BANYUWANGI,Beritalima.com – Di tengah riuh persoalan hutan yang tak pernah benar-benar usai, masih ada orang-orang yang memilih berjalan pelan menjaga rimba agar tetap hidup. Bukan dengan amarah, bukan pula dengan pendekatan kaku semata, melainkan lewat cara yang lebih manusiawi: merangkul.
Itulah yang kini dilakukan Wakil Administratur (Waka ADM) Sugeng di wilayah KPH Banyuwangi Selatan. Di bawah teduh pepohonan hutan yang membentang di selatan Banyuwangi, Sugeng memilih membangun kedekatan dengan masyarakat dan berbagai kelompok pecinta alam demi menjaga kelestarian hutan Perhutani agar tetap utuh dan terhindar dari pencurian maupun kerusakan lingkungan.
Baginya, hutan bukan sekedar hamparan pohon yang menghasilkan kayu. Lebih dari itu, hutan adalah penyangga kehidupan. Tempat air lahir, udara bersih berhembus, dan keseimbangan alam dijaga.
Karena itulah, Sugeng mulai membuka ruang komunikasi dengan berbagai perkumpulan penyayang hutan dan pegiat keseimbangan alam semesta yang tumbuh di wilayah KPH Banyuwangi Selatan. Salah satunya adalah komunitas Pendopo Semar Nusantara yang selama ini dikenal aktif menyuarakan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Pendekatan yang dilakukan Sugeng dinilai berbeda. Ia tidak hanya berbicara soal aturan dan pengamanan kawasan, tetapi juga mencoba menumbuhkan kesadaran bahwa hutan merupakan warisan yang harus dijaga bersama.
“Kalau masyarakat ikut merasa memiliki hutan, maka perlahan tindakan pencurian dan perusakan bisa ditekan. Karena yang menjaga bukan hanya petugas, tapi semua orang,” ujar Sugeng.
Di mata sebagian warga, langkah tersebut dianggap sebagai pendekatan yang lebih menyentuh sisi batin masyarakat. Sebab menjaga hutan tidak cukup hanya dengan papan larangan atau patroli rutin, melainkan juga lewat tumbuhnya rasa cinta terhadap alam.
Ketua Pendopo Semar Nusantara, Uny Saputra, menyambut baik langkah yang dilakukan Waka ADM KPH Banyuwangi Selatan tersebut. Menurutnya, alam semesta memiliki keseimbangan yang harus dirawat bersama.
“Hutan itu bukan hanya milik manusia hari ini, tetapi juga titipan untuk anak cucu. Ketika pohon ditebang sembarangan, saat itulah keseimbangan alam perlahan rusak. Bencana datang bukan semata karena alam marah, tetapi karena manusia mulai lupa cara menghormati bumi,” ucap Uny Saputra.
Ia menambahkan, menjaga alam tidak harus selalu dimaknai dengan hal besar. Menanam kepedulian, menghentikan pencurian kayu, hingga menjaga sumber mata air juga menjadi bagian dari merawat semesta.
“Kalau manusia mau bersahabat dengan alam, maka alam juga akan menjaga manusia. Itu hukum keseimbangan,” tambahnya.
Di tengah zaman yang terus bergerak cepat, langkah-langkah sederhana seperti merangkul komunitas pecinta hutan mungkin terlihat kecil. Namun dari cara itulah, harapan tentang hutan yang tetap hijau di Banyuwangi Selatan perlahan masih bisa dipertahankan. (Rony//B5)








