BANYUWANGI,Beritalima.com – Di tengah hiruk-pikuk Karnaval Kirap Budaya Desa Kebaman, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, ada satu pemandangan yang sederhana namun justru mencuri perhatian penonton. Sebuah barisan khusus tampil membawa bendera Merah Putih layaknya pasukan pengibar bendera pusaka.
Kehadiran barisan tersebut seolah membawa penonton kembali bernostalgia dengan suasana perayaan Agustusan pada masa lalu. Di tengah beragam kostum dan atraksi peserta karnaval, kibaran Merah Putih menjadi simbol yang terasa begitu kuat dalam suasana HUT Kemerdekaan RI ke-81.
Langkah para pembawa bendera yang berjalan tertib membuat sejumlah warga spontan memberikan perhatian. Bagi sebagian penonton, pemandangan tersebut bukan sekadar bagian dari karnaval, melainkan mengingatkan pada tradisi perayaan kemerdekaan yang dahulu begitu lekat dengan kehidupan masyarakat desa.
Hadi, salah seorang warga yang menyaksikan karnaval, mengatakan bahwa keberadaan pembawa bendera dalam kegiatan Agustusan sebenarnya merupakan tradisi yang sudah lama dikenal masyarakat.
“Kalau zaman dulu, setiap ada kegiatan karnaval Agustusan, pembawa bendera itu seperti wajib ada. Jadi ada barisan yang membawa Merah Putih, kemudian peserta mengikuti di belakangnya. Melihat sekarang ada lagi, saya jadi teringat masa dulu,” ujar Hadi.
Menurutnya, tradisi karnaval Agustusan di sejumlah desa kini mulai jarang ditemui. Padahal, kegiatan tersebut dahulu menjadi salah satu agenda yang paling ditunggu masyarakat setelah upacara kemerdekaan.
“Dulu karnaval Agustusan itu ramai sekali. Anak-anak, pemuda, orang tua semuanya ikut. Sekarang kegiatan seperti itu mulai jarang. Justru masyarakat lebih banyak mengembangkan acara dengan sound horeg karena memang sedang diminati,” jelasnya.

Meski demikian, Hadi tidak mempersoalkan perkembangan bentuk hiburan masyarakat. Menurutnya, setiap zaman memiliki cara sendiri dalam memeriahkan kemerdekaan. Namun, ia berharap tradisi lama seperti karnaval dengan barisan Merah Putih tetap dipertahankan.
“Sound horeg boleh berkembang, kegiatan modern juga tidak masalah. Tapi tradisi seperti karnaval, pembawa bendera dan semangat Merah Putih jangan sampai hilang. Karena di situlah anak-anak bisa belajar sejarah dan merasakan bagaimana suasana perayaan kemerdekaan,” katanya.
Ia menilai, kehadiran barisan pembawa bendera dalam Karnaval Desa Kebaman menjadi kejutan tersendiri bagi penonton. Di tengah kemeriahan musik dan beragam penampilan, kibaran Merah Putih justru memberikan pesan yang lebih dalam.
“Yang paling membuat saya bangga itu Merah Putihnya. Kita sedang merayakan kemerdekaan, jadi ketika ada barisan membawa bendera seperti ini rasanya benar-benar kembali ke suasana Agustusan zaman dulu,” ungkap Hadi.
Hadi berharap kegiatan Karnaval Kirap Budaya Desa Kebaman dapat terus digelar setiap tahun. Tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk menghidupkan kembali tradisi dan menanamkan rasa cinta tanah air kepada generasi muda.
Karnaval pun akhirnya bukan sekadar parade kostum dan hiburan. Kibaran Merah Putih di tengah barisan peserta menjadi pengingat bahwa di balik kemeriahan perayaan HUT RI, ada tradisi, sejarah dan semangat nasionalisme yang patut terus diwariskan.
Sebab, ketika Merah Putih kembali berjalan di tengah masyarakat, kenangan tentang Agustusan masa lalu pun ikut hidup kembali. (Rony//B5)







