Marhaenisme Masih Relevan Untuk Generasi Z

  • Whatsapp
Airlangga Pribadi Kusman (tengah) dan Bambang Eryudhawan (paling kanan) dalam diskusi Forum Praksis ke-23: Marhaenisme Masih Relevan Untuk Generasi Z

Jakarta, beritalima.com| – Ajaran Marhaenisme yang diusung Presiden pertama RI Soekarno, masih memiliki kaitan erat dan relevan dengan kondisi saat ini bagi Generasi Z, terutama menyangkut dengan nasib masyarakat yang tertindas. Bedanya dengan dahulu saat masyarakat ditindas oleh kolonial (bangsa) asing, maka kini berhadapan dengan kekuasaan yang anti kritik dan bahkan represif.

Pembahasan soal Marhaenisme ini menjadi bahan diskusi Forum Praksis (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesuit) seri ke-23 di Jakarta (14/8),  kerjasama dengan Yayasan Hatta dan Yayasan Bung Karno bertema “Proklamasi Kemerdekaan, Marhaenisme, dan Gen-Z”.Topik ini menjadi menarik, karena momentumnya bersamaan dengan Peringatan Hut ke-81 Proklamasi Kemerdekaan RI.

Airlangga Pribadi Kusman, salah satu pembicara dalam diskusi ini, baru saja bersama Rocky Gerung menulis buku Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen-Z (2026).  Pengajar di Departemen Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga dan Direktur Centre for Governance and Citizenship Studies (CGCS) itu mengatakan, berbagai kondisi dan tantangan yang dihahapi Gen-Z menjadi  implikasi dari sistem kapitalisme-neoliberal yang diwariskan generasi-generasi sebelumnya. 

“Sekarang ini kolonialisme mewujud dalam berbagai bentuk, termasuk eksploitasi oleh kapitalisme berbasis data dan platform atau platform capitalism,” terang Airlangga. Sehingga, ia menepis sikap acuh Generasi Z terhadap masalah sosial-politik sekarang di era serba digital, bukan karena jiwanya yang rapuh. 

Padahal sesungguhnya penyebab utamanya adalah faktor lebih luas, seperti kerentanan ekonomi gig, kecemasan iklim, ketimpangan digital, dan berbagai krisis kemanusiaan. Jadi, perlu dicari perangkat kritis atau “dalil” baru bagi Gen-Z untuk menjawab berbagai tantangan yang ada. Perangkat atau dalil itu bisa ditemukan kembali dalam gagasan-gagasan Bung Karno, khususnya Marhaenisme, karena bisa melahirkan rasa kritis dan akal sehat di tengah memburuknya kualitas demokrasi dan penggerusan supremasi sipil.

“Marhaenisme membantu Gen-Z untuk meletakkan politik anti-kekerasan dan rasionalitas sebagai jalan menuju kedaulatan serta keadilan sosial,” ungkapnya. Sehingga, ajaran Bung Karno ini bukan sekedar nostalgia belaka. “Marhaenisme merupakan jembatan dialektika untuk membongkar realitas struktural yang mengekang Gen Z, guna memandu aksi sosial generasi muda,” tambahnya, dihadapan para Gen Z yang antusias mendengarkannya.

Sementara pembicara lainnya, Bambang Eryudhawan (Yudha), menekankan pentingnya mempelajari kembali arsip-arsip tertulis maupun foto-foto terkait peristiwa Proklamasi. Ketika dicermati, arsip-arsip yang ada menunjukkan detil-detil narasi yang berbeda satu sama lain terkait tentang momen Proklamasi, meski tujuannya semua sama: untuk mendirikan bangsa Indonesia yang berdaulat tanpa kehadiran kekuatan kolonial.

Jurnalis: abri/rusman

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait