam mengisi kemerdekaan. (Rony//B5)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait