Jakarta, beritalima.com| – Senin pagi 25 Mei ini, suara klakson bersahutan jauh di sana, berbaur dengan deru mesin bus kota lewati jalan besar. Udara pagi terasa agak lembap, sisa hujan semalam yang masih membekas tanah basah di luar rumah. Suasananya sunyi menenangkan. Rumah terasa lapang karena kami sekeluarga sedang menjalani ibadah puasa Arafah, sambut Hari Raya Idul Adha.
Tak ada aroma masakan dari dapur pagi ini. Tak ada gemerincing sendok beradu dengan piring sarapan. Saya duduk di meja makan kecil kami. Di sebelah kanan saya, terdengar suara gesekan kain ransel yang berat. Anak laki-laki saya berumur 12 tahun sedang bersiap ke sekolah. “Pak, Ma, Adek berangkat ya,” suaranya terdengar agak serak khas remaja tanggung, namun teguh sikapnya.
Saya mengulurkan tangan. Telapak tangannya mulai melebar mencium punggung tangan saya dengan takzim. Kulitnya terasa hangat. Meski harus bersekolah menempuh jarak lumayan mengayuh sepeda, dia bersikeras ikut berpuasa hari ini. Membayangkan tubuh bujang saya mengayuh pedal di tengah aspal Jakarta yang mulai memanas, sementara perutnya kosong, selalu membuat dada saya berdesir. Ada rasa bangga, sekaligus haru mendalam.
Ada masa depan yang harus dijamin bagi putra say aini. Tanggung jawab besar di setiap helaan napas saya sebagai seorang ayah. Saya merenung. Beberapa hari ini, gawai saya tidak berhenti bergetar karena notifikasi grup percakapan. Di sela-sela gawai yang membacakan pesan, lini masa penuh dengan riuh rendah perbincangan tentang pelemahan rupiah kian menekan. Kabar dari portal berita daring yang bersahutan di aplikasi pembaca layar saya sibuk menampilkan perdebatan para pengamat dengan istilah-istilah mentereng. Inflasi. Depresiasi. Sentimen global. Fluktuasi dollar.
Bagi saya yang tidak melihat angka-angka hijau merah di layar bursa (karena saya difabel netra), semua itu terasa abstrak. Jauh di awang-awang. Di rumah ini, kami memang tidak punya televisi untuk menonton atau sekadar mendengarkan riuh perdebatan itu secara langsung.
Riuh itu justru datang dari saku celana, lewat getaran berita yang terus bergulir. Sebagai orang yang menakhodai PTP Sinergi Hadi Sejahtera – sebuah PT Perorangan saya bangun dengan keringat sendiri untuk payung hukum usaha jasa di Jakarta – saya mulai merasakan getaran ketidakpastian itu.
Dunia makroekonomi yang rumit itu mendadak harus bertemu dengan biaya operasional harian yang mulai bergeser. Kemarin sore, saat menemani istri mencegat tukang sayur langganan di depan gang rumah, jemari saya merasakan sesuatu yang ganjil ketika ikut memilah beberapa ikat bahan makanan untuk persiapan Idul Adha.
Ikatan sayurnya terasa lebih tipis. Permukaan kentang yang saya pegang pun terasa lebih kecil dari biasanya. “Semua barang dari pasar induk sudah naik, Pak Hadi,” keluh pedagang sayur itu pelan, sembari menata ulang timbangannya. Uang belanja yang biasanya cukup, kini terpaksa dipangkas porsinya supaya para ibu tak kaget dengan harganya.” Istri saya di sebelah hanya bisa menghela napas panjang. Kami harus pintar-pintar memutar otak agar kebutuhan sekolah anak dan persiapan lebaran kurban tidak saling berbenturan.
Saya tertegun. Hal ini mengingatkan saya pada realitas di berbagai daerah. Petani di desa terpencil mungkin tak pernah pantau pergerakan kurs di gawai mereka setiap pagi. Nelayan di pesisir tak tahu apa itu pasar valas. Tapi mereka langsung merasakan dampaknya begitu harga pupuk mencekik leher, atau ketika solar dan suku cadang perahu mendadak menguras seluruh kantong celana mereka.
Ekonomi makro ternyata tak butuh mata untuk dilihat. Ia menyapa kami lewat porsi pedagang gerobak sayur keliling yang menyusut. Lewat pengeluaran sekolah anak yang merangkak naik, lewat biaya operasional usaha jasa saya yang kian mengetat. Dan,k lewat helaan napas berat orang-orang kecil yang bertahan di kota ini.
Ada keresahan yang mengendap. Seringkali, kebijakan-kebijakan ekonomi dirumuskan di ruang-ruang ber-AC yang dingin, penuh dengan tabel visual dan infografis yang indah. Mereka yang berada di atas sana sibuk menyelamatkan angka-angka.
Sementara di bawah sini, kami—para pelaku usaha mikro, para orang tua yang memikirkan masa depan anaknya—sibuk bertahan hidup dengan apa yang tersisa. Dalam gerakan disabilitas, kami punya kredo yang selalu dirawat: Nothing About Us Without Us—tidak ada sesuatu tentang kami, tanpa melibatkan kami.
Saya rasa, kredo itu tidak hanya berlaku untuk isu inklusivitas fisik atau aksesibilitas trotoar. Ia juga berlaku untuk urusan perut. Urusan kebijakan ekonomi. Bagaimana mungkin merumuskan ketahanan ekonomi jika suara dari balik gerobak sayur, dari bilik dapur keluarga kecil, atau dari para pelaku usaha akar rumput yang terseok-seok, tidak pernah benar-benar didengarkan?
Kebijakan yang lahir tanpa merasakan denyut nadi nyata hanya akan menjadi menara gading. Suara gesekan ban sepeda anak saya sudah benar-benar hilang tertelan bising jalan raya. Di hari puasa Arafah ini, di tengah refleksi dan doa-doa yang dipanjatkan di antara rasa lapar, rasa-rasanya doa kami semua hampir sama: meminta kekuatan untuk melewati masa-masa sulit ini.
Dunia sedang tidak baik-baik saja, dan kita semua mengetahuinya dengan cara kita masing-masing. Tanpa perlu melihat lembaran dolar atau layar televisi. Entahlah. Saya harus segera bersiap di depan laptop, ada usaha jasa yang harus tetap saya perjuangkan hari ini demi masa depan anak bujang yang sedang berjuang menembus jalanan Jakarta dengan sepedanya.
Oleh: abdul hadi, wartawan beritalima, difabel netra








