Menghargai Sejarah yang Terlupakan: Ketika Pahlawan Membutuhkan Kita

  • Whatsapp
Menghargai Sejarah yang Terlupakan: Ketika Pahlawan Membutuhkan Kita (foto: abri)

Jakarta, beritalima.com| – Di kediaman saya kawasan Setu, Cipayung Jakarta Timur pagi ini, udara dingin sisa semalam masih menyentuh kulit saat kaki melangkah ke teras. Terdengar kicauan burung bersahutan dengan samar bunyi sapu lidi menggesek lantai semen di halaman tetangga. Aroma tanah basah tertangkap indra penciuman sesaat setelah saya menyeduh teh hangat. Saya duduk sejenak di kursi kayu favorit, merasakan tekstur kayu yang kokoh dan dingin di bawah telapak tangan, sambil menikmati ketenangan sebelum rutinitas dimulai.

Pikiran saya pagi ini tertuju pada kabar tentang Pak Heru Baskoro. Beliau adalah putra dari pasangan pahlawan nasional Sayuti Melik dan S.K. Trimurti. Ayahnya adalah tokoh yang mengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sementara ibunya merupakan Menteri Perburuhan pertama di Indonesia sekaligus pejuang kemerdekaan nan gigih. Beliau lahir di Semarang pada 1942, dalam perjalanannya pernah meniti karier profesional di Amerika Serikat serta menjabat sebagai Direktur Keuangan di Trans Bakrie.

Kisah beliau membawa saya pada perenungan tajam. Istrinya, Treyzia Noviani, merupakan cucu dari tokoh pergerakan nasional KH Agus Salim, dengan setia mendampinginya melalui masa sulit setelah kembali ke Indonesia. Beliau diketahui telah menempati rumah kontrakan dua petak di kawasan Bojong Menteng, Rawalumbu, Kota Bekasi (Jawa Barat), selama kurang lebih satu tahun terakhir. Dengan kondisi kesehatan yang menurun akibat diabetes dan gangguan penglihatan, mereka bertahan di kontrakan tersebut dengan segala keterbatasan ekonomi.

Ironi Kebijakan di Ambang Senja

Kondisi Pak Heru dan istrinya yang hidup dalam keterbatasan akhirnya mendapatkan perhatian luas di media sosial. Merespons hal tersebut, pada 13 Juli 2026, pemerintah melalui Kementerian Sosial memindahkan keduanya ke Sentra Terpadu Pangudi Luhur di Bekasi Timur untuk mendapatkan penanganan dan pendampingan lebih layak.

Meski langkah ini patut diapresiasi, namun ironi tetap menyayat hati. Sepuluh tahun setelah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas disahkan, realitas menunjukkan, kita seringkali masih menunggu viralitas di media sosial agar negara hadir memberikan hak dasar bagi mereka yang berjasa besar.

Kita sering terlalu sibuk merayakan sejarah di buku teks sekolah, tapi gagal menghidupi nilai-nilai kemanusiaan bagi mereka yang mewariskan sejarah tersebut. Apakah kita harus menunggu seseorang kehilangan segalanya baru kemudian kita menyebutnya sebagai tragedi nasional? Pak Heru adalah cerminan dari bagaimana sistem sosial kita belum cukup tangguh melindungi mereka yang pernah membangun fondasi bangsa. Ini bukan sekadar masalah bantuan sosial, melainkan tentang kehadiran negara yang menjamin martabat manusia di masa senjanya.

Memanusiakan Manusia dalam Setiap Interaksi

Dalam dunia konsultasi yang saya geluti di PTP Sinergi Hadi Sejahtera, saya memegang teguh prinsip bahwa setiap interaksi adalah tentang memanusiakan manusia. Seringkali, orang datang bukan sekadar mencari solusi teknis, tetapi mencari mitra yang mau mendengar dan memahami hambatan tak terlihat. Kami belajar setiap tantangan selalu berakar pada kebutuhan mendasar untuk dihargai. Melayani adalah proses belajar untuk lebih peka terhadap apa yang tidak tampak oleh mata.

Pagi yang sunyi ini menuntut pertanyaan bagi kita semua. Sudahkah kita cukup peduli dengan sesama yang luput dari perhatian? Apakah kita sudah menjadi mitra yang benar-benar hadir, bukan hanya saat semuanya berjalan lancar, tetapi juga saat keadaan sedang sulit? Negara yang besar tidak diukur dari megahnya gedung yang dibangun, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan warga negara yang sedang berada di ambang senja.

Demokrasi Sejati di Ujung Nurani

Esensi demokrasi bukan sekadar ritual pemungutan suara setiap lima tahun sekali. Demokrasi adalah komitmen kolektif untuk memastikan tidak ada satu orang pun, apalagi mereka yang memiliki jejak sejarah bagi bangsa ini, yang dibiarkan berjuang sendirian melawan arus kesulitan hidup. Saat kita membiarkan seorang pejuang atau keluarganya hidup dalam keterasingan, kita sebenarnya sedang merobek identitas kita sendiri sebagai bangsa yang beradab.

Mari berhenti menunggu hingga seseorang berada dalam posisi yang sangat membutuhkan untuk memberikan uluran tangan. Mari kita mulai melihat, bukan dengan mata yang terbatas pada fisik, tetapi dengan mata hati yang mampu menembus tembok ketidakpedulian. Menghargai sejarah berarti menghargai manusia yang membawa sejarah itu di pundaknya, hingga napas terakhir mereka. Ini adalah ujian nyata bagi kemanusiaan kita di saat sekarang dan kedepannya.

Oleh: abdul hadi, wartawan netra beritalima

beritalima.com
beritalima.com beritalima.com beritalima.com

Pos terkait