BANYUWANGI,Beritalima.com – Suasana Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, dipastikan bakal berbeda dari biasanya. Kirab budaya dan sound horeg akan digelar besok, Sabtu (15/8/2026), dengan melibatkan 26 barisan sound horeg yang siap menyusuri jalanan desa. Jumat (14/08/2026)
Namun sebelum pesta budaya itu berlangsung, malam ini suasana sudah mulai memanas. Bukan karena keributan, melainkan cek sound yang menjadi bagian penting dari persiapan masing-masing peserta.
Suara dentuman bass dan hentakan musik bakal terdengar dari sejumlah titik. Para pemuda pun sibuk mempersiapkan perlengkapan, termasuk membuat panggung sederhana yang nantinya digunakan para danser untuk menampilkan aksi mereka.
Menariknya, persiapan peserta bukan hanya soal memperbesar suara. Sejumlah pemuda juga telah melakukan latihan koreografi dan tari dansa. Bahkan ada peserta yang mempersiapkan cerita rakyat dalam bentuk pertunjukan kolosal pendek yang akan ditampilkan saat kirab berlangsung.
Artinya, kirab budaya kali ini tidak sekadar menyuguhkan iring-iringan sound horeg, tetapi juga menjadi ruang kreativitas warga untuk memadukan musik, tari, seni pertunjukan hingga cerita rakyat.
Besok, 26 barisan tersebut akan bergerak menyapu jalanan Desa Benculuk dengan rute kurang lebih 4 kilometer. Perjalanan akan melewati tiga dusun, yakni Dusun Pancursari, Rejosari dan Kemlosom.
Antusiasme warga pun mulai terasa. Jalanan yang biasanya menjadi ruang aktivitas sehari-hari bakal berubah menjadi panggung terbuka. Di sepanjang rute, masyarakat diperkirakan akan berkumpul untuk menyaksikan berbagai penampilan peserta.
Panitia kegiatan, Rudi, mengatakan seluruh persiapan terus dilakukan agar pelaksanaan kirab budaya berjalan lancar dan meriah.
“Malam ini menjadi semacam pemanasan. Para peserta memastikan perangkat sound siap, para penari mematangkan gerakan, sementara kelompok seni lainnya mempersiapkan penampilan masing-masing,” terangnya.
Besok, giliran Desa Benculuk menjadi panggung besar. 26 barisan sound horeg akan bergerak bersama, membawa kreativitas warga dari satu dusun ke dusun lainnya dalam semarak kirab budaya.
Bukan hanya soal kerasnya suara, tetapi juga tentang bagaimana kreativitas, seni dan kebersamaan warga ikut berjalan sepanjang empat kilometer rute kirab. (Rony//B5)








