Kunjungan Kabiro Beritalima Jakarta di Setu Cipayung

  • Whatsapp
Abdul Hadi, wartawan netra beritalima

Jakarta, beritalima.com| – Suasana hangat begitu terasa saat saya menerima kunjungan Kabiro Beritalima Jakarta, Abriyanto ke rumah kami, dekat Masjid Jami Al-Hikmah Hidayah, Setu Cipayung Jakarta Timur.

Di ruang tamu, sisa kehangatan obrolan masih tertinggal. Pertemuan kami berlangsung sekitar satu jam lebih—beliau datang sekitar pukul 10.20 WIB dan baru pamit pada pukul 11.40 WIB. Waktu yang cukup leluasa bagi kami untuk bertukar banyak isi kepala. Tanpa sekat formalitas, beliau memilih ikut duduk lesehan bersama saya di atas tikar spon yang empuknya terasa akrab di kulit. Ditemani cangkir kopi yang perlahan mendingin, obrolan kami mengalir begitu hangat dan apa adanya.

Dalam waktu satu jam lebih itu, kami sempat membedah banyak hal. Mulai dari saling berbagi ilmu soal dunia kepenulisan, mendengarkan suara dan perspektif saya sebagai seorang disabilitas, sampai masuk ke obrolan berat mengenai program-program pemerintah yang cukup kompleks.

Ada satu momen membuat saya agak tersenyum. Di sela diskusi, saya sempat mendemonstrasikan bagaimana jemari saya menari di atas layar ponsel yang licin, mengejar suara screen reader yang melesat cepat. Bagi Pak Abri, rentetan suara robotik itu mungkin terdengar seperti bahasa asing yang membingungkan, tapi bagi saya, itulah jembatan harian untuk membaca pesan WhatsApp, membalas sapaan kawan, hingga memastikan roda bisnis tetap berputar.

Dari sana, diskusi kami menggelinding ke ranah lebih mendalam. Tentang bagaimana suara kami, kelompok disabilitas, seringkali baru dicari saat momentum tertentu saja, bukan ditempatkan sebagai mitra setara sejak awal.

Prinsip “Nothing About Us Without Us” itu bukan slogan mati untuk pajangan seminar. Bagi saya, itu adalah napas. Sama halnya seperti Pak Abri yang mau menurunkan ego untuk duduk sejajar di tikar spon tadi, begitulah seharusnya dunia melihat kami sejajar, tanpa harus mendongak atau merunduk.

Seringkali, kebijakan atau program dirancang oleh mereka yang meraba-raba apa yang kami butuhkan dari balik meja kerja yang nyaman, tanpa pernah tahu rasanya tersangkut di trotoar yang rusak atau ditolak oleh sistem digital yang tidak ramah netra.

Pengalaman membangun PT Sinergi Hadi Sejahtera pun pelan-pelan menempa sudut pandang saya. Di dunia usaha, rasa iba itu tidak ada nilainya. Ketika saya mengelola bisnis kecil-kecilan ini, yang saya cari adalah ruang kolaborasi adil dan akses setara. Kami bisa menawarkan solusi dan profesionalisme yang sama baiknya, asalkan pintunya tidak dikunci dari dalam. Bisnis yang inklusif itu tumbuh karena kualitas, bukan karena sekadar rasa kasihan.

Langkah sepatu Abriyanto yang bergesek dengan teras, disusul deru mesin motornya perlahan menjauh dan larut dalam keriuhan jalan raya menjelang siang, menandai berakhirnya silaturahmi hari ini. Terima kasih banyak, Bang Abri, sudah mau singgah, meluangkan waktu cukup lama, dan benar-benar mendengarkan dengan setara.

Sekarang, ruang tamu kembali senyap. Udara siang terasa sedikit lebih berat dan agak gerah. Saya menggeser posisi duduk, meraba permukaan tikar spon yang halus di bawah telapak tangan, sambil melempar tanya pada diri sendiri. Setelah obrolan panjang dan berbagi cerita hari ini, apakah besok dunia luar akan sedikit lebih ramah, ataukah esok hari saya masih harus bersiap untuk mengetuk pintu-pintu kesempatan dengan lebih keras lagi?

Oleh: abdul hadi, wartawan netra beritalima

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait