KOWANI Gaungkan Tempe Menuju UNESCO, Lebih dari 1.000 Peserta Ramaikan Fun Walk dan Festival Pangan Nusantara

  • Whatsapp

Jakarta | beritalima.com – Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) memperkuat gerakan Tempe Indonesia Goes to UNESCO melalui rangkaian kegiatan yang memadukan olahraga, pelestarian budaya, ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, dan edukasi kesehatan masyarakat. Agenda yang digelar di halaman Kantor KOWANI, Jalan Imam Bonjol No. 58, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026), tersebut diikuti lebih dari 1.000 peserta.

Rangkaian kegiatan menjadi bagian dari program KOWANI Goes to UNESCO – Memory of the World, dengan agenda utama berupa Fun Walk 10.000 Langkah Sehat yang menempuh rute dari halaman Kantor KOWANI menuju kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan kembali ke Kantor KOWANI sebagai titik finis.

Ketua Umum KOWANI Periode 2024 – 2029, Nannie Hadi Tjahjanto, mengatakan tempe memiliki potensi besar untuk dikembangkan tidak hanya sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari ketahanan pangan sekaligus sumber peluang ekonomi bagi masyarakat, khususnya perempuan.

Menurut Nannie, pengembangan tempe dapat dilakukan melalui berbagai inovasi bahan pangan lokal, tidak hanya berbasis kedelai, tetapi juga memanfaatkan sorgum dan aneka kacang-kacangan. Diversifikasi tersebut dinilai dapat melahirkan berbagai produk olahan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi perempuan.

“Tempe bukan hanya pangan, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber penghidupan keluarga,” ujar Nannie.

Nannie menilai penguatan ekonomi perempuan menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan keluarga. Melalui keterampilan, pelatihan, kursus, dan sertifikasi, perempuan diharapkan memiliki kemampuan untuk bekerja maupun mengembangkan usaha secara mandiri.

Selain Fun Walk, kegiatan tersebut diisi dengan Deklarasi Nasional Tempe Indonesia Goes to UNESCO, Festival Tempe, Nusantara Festival Sorgum, Nusantara Festival Cassava, Nusantara Cooking Experience, pameran koperasi dan UMKM, serta Senam Tai Chi.

Rangkaian acara juga dilengkapi dengan pemeriksaan kesehatan gratis, edukasi gizi dan pencegahan stunting, business matching, kegiatan interaktif, door prize bagi peserta dan pembagian bibit pohon produktif.

Lebih lanjut, Nannie Hadi Tjahjanto juga mendeklarasikan Tempe Indonesia Menuju UNESCO. Menurutnya, gerakan menuju UNESCO tersebut bukan sekadar mengejar pengakuan internasional, tetapi juga memastikan pengetahuan, keterampilan, dan tradisi pembuatan tempe tetap hidup serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kalau kita tidak bergerak cepat, sementara tempe semakin dikenal di berbagai negara, kita bisa tertinggal. Karena itu, tempe perlu terus kita dukung menuju UNESCO,” kata Nannie.

Bahkan dikatakan Ketum KOWANI, pangan lokal menjadi kekuatan ekonomi tidak hanya tempe melainkan mengangkat sejumlah komoditas pangan lokal melalui Nusantara Festival Sorgum dan Nusantara Festival Cassava.

Sementara itu, singkong atau cassava juga memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai produk pangan bernilai ekonomi. Melalui Nusantara Cooking Experience, masyarakat diajak melihat bagaimana bahan pangan lokal dapat dikembangkan menjadi produk makanan yang lebih beragam dan menarik.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, KOWANI juga menghadirkan Gerakan Pangan Murah dalam rangka mendukung stabilisasi pasokan dan harga pangan.

Masyarakat dapat memperoleh sejumlah kebutuhan pokok dengan harga yang relatif terjangkau, di antaranya beras SPHP sekitar Rp12.000 per kilogram, beras premium Rp14.900 per kilogram, gula pasir Rp17.000 per kilogram, Minyakita Rp15.500 per liter, bawang putih Rp30.000 per kilogram, bawang merah Rp40.000 per kilogram, cabai merah keriting Rp40.000 per kilogram, cabai rawit merah Rp45.000 per kilogram, daging ayam Rp36.000 per kilogram, daging sapi Rp114.000 per kilogram, telur ayam Rp24.000 per kilogram, serta tepung terigu sekitar Rp12.000 per kilogram.

“Harga tersebut merupakan harga dalam pelaksanaan Gerakan Pangan Murah dan dapat berubah sewaktu-waktu,” ujarnya.

Disamping itu dilaksanakan berdasarkan kolaborasi lintas sektor bahkan mendapat dukungan dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Kementerian Pemberdayaan Masyarakat, KOWANI, dan Badan Pangan Nasional.

Dijelaskannya, KOWANI juga melibatkan organisasi perempuan, komunitas, pelaku UMKM, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat gerakan ketahanan pangan dan pelestarian budaya Indonesia.

“Melalui kegiatan ini, KOWANI ingin menunjukkan bahwa tempe dan berbagai pangan lokal Indonesia tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat dan ketahanan keluarga,” pungkas Ketum KOWANI yang sekarang Nannie Hadi Tjahjanto.

Jurnalis: dedy

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait