Malam Sebelum Cek Sound, Penyewa Sound Horeg Gelar Selamatan Minta Keselamatan

  • Whatsapp
Foto: Acara selamatan doa bersama untuk cek sound dan pawai budaya. (Doc, Rony Subhan)

BANYUWANGI,Beritalima.com – Dentuman sound horeg belum terdengar dari lokasi. Namun, sebelum perangkat sound dinyalakan dan diuji, ada satu tradisi yang terlebih dahulu dilakukan oleh para penyewa sound horeg di Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi.

Sore itu, pukul 16:25 wib di jalan persawahan tepat di sebelah Kantor Desa Wringinagung, sejumlah penyewa sound horeg bersama warga sekitar berkumpul untuk menggelar doa dan selamatan. Mereka memanjatkan doa bersama, memohon keselamatan dan kelancaran agar rangkaian pawai budaya yang digelar esok hari berjalan aman, tertib dan kondusif.

Bacaan Lainnya

Foto: Kepala desa, kepala dusun dan ketua kelompok penyewa sound horeq kumpul dengan warga untuk acara selamatan doa bersama. (Doc, Rony Subhan)

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Wringinagung Kondang, Kepala Dusun Sumberrejo M. Kholik Iskandar, sejumlah warga, para penyewa sound horeg serta warga sekitar lokasi.

Desa Wringinagung sendiri memiliki empat dusun, yakni Dusun Sumberrejo, Glowong, Jatisari dan Sumber Jaya.

Suasana sore terasa berbeda. Sebelum cek sound dimulai, M. Kholik Iskandar yang juga Kepala Dusun Sumberrejo memimpin doa bersama.

Sebelum memanjatkan doa, Kholik terlebih dahulu menyampaikan pesan kepada seluruh peserta agar pelaksanaan pawai budaya esok hari tidak hanya meriah, tetapi juga tetap mengedepankan keamanan dan kenyamanan masyarakat.

Ia meminta seluruh peserta untuk menjaga sikap, menghormati pengguna jalan dan warga sekitar, serta bersama-sama menjaga kondusifitas selama kegiatan berlangsung.

“Yang paling utama adalah keselamatan. Kita ingin kegiatan besok berjalan meriah, tetapi tetap tertib dan tidak menimbulkan persoalan. Karena itu malam ini kita berdoa bersama, memohon kepada Allah SWT agar seluruh rangkaian kegiatan diberikan kelancaran, keselamatan dan tidak ada sesuatu yang tidak kita inginkan,” ujar M. Kholik Iskandar.

Saat doa mulai dipanjatkan, suasana yang sebelumnya diwarnai percakapan warga mendadak berubah hening. Tidak terdengar suara lain selain lantunan doa yang dipimpin kepala dusun.

Udara sore di tengah persawahan terasa semakin dingin. Semua yang hadir menundukkan kepala dan mengamini setiap doa yang dipanjatkan.

Momen tersebut menjadi bagian penting sebelum perangkat sound horeg dinyalakan. Bagi mereka, cek sound bukan sekadar menguji kualitas suara dan kekuatan perangkat, tetapi juga menjadi momentum untuk memohon keselamatan sebelum mengikuti pawai budaya.

Foto: Guyub rukun setelah doa bersama semua berbaur untuk makan bersama. (Doc, Rony Subhan)

Tradisi Selamatan, Warisan Kebersamaan

Sementara itu, Gus Dion, Ketua Kelompok Peserta Kirab Budaya Sound Horeg, yang turut hadir dalam acara selamatan tersebut mengatakan, doa bersama atau selamatan telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa.

Menurutnya, selamatan tidak hanya dimaknai sebagai acara ritual, tetapi juga sebagai bentuk ungkapan syukur, doa dan ikhtiar bersama agar sebuah kegiatan mendapatkan kelancaran.

“Dalam tradisi Jawa, selamatan itu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak dulu. Intinya adalah berkumpul, bersyukur dan berdoa bersama. Kita memohon kepada Tuhan agar apa yang akan kita lakukan diberikan keselamatan dan kelancaran,” kata Gus Dion.

Ia menambahkan, tradisi tersebut juga mengandung nilai kebersamaan. Sebelum masyarakat menikmati kemeriahan sebuah kegiatan, mereka terlebih dahulu berkumpul dan menyatukan niat.

“Jadi bukan hanya soal sound-nya. Kita berkumpul dulu, berdoa, saling mengingatkan agar besok semuanya berjalan baik. Kita ingin pawai budaya ini menjadi hiburan masyarakat, tetapi tetap mengutamakan keselamatan dan ketertiban,” tambahnya.

Foto: Acara selamatan berjalan lancar dan semua yang hadir guyub rukun, setelah doa makan bersama. (Doc, Rony Subhan)

Menurut Gus Dion, doa bersama juga menjadi pengingat bahwa manusia hanya bisa berusaha dan mempersiapkan segala sesuatu, sementara keselamatan dan kelancaran tetap menjadi kehendak Tuhan.

Setelah doa dan selamatan selesai, barulah persiapan cek sound dilakukan. Perangkat sound horeg yang akan digunakan dalam pawai budaya dipersiapkan untuk menjalani pengujian.

Namun, bagi para peserta, malam nanti bukan semata-mata tentang seberapa keras suara yang mampu dihasilkan.

Ada pesan yang jauh lebih penting: sebelum merayakan kemeriahan, keselamatan harus menjadi yang utama.

Doa yang dipanjatkan di tengah suasana persawahan tersebut menjadi pembuka sebelum suara sound horeg menggema. Harapannya sederhana, pawai budaya esok hari berlangsung lancar, aman, tertib, masyarakat terhibur dan seluruh peserta dapat kembali pulang dengan selamat.

“Harapan kami besok semuanya lancar, tidak ada kendala, tidak ada kecelakaan dan semua bisa menikmati kemeriahan pawai budaya dengan tertib. Kita sudah berdoa malam ini, tinggal bagaimana besok kita bersama-sama menjaga kondusifitas,” pungkas M. Kholik Iskandar. (Rony//B5)

beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait