Jakarta, beritalima.com| – Di era modern saat ini, tren kuliner berubah dengan sangat cepat, makanan kekinian yang beraneka ragam datang dan pergi silih berganti membanjiri sudut-sudut ibu kota. Namun, di tengah gempuran pilihan makanan modern tersebut, ada sebuah kisah keteguhan dari seorang pria memilih setia mempertahankan keaslian rasa dengan membawa keliling berjualan Bakso Malang yang ia geluti sejak lama dengan sepeda motor.
Perjalanan ini tidak dilewati melalui jalan pintas, jauh sebelum era modern tiba. Pria ini memulai perjuangannya dari titik paling bawah, menggunakan sepeda tua di ibukota Jakarta. Ia mengayuh pedal membelah panas dan debu di pinggiran Jakarta Utara, mengetuk pintu demi pintu pemukiman untuk menjajakan Bakso Malang racikannya.
Dedikasi dan kesetiaannya pada rasa selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan kepercayaan. Kini, ia tidak lagi sekadar berkeliling secara mandiri, melainkan diberikan amanah besar untuk memimpin dan mengelola seluruh proses produksi Bakso Malang di pagi hari. Setiap fajar menyingsing, di tengah keterbatasan alat-alat produksi yang sudah tua dan dimakan usia, ia memimpin kerja sama tim untuk memastikan setiap butir bakso memiliki kualitas rasa tradisional yang tetap terjaga.
Ujian sesungguhnya beralih ketika waktu beranjak siang. Setelah tugas produksi selesai dengan rapi, ia bertransformasi menjadi pejuang jalanan. Dagangan bakso yang telah siap dialihkan ke sarana transportasi utamanya, sebuah motor yang kondisinya sudah memprihatinkan.
Bodi motornya sudah hancur dan pecah di banyak tempat, menyisakan besi-besi kerangka tua yang tampak ringkih, Di atas besi kerangka tua itulah, rombong Bakso Malang yang berat ditumpangkan. Mesinnya yang sering kali rewel dipaksa membelah padatnya jalanan demi mengantar dagangan sampai ke titik tujuan.
Lokasi atau Lapak tempatnya mengais rezeki bukanlah kedai mewah ber-AC, melainkan emperan pinggir jalan ibu kota. Di sinilah ia harus berkejaran dengan waktu dan keadaan, berjualan di fasilitas umum membuatnya harus rela hidup selalu berpindah-pindah tempat, Bayang-bayang penertiban dan penggusuran oleh petugas selalu mengintai setiap hari.
Ketika situasi tidak aman karena sering petugas keamanan (Pol PP) datang, dengan motor kerangka tuanya ia harus cepat-cepat mengemasi dagangan dan mencari petak jalan baru. Di tengah ketidakpastian itu, Bakso Malang buatannya tetap menjadi buruan karena keaslian rasanya yang tak lekang oleh zaman.
Kisah penjual Bakso Malang emperan ini memberi pelajaran berharga tentang esensi bertahan hidup. Hiruk pikuk era kekinian yang serba instan dan kompetitif tetap ia membuktikan kombinasi antara menjaga amanah produksi di pagi hari dan keberanian menghadapi kerasnya jalanan di siang hari dengan fasilitas seadanya adalah modal utama untuk tetap tegak berdiri.
Segala bentuk tantangan dihadapinya, untuk menyambung dan bertahan hidup. Untuk keluarganya, sahabatnya sesame penjaja Bakso Malang, serta untuk pelanggannya yang terus setia menanti di sejumlah ruas jalan.
Oleh: andaka permana, kontributor beritalima








